Santri Raudlatul Ulum
10/03/2022
TEKNIK SHALAT KHUSYUK DAN TAWAJJUH
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani pada penutup Surah Al-Fatihah dalam Tafsir Al-Jailani mengatakan: “Wahai para pengikut Muhammad yang selalu menuju pengesaan Dzat, semoga Allah memudahkan urusanmu, hendaklah engkau merenungkan tujuh samudera yang meliputi tujuh ayat yang diulang-ulang dalam Al-Qur`an Al-Azhim yang merupakan cabang dari tujuh sifat Dzat Ilahi yang setara dengan tujuh lapis langit dan tujuh bintang semesta.
Renungkanlah ayat-ayat ini dengan sungguh-sungguh, lalu jadikanlah dirimu seperti yang dilambangkan di dalamnya, niscaya engkau akan selamat dari tujuh jurang jahanam yang menghalangi manusia mencapai surga Dzat, yang menjadi tempat musnahnya semua atribut dan keberbilangan.
Tentu saja perenungan dan tadabur seperti itu tidaklah mudah bagi mu kecuali setelah engkau membersihkan lahiriahmu dengan syariat Rasulullah yang bersumber dari Al-Qur`an, serta membersihkan batiniahmu dengan mengikuti akhlak Rasulullah SAW yang berasal dari kandungan Al-Qur`an. Karena Al-Qur`an adalah yang menjadi penyatu kedua sisi akhlak Rasulullah, lahir dan batin; serta turun dari Rabb-nya yang telah menunjuknya sebagai khalifah di bumi.
Al-Qur`an adalah akhlak Allah yang diturunkan kepada nabi-Nya. Maka siapapun yang berakhlak dengan Al-Qur`an, pasti akan beruntung seperti beruntungnya Rasulullah SAW. Itulah sebabnya Rasulullah bersabda: "Berakhlaklah kalian dengan akhlak Allah",karena memang itulah yang diingatkan di dalam Al-Qur`an.
Surah al-Fathihah menjadi bagian paling terpilih dari seluruh isi al-Qur`an dengan bentuk yang paling gamblang dan pemaparan yang paling jelas. Siapapun yang merenungi surah ini pasti akan mendapatkan apa yang dapat didapatkannya dari seluruh isi Al-Qur`an. Itulah sebabnya surah ini wajib dibaca ketika hamba bertawajuh kepada Dzat Tunggal yang oleh syariat disebut dengan istilah "shalâh". Shalat merupakan mi'raj bagi mereka yang menuju kepada-Nya, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW: "Shalat adalah mi'raj orang mukmin." Rasulullah juga bersabda: "Tidak sah shalat kecuali dengan membaca Fâtihah al-Kitâb."
Oleh sebab itu, maka bagi engkau yang sedang melakukan shalat dengan menghadap ke arah ka'bah yang sejati atau kiblat yang asli, hendaklah engkau melaksanakan shalat wajib dengan tekun yang dapat mendekatkan Anda kepada kiblat sejati, sehingga engkau dapat meraih hikmah dan rahasia-rahasia yang terkandung di penetapan kewajiban shalat oleh syariat. Karena jika engkau ingin mendekatinya atau menghadap ke pintu kiblat sejati itu, engkau harus terlebih dulu berwudhu dan menyucikan diri dari segala kotoran baik yang lahir maupun yang batin.
Kemudian engkau harus membersihkan dirimu dari segala bentuk syahwat, sehingga engkau akan dapat memulai takbiratul ihram tanpa waswas setan yang membaca hawa nafsu yang menyesatkan. Ketika Anda merapalkan takbiratul ihram, ingatlah bahwa engkau telah mengharamkan terhadap dirimu segala kehidupan dunia yang engkau miliki:
Bacaan "Allahu akbar" harus engkau perhatikan maknanya. Yaitu bahwa Dia adalah Dzat Mahaagung Mahabesar di dalam Dzat-Nya yang tidak dinisbahkan kepada yang selain Dia, karena mereka tidak ada yang selain Dia. Lakukan ini sebagai karaktermu, bukan untuk mencari keutamaan. Jadikanlah ia sebagai pusat dari konsentrasimu dan inti dari semua tujuan yang engkau inginkan.
Ketika engkau merapalkan "bismillâh" demi mencari anugerah dan berkah, maka gerakkanlah hasrat dan mahabah engkau hanya kepada Allah.
