Akulah Pria Ini

Akulah Pria Ini

Share

14/02/2026

SERIES CERITA FIKSI
MENEPI TANPA KEPASTIAN
Catatan perjalanan menata hati setelah runtuh, tanpa janji akan sampai
Bagian 6 ( TAMAT)
DI UJUNG JALAN, KITA AKHIRNYA JUJUR
“Saat Diam Tak Lagi Bisa Membela, Kejujuran Menjadi Jalan Pulang
🕯️💔🤍

Aku berdiri di depan rumah itu dengan napas yang terasa berat.
Bukan karena jarak,
tapi karena inilah pertemuan pertama yang tertunda terlalu lama.

Pintu terbuka perlahan.
Dia berdiri di sana—gamis sederhana, wajah tenang,
namun sorot matanya menyimpan banyak yang belum selesai.

Kami saling menatap.
Sunyi.

Akhirnya dia bicara lebih dulu.
“Abang datang ke sini untuk apa sebenarnya?”

Pertanyaannya tenang,
tapi jelas tidak sekadar basa-basi.

Aku menarik napas panjang.

“Aku datang bukan untuk mengganggu hidup kamu.”
“Aku datang karena ada hal yang tidak boleh lagi aku diamkan.”

Kami duduk berhadapan.
Jarak dekat,
tapi rasa di antara kami masih berlapis.

Dia menatapku lurus.
“Abang ingat...waktu aku disebut perempuan tak baik?”
“Katanya bersembunyi di balik gamis.”

Dadaku mengeras.

“Yang paling menyakitkan,” lanjutnya,
“Dan Abang cuma diam.”

Aku menunduk.
Tidak ada alasan yang pantas dibela.

“Waktu itu aku salah,” kataku pelan.
“Aku lebih menjaga posisiku
daripada menjaga harga diri kamu.”

Dia menarik napas panjang.
Matanya berkaca.

“Aku pulang hari itu membawa malu yang bukan salahku.”
“Dan sejak saat itu, aku belajar
tidak lagi menggantungkan nilai diriku
pada siapa pun.”

Lalu dia menatapku lagi.

“Coba Abang jujur ” katanya,
“apa sebenarnya tujuan Abang datang?”

Aku diam sejenak.
Menata kata agar tidak membuka aib.

“Aku akan menjawab dengan cara yang baik,” ucapku.
“Bukan untuk menutupi,
tapi karena menjaga kehormatan rumah tangga tetap kewajiban, meski semuanya runtuh.”

Dia mengangguk.
Memberi ruang.

“Aku datang karena Dia mengkhianatiku.”
“Aku tidak ingin membuka ini semua.”
“Cukup kamu tahu…
apa yang dulu kamu terima sebagai tuduhan,
sekarang menjadi tamparan bagi diriku sendiri.”
Ada jeda waktu yang menciptakan
Sunyi di antara kami.
Sampai dia menyela

“Jadi perjalanan Abang ini,” katanya lirih,
“Cuma untuk mencari pelarian?”
Tanyanya sedikit ketus

Aku menggeleng.

“Bukan.”
“Ini perjalanan orang yang sadar
pernah salah memilih diam.”

Dia bersandar pelan.
Tatapan matanya melembut, tapi ragu masih ada.

“Aku marah sama Abang.”
“Tapi aku juga sudah lelah menyimpan benci.”

Aku mengangguk Paham

Sampai kata kata yang menyesaki dadaku dari awal perjalan ini keluar begitu saja dari mulutku

“Aku tidak datang membawa janji.”
“Kalau kamu memilih menutup pintu, aku terima.”
“Kalau kamu butuh waktu berpikir, aku menunggu.”

Dia tersenyum tipis.
Tidak pasti.
Tidak juga menolak.

“Aku sudah belajar hidup sendiri.”
“Hati ini… masih menimbang.”

Aku berdiri.

“Tidak apa-apa.”
“Keputusan yang baik
tidak lahir dari hati yang masih berdarah.”

Kami berpisah tanpa sentuhan.
Tanpa kepastian.

Namun untuk pertama kalinya,
aku pergi tanpa beban diam.
Dan aku akhirnya mengerti—
pemantik harapan bukan selalu tentang kembali,
melainkan tentang berani jujur
dan siap menerima apa pun jawaban akhirnya.
(TAMAT)

12/02/2026

SERIES CERITA FIKSI
“Usia Kedua, Luka yang Sama”
Seri-3
Perselingkuhan yang Tidak Kuinginkan
Aku selalu percaya satu hal: perempuan tidak butuh bukti untuk tahu. Mereka hanya butuh perubahan kecil yang konsisten. Dan aku, tanpa sadar, berubah terlalu konsisten.

