PARADE AGENCY SOLOK

PARADE AGENCY SOLOK

Share

Karena itu akan merubah Peradaban...

21/04/2025

Koran, mediacetak menjadi pedoman yang 'masih' dibutuhkan.

Di pagi yang lengang, loper letakan koran di atas meja sarapan depan rumah dan saya pun membuka halaman koran dengan bunyi khas; kresek kertas menggesek udara, aroma tinta yang tak tergantikan oleh layar ponsel. Rasanya seperti membuka pintu rumah masa kecil —akrab, hangat, namun terasa jauh.
Koran zaman sekarang makin tipis, iklannya pun makin sedikit. Makin jarang saya melihat 'orang moderen' membaca atau beli koran di pinggir jalan, di halte, di stasiun, juga di tempat lain.
Pertanyaan yang terus menghantui: apakah media cetak sedang sekarat? Atau ia hanya menua dengan anggun, menunggu bentuk barunya sendiri?
Hari ini, orang membaca berita dengan cara menggesek layar, bukan membukabalik halaman. Notifikasi pun lebih cepat dari detik jam, dan headline kini bersaing dengan meme, thread di X, dan video ringan di TikTok.
Di tengah gegap gempita digital, koran terasa seperti surat dari masa lalu. Dilirik sebentar, lalu ditinggal berserakan.
Tapi tunggu dulu. Bukankah sesuatu yang lambat itu tak selalu usang?
Kadang, yang pelan justru menyimpan kedalaman.
Kadang, yang dilupakan adalah yang kita butuhkan diam-diam.
Dalam buku “Breaking News : The Remaking of Journalism and Why It Matters Now” (2018), Alan Rusbridger —mantan pemimpin redaksi The Guardian —menulis bahwa jurnalisme sedang berada di antara dua kutub: bisnis dan kepercayaan.
Mediacetak, yang pernah menjadi simbol otoritas dan keandalan, kini terjepit di antara pendapatan iklan yang menguap dan pembaca yang pindah ke dunia daring.
Ironisnya, justru di tengah kelelahan digital —di mana berita datang terlalu cepat untuk dicerna —muncul kerinduan terhadap yang lambat dan bermakna.
Di sinilah media cetak, atau lebih tepatnya 𝙨𝙡𝙤𝙬 𝙟𝙤𝙪𝙧𝙣𝙖𝙡𝙞𝙨𝙢, mendapatkan ruang tersendiri. Bukan sebagai pesaing berita cepat, tapi kehadirannya sebagai penyeimbang.
Seorang jurnalis senior pernah berkata, “Kita bukan sekadar pencatat kejadian, kita adalah penjaga akal sehat publik.” Tapi bagaimana menjaga akal sehat kalau semua berita diburu demi klik, bukan demi kebenaran?
Media cetak—dengan segala keterbatasannya —masih menyimpan ritual jurnalistik yang sakral: riset, jeda, editor yang menyunting dengan cermat, dan waktu terbit yang memberikan ruang berpikir. Seperti masakan yang dimasak pelan, bukan instan. Ia tak hanya memberi informasi, tapi juga rasa -dipercaya.
Dan memang, ada yang memilih tetap setia. Lihat koran 𝙅𝙖𝙬𝙖 𝙋𝙤𝙨, 𝙆𝙤𝙢𝙥𝙖𝙨, 𝙈𝙚𝙙𝙞𝙖 𝙄𝙣𝙙𝙤𝙣𝙚𝙨𝙞𝙖, 𝙍𝙖𝙠𝙮𝙖𝙩 𝙈𝙚𝙧𝙙𝙚𝙠𝙖, 𝙏𝙝𝙚 𝙉𝙚𝙬 𝙔𝙤𝙧𝙠𝙚𝙧, 𝙈𝙤𝙣𝙤𝙘𝙡𝙚—semua tetap mencetak, bukan karena keras kepala, tapi karena mereka tahu bahwa sebagian pembaca tidaklah mencari kecepatan, tapi kedalaman.
Sebagian dari kita masih ingin tetap membaca, bukan sekadar mengonsumsi dikte narasi audiovisual.
Kita tentu tak bisa menutup mata; media cetak akan terus tergerususut. Tak semua bisa bertahan. Banyak yang akan hilang, seperti lapak koran yang kini berganti warung, kedai kuliner hingga penjualan paket pulsa. Dan itu bukan aib. Karena setiap zaman punya mediumnya, tapi tidak semua medium mampu menjaga marwah jurnalisme.

Apakah media cetak akan mati?
Mungkin iya, dalam bentuk lamanya. Tapi bisa jadi, ia akan bermutasi hidup dalam bentuk baru: cetakan edisi khusus, sebagai artefak budaya, atau sebagai simbol perlawanan terhadap kebisingan digital.
Bagi wartawan muda, ini bukan ajakan untuk menulis dengan mesin tik atau bercita-cita jadi editor deadline di halaman depan.
Ini adalah undangan untuk menulis perlahan tapi pasti.
Untuk merawat empati, bukan sekadar algoritma.
Untuk membangun narasi, bukan hanya memuntahkan fakta.
Karena seperti kata Ryszard Kapuściński, “Good journalism is not about speed, but about understanding.” Dan itu tak akan pernah kedaluwarsa, di kertas ataupun di layar.
Jadi, apakah media cetak akan jadi bagian dari sejarah jurnalistik?
Tentu saja—sejarah yang layak dikenang, bukan dikubur.
Siapa tahu, dari sejarah itulah kita bisa belajar;
bahwa dalam dunia yang semakin cepat, wartawan yang mampu berhenti sejenak adalah mereka yang bisa melangkah paling jauh. (*/WICAK)

Want your business to be the top-listed Shop in Solok?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Telephone

Address


Lantai Dasar Blok B No. 55 PASARAYA SOLOK
Solok
27322

Opening Hours

Monday 08:00 - 17:00
Tuesday 08:00 - 17:00
Wednesday 08:00 - 17:00
Thursday 08:00 - 17:00
Friday 08:00 - 17:00
Saturday 08:00 - 17:00
Sunday 08:00 - 17:00