CSGS
Cakra Studi Global Strategis (CSGS) adalah lembaga riset yang terfokus pada kajian global & strategis di bawah naungan Departemen Hubungan Internasional Universitas Airlangga.
15/06/2024
Peneliti CSGS & Dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Airlangga Fadhila Inas Pratiwi mempublikasikan artikel opini berjudul "Urgensi Memperkuat Keamanan Siber" di Jawa Pos 14 Juni 2024. Fadhila menyoroti kerentanan keamanan siber di 🇮🇩 yang terindikasi dari semakin meningkatnya kriminalitas di ruang siber. Karena itu, 🇮🇩 perlu mengamankan ruang siber melalui pendekatan menyeluruh, mulai dari top-down hingga bottom-up.
08/06/2024
04/03/2022
[CSGS Lecture Series: Recent Development On Ukraine Situation]
Pada hari Rabu, 2 Maret 2022, Cakra Studi Global Strategis (CSGS) menyelenggarakan Lecture Series yang merupakan kelanjutan dari seri diskusi sebelumnya dengan topik bahasan “Recent Development On Ukraine Situation.” CSGS Lecture Series ini terbagi atas tiga segmen dan pokok bahasan utama, di antaranya; (1) perkembangan situasi terkini di Ukraina pasca 6 hari invasi Rusia; (2) tujuan utama Vladimir Putin di Ukraina; (3) respon NATO, Uni Eropa, dan AS terhadap konflik Rusia-Ukraina. Lecture series kali ini dimoderatori oleh Yohanes, Tim Research & Development CSGS. Diskusi berlangsung selama kurang lebih 90 menit dan dihadiri oleh lebih 130 peserta dari kalangan civitas akademik HI, hingga masyarakat umum.
Segmen pertama membahas mengenai perkembangan situasi terkini dari konflik Rusia-Ukraina. Diawali dengan pemaparan dari Radityo Dharmaputra, selaku Dosen Departemen HI UNAIR. Rusia terlihat semakin agresif di Ukraina dan menyebabkan eskalasi konflik dan ketegangan kawasan di Eropa Timur menjadi tak terhindarkan. Setidaknya ada empat hal krusial yang tak begitu banyak disorot oleh media internasional; (1) gelombang demonstrasi dalam skala besar yang terjadi di Rusia dan semakin melebar sebagai bentuk kecaman dan protes rakyat Rusia atas tindakan invasi Putin di Ukraina; (2) kecaman yang dilontarkan oleh elit-elit politik Rusia sebagai bentuk penentangan dari kebijakan invasi Putin di Ukraina, yang sebelumnya sangat jarang terjadi; (3) fenomena sosial yang terjadi terhadap komunitas Rusia di luar negeri, mereka secara serempak melakukan aksi pembakaran paspor sebagai bentuk kekecewaan mereka atas kebijakan invasi Putin di Ukraina; (4) potensi gelombang eksodus yang semakin besar, tercatat telah ada (ribuan) pengungsi di perbatasan Rusia-Ukraina.
Segmen kedua berfokus pada pembahasaan tujuan utama Vladimir Putin di Ukraina yang diklaim oleh beberapa pengamat politik internasional sebagai paradoks atau susah untuk ditafsirkan. Pembahasan tetap dipandu oleh Radityo Dharmaputra, selaku Dosen Departmen HI UNAIR. Pertanyaan yang sejak awal sangat sulit untuk dijawab secara pasti, karena memuat unsur ambiguitas posisi politis seorang Putin. Setidaknya ada empat posibilitas skenario; (1) jika tujuan utamanya adalah demiliterisasi, maka seharusnya langkah yang diambil Rusia adalah berlebihan, di saat Rusia dapat dengan strategis meletakkan pasukan di perbatasan sebagai upaya intimidasi; (2) jika yang dimaksudkan Putin adalah pendudukan Rusia atas Ukraina, maka itu adalah sebuah kesalahan besar, di saat Ukraina merupakan negara yang sangat luas dan bukan salah satu negara gagal di Eropa Timur dengan jumlah penduduk produktif yang sangat tinggi; (3) perspektif lain datang dari pengamat politik internasional yang menyatakan bahwa tujuan utama Putin di Ukraina adalah untuk menggulingkan rezim Volodymyr Zelensky, yang justru dinilai sangat tidak strategis karena hanya akan mendapatkan penolakan luar biasa dari masyarakat Ukraina dan berpotensi untuk melahirkan gelombang insurgensi; (4) jika tujuan Putin adalah untuk menguatkan popularitas politik identitasnya di kawasan domestik, maka sejak awal strategi yang digunakan adalah salah, karena Putin hanya akan mendapatkan kecaman dari dunia internasional dan memunculkan sentimen negatif terhadap Rusia.