Awalnya hanya soal ponsel yang lebih sering kubalikkan. Lalu soal senyum yang datang tanpa konteks. Istriku tidak bertanya siapa. Dia bertanya, “Kamu lagi senang apa?” Pertanyaan sederhana, tapi nadanya berbeda. Lebih dalam. Lebih meneliti.

Aku menjawab ringan, terlalu ringan. Humor jadi tameng favoritku. “Masa senyum aja harus lapor?” kataku sambil terkekeh kecil. Dia ikut tersenyum, tapi tidak dengan matanya. Di situ aku tahu, ini bukan lagi percakapan biasa.
Beberapa hari kemudian, dia mulai memperhatikan detail-detail kecil. Jam pulangku sama, tapi pikiranku tidak. Saat makan malam, aku sering terlambat merespons. Sekali dia mengulang pertanyaan sampai tiga kali. Aku baru sadar ketika anakku menyikut lenganku pelan.

“Kamu capek?” tanyanya suatu malam.
Aku hampir menjawab jujur: iya, capek pura-pura tidak berubah.
Tapi yang keluar justru, “Kerjaan lagi banyak.”

Aku mulai merasa dia mengamatiku seperti membaca buku yang pernah dia hafal. Setiap jeda, setiap napas panjang, setiap layar ponsel yang menyala di tengah malam. Tidak ada interogasi. Hanya pengamatan. Dan pengamatan lebih menakutkan dari tuduhan
Lucunya, aku mulai defensif tanpa dituduh. Setiap dia menatap sedikit lebih lama, aku merasa diserang. Setiap dia diam, aku merasa dihakimi. Padahal mungkin dia hanya mencoba memahami. Tapi rasa bersalah membuatku melihat ancaman di mana-mana.

Suatu malam, dia duduk di sampingku saat aku sedang membalas pesan. Tidak merebut ponsel. Tidak marah. Hanya duduk. Terlalu dekat. Aku yang justru menjauh pelan, pura-pura mengambil minum. Gerakan kecil yang terlalu jelas.

Dia tidak mengatakan apa-apa malam itu.
Hanya satu kalimat sebelum tidur.
“Kamu kalau jauh, jangan jauh-jauh banget.
Kalimat itu tidak keras. Tidak tinggi nadanya. Tapi menghantam lebih kuat dari teriakan. Karena untuk pertama kalinya, aku sadar—dia tidak lagi curiga.
Dia sudah tahu.

Dan sejak saat itu, rumah ini tidak lagi terasa tenang.
Ia terasa seperti ruang tunggu sebelum sesuatu benar-benar pecah.

11/02/2026

SERIES CERITA FIKSI
MENEPI TANPA KEPASTIAN
Catatan perjalanan menata hati setelah runtuh, tanpa janji akan sampai
Bagian 6 ( TAMAT)
DI UJUNG JALAN, KITA AKHIRNYA JUJUR
“Saat Diam Tak Lagi Bisa Membela, Kejujuran Menjadi Jalan Pulang
🕯️💔🤍

Aku berdiri di depan rumah itu dengan napas yang terasa berat.
Bukan karena jarak,
tapi karena inilah pertemuan pertama yang tertunda terlalu lama.

Pintu terbuka perlahan.
Dia berdiri di sana—gamis sederhana, wajah tenang,
namun sorot matanya menyimpan banyak yang belum selesai.

Kami saling menatap.
Sunyi.

Akhirnya dia bicara lebih dulu.
“Abang datang ke sini untuk apa sebenarnya?”

Pertanyaannya tenang,
tapi jelas tidak sekadar basa-basi.

Aku menarik napas panjang.

“Aku datang bukan untuk mengganggu hidup kamu.”
“Aku datang karena ada hal yang tidak boleh lagi aku diamkan.”

Kami duduk berhadapan.
Jarak dekat,
tapi rasa di antara kami masih berlapis.

Dia menatapku lurus.
“Abang ingat...waktu aku disebut perempuan tak baik?”
“Katanya bersembunyi di balik gamis.”

Dadaku mengeras.

“Yang paling menyakitkan,” lanjutnya,
“Dan Abang cuma diam.”

Aku menunduk.
Tidak ada alasan yang pantas dibela.

