Echomora
07/04/2026
Not everyone who seems distant…
chose to be that way.
Sometimes, it’s what happens
when expectations hurt too many times.
11/02/2026
Aku Tidak Pernah Menduga, kalau Keponakan Yang Kucari, Ternyata Begitu Sehat dan Tampan. Namun, Di Hari Pertama Jumpa, Dia Malah Kecelakaan.
Part 7
Elio baru saja memasukkan jas putihnya ke dalam tas. Pikirannya masih dipenuhi rencana bagaimana cara membawa Sagara dan Arumi ke hadapan Papanya. Tapi sebelumnya ia harus memastikan bahwa benar dugaannya.
"Tapi entahlah bagaimana caranya. Baru kali ini aku se yakin ini pada sebuah kebetulan" gumamnya.
Namun, belum sempat ia menutup pintu mobil, suara decit ban yang bergesekan kasar dengan aspal memekakkan telinga.
CIIIITTTT!
BRAAAK!
Suara benturan keras itu terdengar mengerikan. Diikuti jeritan histeris orang-orang di sekitar gerbang sekolah.
"SAGARA!"
Teriakan itu. Elio kenal suara itu. Itu suara Arumi saat memanggil Sagara tadi.
Jantung Elio seakan berhenti. Tas di tangannya terlepas begitu saja. Tanpa pikir panjang, kakinya berlari secepat kilat menuju kerumunan di depan gerbang.
Pemandangan di sana membuat darahnya mendidih sekaligus beku seketika.
Sebuah mobil sedan hitam tancap gas, kabur meninggalkan jejak asap tebal. Sementara di tengah jalan, tubuh kecil Sagara tergeletak tak bergerak. Darah segar mulai mengalir dari kepalanya, membasahi aspal yang panas.
"Saga! Bangun, Nak! Sagara!" Arumi bersimpuh, tangannya gemetar hebat hendak menyentuh tubuh putranya tapi takut menyakiti. Wajahnya pucat pasi, air mata membanjir deras. "Tolong! Tolong anak saya!"
Elio menerobos kerumunan. Naluri dokternya mengambil alih.
"Minggir! Jangan dikerubungi! Beri jalan!" Teriak Elio lantang.
Ia berlutut di samping Arumi. Jemarinya dengan cekatan memeriksa nadi karotis di leher Sagara. Lemah. Sangat lemah. Napasnya pun satu-satu.
"Dokter... Tolong Sagara, Dok... Tolong..." Arumi mencengkeram lengan kemeja Elio, matanya nanar penuh keputusasaan.
"Tenang Bu, saya tangani." Elio mengangkat tubuh Sagara dengan teknik yang hati-hati agar tidak memperparah cedera tulang belakang. "Buka pintu mobil saya! Cepat!"
Elio berteriak pada satpam sekolah yang bengong.
Tanpa menunggu ambulans yang pasti akan lama, Elio membawa Sagara ke mobil pajero sport miliknya. Arumi ikut masuk di kursi belakang, memangku kepala Sagara yang berdarah dengan tangisan yang tak putus-putus.
"Bertahanlah Jagoan... Bertahanlah..." bisik Elio sambil menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil itu melesat membelah jalanan kota, menyalip kendaraan lain bak orang gila.
Sesampainya di lobi IGD RS Medika Pusat—rumah sakit milik keluarganya sendiri—Elio langsung membunyikan klakson panjang.
"Brankar! Cepat bawa brankar! Pasien trauma kepala berat! Anak-anak!" Teriak Elio begitu turun dari mobil.
Para perawat dan dokter jaga yang melihat siapa yang datang langsung bergerak sigap. Mereka tahu, jika dr. Elio sudah berteriak seperti itu, artinya keadaan darurat tingkat tinggi. Apalagi ini RS milik ayahnya.
"Siapkan ruang operasi CITO! Hubungi dr. Bambang spesialis bedah saraf sekarang juga! Bilang saya yang perintah!" Titah Elio sambil berlari mendorong brankar Sagara menyusuri lorong rumah sakit.
"Baik, Dok!"
Arumi berlari kecil mengikuti di belakang, napasnya tersengal, bajunya penuh noda darah Sagara.
"Maaf Bu, Ibu tunggu di sini. Kami akan melakukan tindakan penyelamatan." Seorang perawat menahan Arumi di depan pintu ruang tindakan zona merah.
"Tapi anak saya... Sagara..."
"Percayakan pada kami, Bu. Ada dr. Elio di dalam. Dia dokter terbaik."
Pintu tertutup. Lampu indikator menyala merah.
Arumi merosot ke lantai. Kakinya lemas tak bertulang. Ia memeluk lututnya sendiri, gemetar hebat. Bayangan tubuh Sagara yang terpental tadi terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
Ya Allah... Jangan ambil Sagara... Cuma dia alasan hamba hidup... Arumi merapal doa di sela isak tangisnya.
Tiga puluh menit berlalu seperti tiga puluh tahun bagi Arumi.
Pintu ruang tindakan terbuka. Elio keluar dengan wajah tegang, masker medisnya menggantung di leher. Jas kemejanya yang mahal kini ada bercak darah.
Arumi langsung berdiri, menyongsong Elio.
"Gimana Sagara, Dok? Dia selamat kan?"