Ketika engkau merapalkan "ar-rahmân", engkau sedang menghirupnya dari nafas kasih sayang Allah yang akan membantu engkau untuk naik ke sisi-Nya.
Ketika engkau mengucapkan "ar-rahîm", Anda merasa nyaman dengan embusan kelembutan dan semilir rahmat-Nya. Engkau datang dengan maqam memohon kelembutan Allah SWT sembari menghitung nikmat yang sudah Dia berikan kepada Anda.
Ketika engkau bersyukur atas nikmat Allah dengan merapalkan "al-hamdulillâh", engkau telah bertawasul kepada-Nya dengan bersyukur atas nikmat-Nya.
Ketika engkau merapalkan "rabb al-'âlamîn", engkau mengakui sepenuhnya atas kemencakupan, kemeliputan, dan pelantanan-Nya terhadap seluruh semesta.
Ketika engkau merapalkan "ar-rahmân", engkau memohon keluasan rahmat Allah dan keumuman kasih sayang-Nya. Ketika engkau merapalkan "ar-rahîm", engkau selamat dari azab yang pedih berupa sikap berpaling kepada yang selain Allah yang Mahabenar. Engkau telah sampai kepada-Nya setelah sebelumnya terpidah dari-Nya. Bahkan engkau telah berhubunganya dengan-Nya.
Ketika engkau merapalkan "mâliki yaum ad-dîn", engkau telah memutuskan hubungan dengan asbâb (kausalitas) secara mutlak dan engkau teguhkan maqam kasyf (penyingkapan) dan syuhûd (kesaksian). Ketika tampak kepada engkau sesuatu yang tampak bagi engkau, maka di maqam itu engkau boleh berkata dengan segenap jiwa-raga: "Iyyâka na'buku", hanya kepada-Mu kami menyembah; "wa iyyâka nasta'în", hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.
Ketika engkau merapalkan "ihdina-sh-shirâth al-mustaqîm", engkau telah meneguhkan maqam ubudiyyah (penghambaan).
Ketika Anda merapalkan "shirath al-ladzîna an'amta 'alaihim", engkau telah meneguhkan maqam al-jam' (penyatuan).
Ketika engkau merapalkan "ghair al-maghdhûb 'alaihim", engkau telah menyatakan takut dari kekuatan kekuasaan sifat-sifat Allah yang agung.
Ketika Anda merapalkan "walâ adh-dhâllîn", Anda menyatakan takut mundur lagi setelah sampai di tujuan.
Ketika engkau merapalkan "âmîn", engkau telah aman dari setan yang terkutuk. Hendaklah engkau shalat dengan cara seperti yang disebutkan di atas, agar shalat engkau dapat menjadi mi'raj ke puncak Dzat Tunggal dan tangga menuju Langit Keabadian; serta dapat menjadi kunci bagi khazanah azali yang abadi. Semua itu tentu tidaklah mudah kecuali setelah engkau mampu mematikan keinginan engkau dari berbagai bentuk tuntutan sifat-sifat kemanusiaan dan berakhlak dengan akhlak yang diridhai serta sifat terpuji.
Kecenderungan hati seperti ini tidak akan pernah engkau raih kecuali setelah engkau melakukan uzlah melarikan diri dari orang-orang yang tenggelam dalam kealpaan serta memutuskan diri dari mereka dan dari gangguan berikut adat-kebiasaan mereka yang buruk. Kalau itu tidak dapat engkau lakukan, maka tabiat manusia selalu ingin mencuri, penyakit selalu menyerang, dan nafsu selalu mendorong ke arah keburukan serta jauh dari sang Maula. Semoga Allah melindungi kita dari kejahatan nafsu serta menyelamatkan kita dari tipu-dayanya melalui anugerah-Nya.”
--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Tafsir Al-Jailani, terj.Tim Markaz Al-Jailani.