“Waktu itu aku salah,” kataku pelan.
“Aku lebih menjaga posisiku
daripada menjaga harga diri kamu.”

Dia menarik napas panjang.
Matanya berkaca.

“Aku pulang hari itu membawa malu yang bukan salahku.”
“Dan sejak saat itu, aku belajar
tidak lagi menggantungkan nilai diriku
pada siapa pun.”

Lalu dia menatapku lagi.

“Coba Abang jujur ” katanya,
“apa sebenarnya tujuan Abang datang?”

Aku diam sejenak.
Menata kata agar tidak membuka aib.

“Aku akan menjawab dengan cara yang baik,” ucapku.
“Bukan untuk menutupi,
tapi karena menjaga kehormatan rumah tangga tetap kewajiban, meski semuanya runtuh.”

Dia mengangguk.
Memberi ruang.

“Aku datang karena Dia mengkhianatiku.”
“Aku tidak ingin membuka ini semua.”
“Cukup kamu tahu…
apa yang dulu kamu terima sebagai tuduhan,
sekarang menjadi tamparan bagi diriku sendiri.”
Ada jeda waktu yang menciptakan
Sunyi di antara kami.
Sampai dia menyela

“Jadi perjalanan Abang ini,” katanya lirih,
“bukan untuk mencari pelarian?”
Tanyanya sedikit ketus
Aku menggeleng.

“Bukan.”
“Ini perjalanan orang yang sadar
pernah salah memilih diam.”

Dia bersandar pelan.
Tatapan matanya melembut, tapi ragu masih ada.

“Aku marah pada Abang.”
“Tapi aku juga sudah lelah menyimpan benci.”

Aku mengangguk Paham

Sampai kata kata yang menyesaki dadaku dari awal perjalan ini keluar begitu saja dari mulutku

“Aku tidak datang membawa janji.”
“Kalau kamu memilih menutup pintu, aku terima.”
“Kalau kamu butuh waktu berpikir, aku menunggu.”

Dia tersenyum tipis.
Tidak pasti.
Tidak juga menolak.

“Aku sudah belajar hidup sendiri.”
“Hati ini… masih menimbang.”

Aku berdiri.

“Tidak apa-apa.”
“Keputusan yang baik
tidak lahir dari hati yang masih berdarah.”

Kami berpisah tanpa sentuhan.
Tanpa kepastian.

Namun untuk pertama kalinya,
aku pergi tanpa beban diam.
Dan aku akhirnya mengerti—
pemantik harapan bukan selalu tentang kembali,
melainkan tentang berani jujur
dan siap menerima apa pun jawaban akhirnya.
(TAMAT)

Photos from Akulah Pria Ini's post 10/02/2026

Prolog Penulis

Cerita ini lahir dari perjalanan yang tampak biasa, namun menyimpan banyak lapisan batin.
Tentang seorang lelaki yang memilih pergi bukan untuk lari, melainkan untuk berani menoleh ke belakang—pada luka yang pernah ia biarkan terjadi karena diam. Setiap ilustrasi dalam series ini bukan sekadar gambar, tetapi potongan suasana hati: pelabuhan yang ramai namun sepi secara emosional, perjalanan laut yang mengguncang fisik dan pikiran, kota asing yang terasa dingin, hingga pertemuan sunyi yang menjadi puncak keberanian untuk jujur. Wajah-wajah yang digambarkan mungkin terlihat tenang, namun di baliknya tersimpan konflik, penyesalan, dan harapan yang rapuh.

Kisah ini tidak menawarkan akhir yang manis secara instan.
Ia hanya ingin mengajak pembaca memahami bahwa tidak semua perjalanan berujung pada kembali—sebagian justru berakhir pada kejujuran, penerimaan, dan keputusan yang lebih dewasa.

Perlu ditegaskan bahwa alur cerita, tokoh-tokoh di dalamnya, serta gambar-gambar ilustrasi yang menyertai series ini merupakan hasil insting dan olah rasa penulis dalam menyempurnakan narasi. Seluruhnya dihadirkan sebagai karya seni dan refleksi batin, tanpa dimaksudkan untuk merepresentasikan, menyinggung, atau merujuk pada pihak mana pun di dunia nyata.

Jika ada yang tertinggal setelah membaca dan melihat ilustrasinya, semoga itu bukan sekadar rasa sedih, melainkan kesadaran: bahwa diam pun bisa melukai, dan keberanian terbesar kadang hanya sesederhana datang dan mengakui.