Segmen ketiga berfokus pada pembahasan respon NATO, Uni Eropa, dan AS terhadap konflik Rusia-Ukraina. Pembahasan dipandu oleh Siti Rokhmawati Susanto, selaku Kepala Departemen HI UNAIR. Setidaknya terdapat dua premis pertanyaan yang diberikan oleh moderator; (1) apa perbedaan sanksi yang dijatuhkan oleh Barat terhadap Rusia dalam isu aneksasi Krimea oleh Rusia & invasi Rusia di Ukraina?; (2) seberapa signifikan pengaruh sanksi yang dijatuhkan oleh Barat terhadap Rusia?. Sejauh ini memang respon yang diberikan oleh NATO & Uni Eropa sangatlah di luar prediksi dengan memberikan dukungan dan bantuan yang sangat minimalis terhadap Ukraina. Secara de facto & de jeru memang Ukraina adalah negara berdaulat dan kebijakan invasi Rusia terhadap Ukraina adalah sebuah pelanggaran norma internasional. Tetapi hal tersebut tidak cukup kuat untuk menjelaskan bahwa NATO harus terlibat sepenuhnya dalam poros konflik Rusia-Ukraina, terlebih Ukraina adalah non-anggota (non-allies) yang justru hanya akan menciderai piagam NATO dan stabilitas regional di Eropa. Menjadi sangat rasional jika secara tiba-tiba Vlodymyr Zelensky mengajukan permohonan dalam keanggotaan Uni Eropa sebagai bargaining position untuk mendapatkan legitimasi penuh atas perlindungan secara militer di Eropa. Jika tidak ada langkah tegas dari Uni Eropa dan NATO secara praksis, Ukraina bisa saja akan berakhir seperti Suriah yang terjebak dalam lingkar proxy war. Terlebih strategi Rusia saat ini sangatlah menarik, dengan mengumpulkan pasukan pemberontak (Checnya & Belarusia) untuk membantu invasi Rusia di Ukraina dan sangat potensial untuk memperluas gerakan insurgensi di Eropa Timur. Sedangkan sanksi yang dijatuhkan oleh Barat terhadap Rusia atas pencaplokan Krimea terlihat tidak begitu signifikan, karena tidak sepenuhnya melumpuhkan perekonomian Rusia di saat Eropa sangat ketergantungan dengan importir energi Rusia. Adapun sanksi pemblokiran Bank Sentral Rusia menjadi terlihat signifikan, karena akan lebih banyak berdampak pada pertahanan ekonomi Rusia secara sistemik.
Selanjutnya pembahasan dipandu oleh Agastya Wardhana, selaku Direktur Pelaksana CSGS dengan fokus pembahasan posisi dan respons AS terhadap invasi Rusia di Ukraina. Sebuah perdebatan panjang ketika beranjak dari perspektif AS. Setidaknya ada empat argumentasi yang akan melatarbelakangi posisi AS; (1) komitmen AS secara tidak tertulis menyebutkan bahwa pasca perang dingin tidak akan melakukan ekspansi keanggotaan NATO; (2) komitmen AS terhadap Rusia dinilai merupakan bentuk kegagalan AS sebagai negara adidaya (superpower); (3) AS harus sangat berhati-hati dalam merespons konflik Rusia-Ukraina karena akan memperburuk skenario perang nuklir; (4) AS melalui kepemimpinan Joe Biden telah memilih posisi politik luar negerinya untuk berfokus pada China & Asia Pasifik, yang justru akan membuat AS terjebak dalam banyak kepentingan. Agastya Wardhana juga menambahkan, bahwa AS memang menerapkan kebijakan no fly zone di Ukraina akibat kalkulasi ketimpangan kekuasaan di Eropa Timur; jika satu pasukan saja diturunkan di Ukraina, maka Rusia akan menafsirkan itu sebagai deklarasi perang terhadap Rusia. Oleh sebab itu, sanksi yang diberikan harus memiliki tujuan yang jelas untuk memberikan dampak yang signifikan terhadap Rusia.
Pada sesi terakhir, terdapat pertanyaan yang sangat menarik dari Faisal; apakah invasi Rusia menjadi titik balik dari popularitas Vlodymyr Zelensky?. Pertanyaan dijawab oleh Radityo Dharmaputra bahwa memang invasi Rusia menjadi titik balik dari popularitas Zelensky. Menurut European Survey (2022), Vlodymyr Zelensky mengalami peningkatan popularitas pada level +91% dari yang sebelumnya adalah -31%. Hal itu didasari pada empati kolektif dari masyarakat Eropa dalam memberikan dukungan terhadap Ukraina dengan kepribadian patriotis Zelensky untuk ikut bertempur di medang perang. Kemudian moderator mempersilahkan masing-masing pembicara untuk memberikan closing mark sebagai kalimat penutup yang dapat disimpulkan melalui beberapa poin; (1) konstribusi Indonesia terhadap invasi Rusia atas Ukraina terkait konsistensi dalam penegakan kedaulatan negara sangat diharapkan; (2) Indonesia harus tegas dalam memposisikan dirinya; (3) yang dilakukan Rusia adalah sebuah pelanggaran hukum internasional; (4) merupakan tanggung jawab moral sebagai civitas akademik HI untuk melakukan edukasi terhadap masyarakat luas mengenai isu ini.
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Contact the school
Website
Address
Jalan Dharmawangsa Dalam
Surabaya
60286