06/01/2021
WASPADA FENOMENA AKHIR ZAMAN
1. Banyak rumah semakin besar, tapi keluarganya semakin kecil.
2. Gelar semakin tinggi, akal sehat semakin rendah.
3. Pengobatan semakin canggih, kesehatan semakin buruk.
4. Travelling keliling Dunia, tapi tidak kenal dengan tetangga sendiri.
5. Penghasilan semakin meningkat, ketentraman jiwa semakin berkurang.
6. Kualitas ilmu semakin tinggi, kualitas emosi semakin rendah.
7. Jumlah manusia semakin banyak, rasa kemanusiaan semakin menipis.
8. Pengetahuan semakin bagus, kearifan semakin berkurang.
9. Perzinahan semakin marak, kesetiaan semakin punah.
10. Semakin banyak teman di dunia maya, tapi tidak punya sahabat yang sejati.
11. Minuman semakin banyak jenisnya, air bersih semakin berkurang jumlahnya.
12. Pakai jam tangan mahal, tapi tak pernah tepat waktu.
13. Ilmu semakin tersebar, adab dan akhlak semakin lenyap.
14. Belajar semakin mudah, Guru semakin tidak dihargai.
15. Teknologi informasi semakin canggih, fitnah dan aib semakin tersebar.
16. Orang yang rendah ilmu banyak bicara, orang yang tinggi ilmu banyak terdiam.
17. Tontonan semakin banyak, tuntunan semakin berkurang. Akhirnya tontonan yang kurang baik, kurang mendidik berkembang jadi tuntunan. Sehingga yang Rusak Makin tambah Rusak.
Semoga kita menyadarinya dan berbenah diri dengan Perkembangan Zaman Now yang begitu memprihatinkan.
Semoga kita semua tetap berada didalam lindungan Allah Subhanahu wa ta'ala… 😇
😇 ﺁَﻣِﻴـٍـِـﻦْ ... ﺁَﻣِﻴـٍـِـﻦْ ... ﺁَﻣِﻴـٍـِـﻦْ ﻳَﺂﺭَﺏْ ﺁﻟٌﻌَﺂﻟَﻤِِﻴِﻦْ 😇
17/10/2020
..SOMBONG TERSELUBUNG..
Seorang pria yang sedang bertamu di rumah seorang Kyai tertegun heran, ketika melihat Sang Kyai sedang sibuk bekerja sendiri menyikat lantai rumahnya sampai bersih.
Pria itu bertanya:
Apa yang sedang Kyai lakukan ?
Pak Kyai menjawab dgn Tersenyum :
Tadi saya kedatangan tamu yang meminta nasihat.
Saya berikan banyak nasihat yg bermanfaat.
Namun, setelah tamu itu p**ang saya merasa jadi orang hebat.
Kesombongan saya mulai muncul,
Oleh karena itu, saya lakukan PEKERJAAN INI untuk membunuh perasaan SOMBONG itu,
SOMBONG adalah PENYAKIT HATI yang sering menghinggapi kita semua,
Siapa saja dan apapun statusnya, orang awam atau TOKOH AGAMA bisa juga dihinggapi penyakit sombong ini,
Bahkan di kalangan para PENGKOTHBAH pun benih benih kesombongan kerap muncul tanpa mereka sadari,
Ditingkat ke-1:
SOMBONG disebabkan oleh *FAKTOR MATERI*, di mana kita merasa :
~ Lebih kaya,
~ Lebih berkuasa,
~ Lebih tinggi jabatan,
~ Lebih rupawan &
~ Lebih terhormat daripada orang lain.
Ditingkat ke-2 :
SOMBONG disebabkan oleh *FAKTOR KECERDASAN*, kita merasa :
~ Lebih rajin
~ Lebih pintar
~ Lebih kompeten
~ Lebih berpengalaman
~ Lebih berwawasan dibandingkan dengan orang lain.
Ditingkat ke-3:
SOMBONG disebabkan oleh *FAKTOR KEBAIKAN*, kita sering menganggap diri kita:
~ Lebih bermoral
~ Lebih pemurah
~ Lebih banyak amalnya
~ Lebih bersemangat berjuang dan beribadah
~ Lebih banyak kontribusinya untuk umat.
~ Lebih besar dari orang lain berdasarkan apa yang sudah dicapai, seraya meremehkan orang lain dengan menganggapnya orang kecil.
~ Lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.
Yang menarik...., Semakin Tinggi tingkat KESOMBONGAN kita, semakin sulit p**a kita mendeteksinya.
SOMBONG karena MATERI mudah terlihat.