Prolog Penulis

Cerita ini lahir dari perjalanan yang tampak biasa, namun menyimpan banyak lapisan batin.
Tentang seorang lelaki yang memilih pergi bukan untuk lari, melainkan untuk berani menoleh ke belakang—pada luka yang pernah ia biarkan terjadi karena diam.

Setiap ilustrasi dalam series ini bukan sekadar gambar, tetapi potongan suasana hati: pelabuhan yang ramai namun sepi secara emosional, perjalanan laut yang mengguncang fisik dan pikiran, kota asing yang terasa dingin, hingga pertemuan sunyi yang menjadi puncak keberanian untuk jujur. Wajah-wajah yang digambarkan mungkin

10/02/2026

SERIES CERITA FIKSI
“Usia Kedua, Luka yang Sama”
SERIES 2 — Perempuan yang Mendengarkan.
Ketika Ada yang Mendengar, Aku Berhenti Mendengar di Rumah😶‍🌫️📱

Aku tidak berniat mencari siapa pun. Kalau ada lomba suami setia, aku masih berani daftar—setidaknya di versi ceritaku sendiri. Semua bermula dari obrolan ringan yang seharusnya berhenti di titik sopan. Tapi hidup jarang sopan pada orang yang sedang lapar, terutama lapar untuk dimengerti.

Dia mendengarkan caraku bicara sampai selesai. Tidak menyela, tidak memberi solusi. Hanya mengangguk, sesekali tersenyum. Hal sederhana yang ternyata mahal. Di rumah, aku biasa bicara sambil memikirkan jawaban sebelum istriku selesai kalimatnya. Dengan dia, aku hanya bicara. Titik.
Lucunya, aku tidak merasa bersalah di awal. Tidak ada sentuhan, tidak ada janji, bahkan tidak ada niat. Aku hanya merasa jadi laki-laki lagi, bukan daftar kewajiban berjalan. Aku pulang ke rumah dengan perasaan aneh: tubuhku lelah, pikiranku segar. Kombinasi yang mencurigakan.

Aku mulai menyadari pola. Aku menunggu pesan darinya, tapi menyebutnya kebiasaan. Aku tersenyum membaca kalimat pendeknya, lalu pura-pura sibuk saat istriku bicara. Ironisnya, aku merasa pintar menyembunyikan. Padahal laki-laki seusiaku itu buruk dalam multitasking—termasuk berbohong.
Humornya, aku sempat menasihati diri sendiri. “Tenang, ini cuma teman ngobrol.” Seperti orang yang berdiri di pinggir kolam sambil bilang, “Aku cuma celup kaki.” Masalahnya, air perasaan tidak pernah tahu batas mata kaki.

Dia tidak pernah menanyakan pernikahanku. Itu yang membuatnya terasa aman. Tidak ada tekanan, tidak ada drama. Tapi justru di situlah jebakannya. Tidak ditanya bukan berarti tidak disentuh. Aku mulai membawa pulang ceritanya ke rumah, sementara ceritaku tidak lagi kubawa pulang.
Aku menjadi pria yang hadir secara fisik tapi sibuk menata kalimat di kepala. Saat makan malam, aku mengangguk tanpa mendengar. Saat istriku bertanya, aku menjawab seperlunya. Aku menyebutnya efisiensi. Padahal itu pelarian.

Ada satu malam aku tertawa sendiri melihat ponsel. Istriku menoleh dan bertanya, “Lucu ya?” Aku menjawab, “Iya, video.” Padahal itu bukan video. Itu aku, yang mulai berubah jadi laki-laki pengecut dengan alasan modern.

Aku masih meyakinkan diri bahwa semua terkendali. Tidak ada yang salah. Tidak ada yang dilanggar. Aku belum sadar bahwa perselingkuhan paling licik bukan soal ranjang, tapi soal pulang. Pulang ke siapa saat pikiranmu lelah.
Dan malam itu, sebelum tidur, aku membalikkan ponsel ke bawah.
Bukan agar tidak ketahuan.
Tapi agar aku bisa terus berpura-pura ini belum apa-apa.

09/02/2026

SERI CERITA FIKSI
Usia Kedua, Luka yang Sama
Series-1
“Diam yang Terlalu Lama”
Ketika rumah tetap berdiri, tapi perasaan sudah pindah kamar.

Aku selalu bangga menyebut diriku pria dewasa. Tidak emosional, tidak berisik, tidak rewel. Setiap pagi aku berangkat kerja dengan ritme yang sama, pulang dengan jam yang bisa ditebak. Istriku sering bercanda, katanya aku seperti jam dinding—akurat, tapi tidak pernah bertanya kabar. Aku tertawa waktu itu. Kupikir itu pujian.

