Zeybe
22/06/2022
Busana yang dalam proses produksinya tidak menghasilkan sampah kain, dan selanjutnya kita akan sebut sebagai zero waste fashion.
Pada industri fashion, ketika seorang designer merancang suatu busana lalu membuat pola busana, yang selanjutnya pola tersebut dilakukan proses potong atau yang kita kenal sebagai cutting.
Pada proses inilah, peletakan pola menentukan banyaknya kain yang terbuang, kain sisa dari potongan pola ini biasa disebut sebagai kain perca. Faktanya ada 15% kain yang terbuang saat proses cutting tersebut dilakukan.
Coba hitung saja, misalkan, dalam satu busana membutuhkan kain sebanyak 3 meter, lalu ada 15% kain perca yang dihasilkan dari 3 meter kain tersebut, kita hitung dalam bentuk centimeter ya...
1 meter = 100 cm
3 meter = 300 cm
lalu 15% dari 300 cm adalah 45 cm.
Ini dari satu busana saja, berapa banyak busana yang dibutuhkan oleh satu orang, dua orang, hingga jutaan orang?
Jika begitu berapa banyak kain perca yang dihasilkan.
Hanya sekitar 20% kain perca dapat didaur ulang, selebihnya tentu saja masuk dalam tempat pembuangan akhir.
Selama 100 tahun, dari tahun 1900 hingga tahun 2000, pola busana tidak banyak berubah, peletakannya masih sama, baik rumahan maupun dalam bidang industri. (Lihat gambar pertama dan kedua)
Teman-teman pernah bermain jigsaw puzzle?
Pada pola zero waste, para designer mengusahakan peletakan pada setiap kepingan pola pada busana mengunci-klop satu sama lain, seperti pada bentuk kepingan jigsaw puzzle, sehingga hasil akhir polanya adalah persegi atau persegi panjang, hal ini menekan banyaknya kain yang terbuang, sebab tidak ada celah pada setiap kepingnya. (Lihat gambar ketiga)
Kampuhnya bagaimana?
Kampuh sudah termasuk di dalamnya selebar 1 cm.
Sumber :
✓ Timo Risannen pattern
http://zerofabricwastefashion.blogspot.com/2009/09/hoodie-attempt-to-explain.html?m=1
✓ Look at this... 👀 https://pin.it/2b3A89B
✓ Kelas ibu Aryani Widagdo Creativity Nest
21/06/2022
Zero waste fashion
Awalnya kami mengira bahwa untuk mengurangi limbah sampah dalam usaha di bidang fashion, adalah cukup dengan memilih kain yang ramah lingkungan (biodegradable >> terurai secara hayati), dan dengan pemilihan bahan packaging yang juga ramah lingkungan.
Ternyata itu tidak cukup. Setelah kami menelisik lebih lanjut mengenai zero waste fashion, tujuan utamanya adalah menghilangkan 100% limbah kain dalam proses produksi. Proses produksi ini meliputi, pemilihan bahan kain (fabric), pembuatan pola pakaian (making pattern), memotong kain (cutting), dan proses menjahit (sewing).
Faktanya dalam industri fashion, ada 15% kain terbuang selama fase pemotongan, berawal dari design pakaian tersebut dibuat dan peletakan pola.
Konsep zero waste fashion, bukanlah hal yang baru, melainkan konsep yang terlupakan. Ini disebabkan karena revolusi industri yang membuat meningkatnya pemintalan kapas menjadi kain dengan mesin, adanya banyak kain baru dengan bahan sintetis yang tidak ramah lingkungan, munculnya fast fashion dengan hanya memikirkan trend dan harga murah tanpa memperhatikan dampak lingkungan dan kualitas dari pakaian yang dikenakan.
Kita bisa memulai dari hal kecil di hadapan kita. ❤️
Next kami akan membahas mengenai pola tradisional dengan pola zero waste fashion. 🙏
15/04/2022
Masya Allah, datang lagi sampel fabric. Ini organic ya, sudah ISO/TR & Aeko Tex 100 Certified.
Insya Allah produk menggunakan bahan kain hingga packaging yang ramah lingkungan dan biodegradable ❤️
Mengapa memilih kain berbahan ramah lingkungan, sebab selain feelnya lebih nyaman, lebih breathable, tidak merusak lingkungan baik proses pembuatan kain hingga proses terurainya nanti jika sudah tidak dapat digunakan, serat kainnya lebih halus, 5x lebih adem jadi nyaman buat anak-anak sekalipun, no more "sumuk sumuk" again 🤭
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Telephone
Website
Address
Sukoharjo
57563
Opening Hours
| Monday | 08:00 - 17:00 |
| Tuesday | 08:00 - 17:00 |
| Wednesday | 08:00 - 17:00 |
| Thursday | 08:00 - 17:00 |
| Friday | 08:00 - 17:00 |
| Saturday | 08:00 - 13:00 |