Namun,
SOMBONG karena PENGETAHUAN, apalagi SOMBONG karena KEBAIKAN, SULIT DILIHAT,
Karena, ....
seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita,
Sepertinya setiap hari kita perlu melakukan INTROSPEKSI diri,
Kadang kita butuh orang lain utk mengintrospeksi diri, kita juga butuh kritikan dan masukan dari orang lain.
yuuuk.. kita sadari bahwa setiap hal yang baik, yang bisa kita lakukan itu semua atas izin dan pertolonganNya, supaya kita banyak bersyukur,.Semua itu Anugerah,
KESOMBONGAN hanya akan membawa kita pada KEHINAAN DIRI dan KEJATUHAN yang mendalam,
Ketika lahir, dua tangan kita kosong, ketika meninggal kedua tangan kita juga kosong...
Waktu datang kita tidak membawa apa apa, waktu pergi kita juga tidak membawa apapun,
Tidak perlu sombong karena kaya dan berkedudukan,
Jangan minder karena miskin dan rendah,
Kita semua hanyalah tamu didunia ini, pada waktunya, semua milik kita hanya titipan, sewaktu2 akan diambilNya
TETAP RENDAH HATI, seberapapun tinggi kedudukan kita,
TETAP PERCAYA DIRI seberapapun kekurangan kita,
HANYA SATU KEPUNYAAN KITA yang bukan pinjaman, yg akan kita bawa kemana pun kita pergi,..PERBUATAN..
13/06/2020
MENGAPA SETAN TIDAK TERUSIR WALAU KITA BERZIKIR?
Imam Al Ghazali ditanya oleh seseorang
"bukankah setan dapat terusir oleh zikir ?
Saya selalu berzikir, tapi mengapa setan tak pernah terusir?
Imam Al Ghazali menjawab,
Setan itu seperti anjing kalau kita hardik, anjing itu akan lari menyingkir. Jika di sekitar diri kita masih terdapat makanan anjing, niscaya anjing itu tetap akan datang kembali. Bahkan, anjing itu akan selalu mengintai diri kita dan ketika kita lalai, ia akan menghampiri dan memakan makanan itu."
Begitu p**a halnya dengan zikir, zikir tidak akan bermanfaat bila di dalam hati kita masih kita sediakan makanan-makanan setan.
Ketika sedang memburu makanan, SETAN tidak akan takut di bentak dengan zikir apapun.
Pada kenyataannya, bukan setan yang menggoda kita, tetapi kitalah yang menggoda setan dengan berbagai penyakit hati yang kita derita ;Sombong, Dengki,Hasut,Ghibah dan Riya'.
Kita harus membersihkan "KOTORAN " dalam hati yang kita tanam melalui perilaku kita yang tercela. Jika tidak segera dibersihkan, kotoran itu suatu saat akan menjadi terlalu tebal untuk kita bersihkan.
Jangan Lupa pake MASKER saat beraktivitas diluar rumah ya lurr..
Cb posting dikolom komentar, masker unik apa yg kalian pake..
11/06/2019
GUS BAHA' : INDONESIA TERTINGGI KELASNYA DI DUNIA.
Nabi Muhammad saw diajarkan oleh Allah dengan diberikan kisah-kisah nabi terdahulu supaya Nabi Muhammad mendapatkan pelajaran tentang bagaimana bersikap dan mempelajari sejarah.
Dengan begitu, jalur pemikiran dan sikap Nabi Muhammad serta nabi-nabi yang lain selalu sama.
Kesamaan metodologi berpikir yang diajarkan Al-Qur’an dengan mengisahkan nabi terdahulu kepada Nabi Muhammad merupakan salah satu bentuk pertalian sanad yang menyambung Nabi satu dengan nabi yang lain menyambung secara gagasan dan sikap.
KH Bahaudin Nur Salim, asal Rembang, Jawa Tengah, atau yang akrab disapa Gus Baha’ memaparkan sebuah bukti melalui contoh sikap kiai alumni-alumni pesantren.
Sejak ia jadi santri sudah mendapat contoh perilaku kiai di atasnya. Bagaimana kiai tersebut menyikapi satu masalah, akan ditiru santrinya bahkan sampai santrinya tersebut menjadi kiai.
Sebagai contoh, seorang kiai pada saat melihat ada orang mabuk di pinggir jalan. Sekeras apa pun pandangan kiai NU, jika melihat orang mabuk di pinggir jalan, kiainya hanya membaca istighfar atau mendoakan, bukan bereaksi dengan cara memukul orang yang sedang mabuk.