Elio menatap wanita di depannya. Ada rasa iba, tapi situasi ini terlalu kritis untuk basa-basi.
"Kondisinya kritis, Bu Arumi. Ada pendarahan di otak dan limpa yang pecah akibat benturan. Kita harus segera operasi sekarang juga untuk menghentikan pendarahan internalnya."
"Lakukan, Dok! Lakukan apapun! Saya mohon!" Arumi memohon, hampir bersujud.
"Masalahnya..." Elio menggantung kalimatnya, tampak frustrasi. "Stok darah di bank darah rumah sakit sedang kosong untuk golongan darah Sagara."
"Golongan darah?" Arumi bingung.
"Sagara kehilangan banyak darah. Golongan darahnya AB Rhesus Negatif. Itu golongan darah yang sangat langka di Indonesia, Bu. Stok PMI kosong, donor keliling juga belum ada yang cocok."
Arumi ternganga. AB Rhesus Negatif?
"Kami butuh donor dari keluarga kandung secepatnya. Ayah kandung biasanya memiliki probabilitas kecocokan paling besar. Di mana suami Ibu? Atau saudara kandung Sagara? Hubungi mereka sekarang! Kita berpacu dengan waktu!" desak Elio. Sebenarnya ia tahu jawabannya, tapi ia ingin memancing Arumi.
Wajah Arumi pucat, seputih kapas.
Keluarga kandung?
Sagara bukan anak kandungnya. Golongan darah Arumi O Positif. Jelas tidak bisa mendonor.
Satu-satunya yang memiliki ikatan darah dengan Sagara adalah Diva—ibu kandungnya—dan laki-laki yang menghamilinya dulu.
"Bu Arumi! Kenapa diam saja? Hubungi Ayahnya Sagara! Nyawa anak ini ada di ujung tanduk!" Sentak seorang perawat yang mendampingi Elio, panik melihat monitor tanda vital di dalam ruangan yang mulai menurun.
Arumi panik luar biasa. Tangannya gemetar merogoh ponsel butut dari saku celananya.
"I-iya... Saya hubungi... Saya hubungi..."
Arumi menekan nomor kontak yang dinamai 'Ibu'. Meski ia sudah diusir, meski ia dibenci, ia harus mencoba. Demi Sagara. Demi cucu mereka sendiri!
Tuuuuut.... Tuuuuut....
Panggilan tersambung. Arumi menahan napas.
"Halo?" Suara Bu Sri terdengar ketus.
"Bu! Ibu tolong! Ini Arumi! A- aku butuh bicara dengan Diva , golongan darah Diva ap-"
"Heh Arumi! Bertahun-tahun gak ad kabar. Untuk apa kamu mencari Diva heh? Untuk apa? Hidup kami sudah tenang tanpa kamu ya! Jadi gak usah kembali lagi ke keluarga ibu yang baru ini!"
KLIK.
Telepon dimatikan sepihak.
Arumi menatap layar ponselnya dengan tatapan tak percaya. Hancur. Hatinya remuk redam. Bagaimana bisa nenek ibu kandungnya sendiri setega itu?
"Bu Arumi! Pasien detak jantungnya melemah!" Perawat berteriak dari dalam.
Arumi dengan tangan gemetar mencoba menekan nomor Diva.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan..."
Arumi mencoba menekan nomor Pak Agung.
"Nomor yang Anda tuju, sedang sibuk..."
Ditolak.
Dunia Arumi runtuh. Ia memandang Elio dengan tatapan kosong, air mata membasahi pipinya tanpa henti. Ponsel di tangannya terjatuh ke lantai.
"Gak ada... Gak ada yang mau angkat, Dok..." lirih Arumi, suaranya parau penuh keputusasaan. "Saya... Saya bukan ibu kandungnya... Saya nggak bisa kasih darah saya..."
Akhirnya rahasia itu terucap saking putus asanya.
Elio menatap Arumi lekat. Ia sudah menduga hal ini. Namun melihat Arumi hancur karena ditolak oleh keluarganya sendiri—keluarga yang seharusnya melindungi Sagara—membuat rahang Elio mengeras menahan amarah.
"Dokter Elio! Tekanan darah turun drastis! 60 per 40! Kita kehilangan dia!" Teriak perawat histeris.
Arumi menjerit tertahan, menutup wajahnya, siap menerima kabar terburuk.
Namun, Elio tiba-tiba melangkah maju. Ia menggulung lengan kemejanya dengan kasar. Tatapannya tajam, penuh determinasi.
"Siapkan kantong darah," ucap Elio dingin dan tegas pada perawat.
"Tapi Dok, kita belum dapat donor—"
"AMBIL DARAH SAYA!" Bentak Elio menggema di lorong IGD. "Golongan darah saya AB Rhesus Negatif. Sama persis dengan anak itu. Ambil sebanyak yang dia butuhkan!"
Arumi mendongak, menatap punggung tegap dokter itu dengan tatapan tak percaya.
Sama persis?
Elio menoleh sekilas ke arah Arumi yang masih syok di lantai.
Bersambung...
Yuk baca kelanjutannya di aplikasi KBM app ya kak
JUDUL : JANGAN BERHENTI JADI IBUKU
PENULIS : ERIN MARTA LINA
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Contact the business
Telephone
Website
Address
Padang
Padang
25113