Tradisi tersebut kemudian menjadi turun-menurun kepada santri,
Santrinya kepada santri di bawahnya. Santrinya kelak saat jadi kiai, akan meniru sikap kiainya.
Inilah yang disebut dengan pertalian sanad.
Dahulu saat zaman Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari, perbedaan identitas antara “orang hijau” (Islam taat) dan “orang abangan” sangat tampak, namun tidak ada catatan sejarah Mbah Hasyim memukul atau menyerang orang mabuk.
Kita ditradisikan oleh guru-guru kita dalam memberantas kemungkaran itu dengan hikmah dan mauidhah hasanah. Kita lebih memilih tradisi doa:
اللهم اهد قومي فانهم لا يعلمون
Artinya: “Ya Allah, semoga Engkau beri petunjuk kepada kaumku. Sesungguhnya mereka tidak tahu.”
Kiai-kiai bijak itu, sebagai orang alim, bukan tidak mengerti bahwa kemungkaran harus diberantas.
Namun, menurut sanad perilaku memang metodologinya tidak dengan cara keras.
Mungkin ini berbeda dari kebanyakan orang Arab.
Saat melihat kemungkaran, mereka (Arab) bereaksi dengan cara keras seketika. Jangankan kepada peminum, kepada sesama Muslim yang tidak sealiran saja bisa saling bunuh. Yang terjadi, orang Sunni menghalalkan darahnya orang Syi’ah, begitu p**a sebaliknya.
Kitab-kitab fiqih klasik pesantren justru banyak mengomentari tentang kehalalan darah orang yang berbeda aliran, tapi di Indonesia tidak dijalankan sebab tidak mempunyai tradisi atau sanad menjalankan keterangan tersebut.
Gus Baha’ bercerita, “Kami kalau sedang bertahajud, mengirim fatihah kepada para wali seperti Wali Songo dan lain sebagainya. Kami ingat bahwa Islam mempunyai sumber utama Al-Qur’an dan hadits. Namun kenyataan di lapangan tetap berimprovisasi atau berkembang sesuai karakter siapa yang mendakwahkan Islam di satu tempat di mana Islam itu berkembang.”
Di India pernah terjadi bentrok besar-besaran pada masa Abu al-A’la al-Maududi di bawah kepemimpinan Muhammad Iqbal sehingga India pisah dengan Pakistan dan selanjutnya Pakistan menjadi negara Islam.
Hal ini berawal karena konseptor negara Pakistan adalah orang-orang yang tidak setuju dengan negara sekuler yang memisahkan diri dari India. Di kemudian hari, akhirnya memang Pakistan menjadi negara Islam. Islam menjadi ideologi negara.
Di negara-negara Timur Tengah, formalisasi Islam ke dalam negara lebih banyak menimbulkan kekacauan.
Banyak orang Iran yang berideologi Syiah menganggap darah orang Sunni halal.
Begitu p**a sebaliknya di Irak.
Irak di bawah kepemimpinan Sadam Husain, banyak orang Syiah dan suku Kurdi dibantai.
Era Saddam kalah, kelompoknya pun menjadi target sasaran balik.
Arab Saudi saat ingin menjadikan Wahabi sebagai ideologi negara, secara besar-besaran mereka membuang orang Sunni.
Begitu p**a yang terjadi di Sudan, Khortum, Dalfur, hingga Sayyid Qutub sebagai tokoh muslim populer, dan meninggalnya bagaimana saja tidak jelas, padahal mereka ini Islam semua. Berbeda mazhab bisa menjadikan saling bunuh.
Masyarakat Indonesia paling tinggi kelasnya, hanya berhenti sampai pada level polemik soal pendapat saja, tidak lebih.
Kita harus bersyukur karena mempunyai tradisi konflik terbaik di dunia.
Badan Koordinasi Stabilitas Nasional (Bakorstanas) di Indonesia harusnya berterima kasih sebanyak-banyaknya kepada para ulama kita yang tidak sampai mentradisikan perang.
Kalau kita lihat peran Ikhwanul Muslimin di Mesir, mereka bisa memicu kekacauan yang luar biasa.
Sebagai orang pesantren, kita tahu banyak sejarah perselisihan pendapat, misalnya antara Kiai Imam dengan Kiai Zubair, Kiai Maemun dengan kiai lain. Walaupun mereka berbeda pandangan, paling keras hanya sampai pada level adu statemen dengan tamu-tamu yang datang saja, tidak sampai ada pertumpahan darah.
Itulah kenapa kita menjadi punya “tradisi konflik” terbaik di dunia.
Kita lihat bagaimana orang NU marah pada saat Gus Dur dilengserkan dari presiden. Tensi marah tertingginya orang NU, tidak sampai menumpahkan darah.
Dalam forum seminar mereka sudah duduk bersama lagi dengan orang-orang yang dulu menggulingkan Gus Dur.
Kita mendapati satu sejarah bagaimana Abu Hasan berbeda dengan tokoh-tokoh NU, bagaimana p**a bedanya Gus Dur dengan Kiai As’ad Syamsul Arifin tentang asas tunggal Pancasila.
Kita saksikan mereka menyelesaikan masalah dengan beradab dibanding cara-cara penyelesaian konflik seperti di Irak.
Dengan menjalin persaudaraan di bawah payung Islam, orang-orang akan menjadi damai hatinya. Dalam Al-Qur’an disebutkan:
وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا
Artinya: “Dan ingatlah kalian atas nikmat Allah yang atas kalian saat kalian bermusuhan kemudian Allah mempersatukan hatimu sehingga kalian menjadi bersaudara.” (QS Ali Imran: 103)
Ayat di atas menunjukkan, atas barakahnya Islam, suku Auz dan Khazraj yang semula bermusuhan bisa berubah menjadi bersaudara.
Berbeda jika umat Islam masih saja perang atau konflik dalam tubuhnya sendiri, akan mudah dicampurtangani oleh pihak luar, contohnya adalah Perang Irak.
Di sana orang Muslim Sunni dan Syiah bertempur, akhirnya Amerika, Rusia ikut campur tangan.
Di Indonesia juga muncul kelompok-kelompok kecil yang sangat banyak. Namun seumpama Allah bertanya kepada saya, saya jawab bahwa saya memilih NU. Bukan karena saya oportunis.
Namun, saya memilih yang paling besar ini supaya jika ada konflik, pemetaannya mudah.
Apabila setiap orang yang merasa benar sendiri kemudian membuat kelompok sendiri-sendiri, maka tidak akan ada selesainya.”
Oleh karena itu, Rasulullah bersabda:
تَلْزَمُ جَمَاعَةَ المُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ
Artinya: “Kamu harus selalu bersama kelompok besarnya orang-orang Muslim dan imamnya.” (Muttafaq ‘alaih)
Setiap orang perlu berkelompok dengan mainstream. Melawan arus utama bisa berakibat konflik atau tidak bersaudara (ikhwânâ).
Mengapa Iran tidak mudah diintervensi atau diserang Amerika?
Karena mereka cenderung seragam (homogen), kompak, dengan basis identitas dominan Syiah.
Bagi musuh, melawan sebuah kekompakan itu merupakan perkara sulit. Arab Saudi, walaupun awalnya bentrok dengan Sunni, tidak mudah diadu pihak luar karena mereka seragam dengan Wahabi sebagai identitas Islamnya.
Terlepas aqidah mereka apa. Kenapa Indonesia itu aman? Karena ada NU dan Muhammadiyah yang masih bersatu. Platform besar seperti ini lebih mudah kompak daripada lahir faksi-faksi kecil baru yang sulit bersatunya.
Ayat di atas juga menunjukkan bahwa kekuatan negara tidak disebabkan alat perangnya yang canggih, tapi masyarakatnya yang tidak bentrok (kompak).
Seumpama Jawa yang mayoritas Muslim ingin mendirikan negara Islam, orang NTT akan tersinggung, dan wajar jika mereka ingin memisahkan diri dari Indonesia.
Begitu p**a Papua, Maluku, Ambon, dan lain sebagainya.
Apakah militer bisa mengatasi hal tersebut? Tidak bisa.
Kesimp**annya bahwa persatuan merupakan hal yang sangat penting sehingga siapa saja yang ingin mengoyak Indonesia akan dapat dikalahkan dengan persatuan masyarakatnya.
@ Copas dari Ala-nu 3 Juni 2019
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Website
Address
Guyangan
Pati
59158