Di rumah, kami jarang bertengkar. Bukan karena saling mengerti, tapi karena sama-sama lelah. Percakapan kami efisien, seperti memo kantor: soal anak, tagihan, jadwal. Tidak ada teriakan, tidak ada air mata. Aku mengira ini tanda hubungan matang. Ternyata ini tanda hubungan yang berhenti tumbuh.
Aku sering memilih diam saat dia mulai bicara dengan nada yang ingin dimengerti, bukan dijawab. Dalam kepalaku, diam adalah cara paling aman agar tidak memperkeruh suasana. Lagipula, aku laki-laki. Kami diajari untuk kuat, bukan cerewet. Masalahnya, aku terlalu kuat sampai lupa caranya rapuh.

Lucunya, aku masih merasa suami yang baik. Aku tidak selingkuh, tidak main tangan, tidak lupa ulang tahun—setidaknya di kalender. Aku memberi nafkah, hadir di acara sekolah anak, dan selalu pulang. Tapi aku tidak benar-benar pulang. Badanku sampai rumah, pikiranku masih tertinggal entah di mana.
Istriku mulai berubah. Bukan marah, tapi sunyi. Dia berhenti bertanya kenapa aku sering melamun. Dia berhenti mengeluh. Aku sempat lega. Dalam hati aku berkata, “Nah, akhirnya dewasa.” Sekarang aku tahu, perempuan yang berhenti bertanya biasanya sedang belajar melepaskan.

Ada satu momen yang masih kuingat jelas. Malam itu kami duduk bersebelahan menonton televisi. Acara lawak yang seharusnya lucu. Dia tertawa kecil, aku tersenyum sopan. Jarak di antara kami hanya beberapa sentimeter, tapi rasanya seperti beda benua. Aku sempat berpikir, mungkin ini fase. Semua pernikahan pasti begini. Aku salah besar.
Sebagai pria, aku terbiasa menyelesaikan masalah. Tapi yang ini tidak terlihat seperti masalah. Tidak ada kebocoran, tidak ada kerusakan. Padahal justru di situlah bahayanya. Rumah tangga tidak selalu runtuh karena badai. Kadang ia lapuk karena angin sepoi yang terlalu lama diabaikan.

Aku mulai mencari pembenaran. Mungkin memang begini rasanya menikah lama. Mungkin cinta memang berubah bentuk. Dari api jadi abu yang hangat. Aku mengulang kalimat itu seperti mantra agar tidak perlu bertanya lebih jauh. Bertanya berarti membuka sesuatu. Dan aku tidak yakin siap dengan jawabannya.
Yang tidak kusadari saat itu, diamku bukan netral. Diamku memilih satu pihak—diriku sendiri. Aku merasa aman, tapi istriku merasa sendirian. Aku menyebutnya kedewasaan, dia mungkin menyebutnya ketidakhadiran. Kami hidup di rumah yang sama dengan definisi cinta yang berbeda.

Malam itu, sebelum tidur, dia menatapku sebentar lebih lama dari biasanya. Tidak ada marah, tidak ada tuntutan. Hanya tatapan yang seolah ingin memastikan sesuatu. Aku membalasnya dengan senyum tipis, lalu memejamkan mata lebih dulu. Kebiasaan kecil, tapi fatal.
Aku tidak tahu saat itu, tatapan itu bukan mencari jawaban. Itu perpisahan kecil pertama.
Dan aku, dengan segala kebanggaanku sebagai pria dewasa yang “tidak ribut”, sedang berdiri tepat di awal cerita yang akan mengubah hidupku—tanpa satu pun teriakan sebagai peringatan.

09/02/2026

SERI CERITA FIKSI
MENEPI TANPA KEPASTIAN
Catatan perjalanan menata hati setelah runtuh, tanpa janji akan sampai.
Bagian 4

TURUN TANPA PEGANGAN⚓🚶‍♂️
Sampai di pelabuhan tak selalu berarti diterima—kadang hanya diuji.
Kapal berhenti.
Dan entah kenapa, dadaku ikut jatuh.

Besi ramp diturunkan perlahan.
Bunyi gesekannya seperti sesuatu di dalam diriku yang dipaksa dilepas.

Orang-orang berdesakan ingin cepat turun.
Seolah daratan ini menjanjikan jawaban.
Aku justru tertinggal—
karena untuk pertama kalinya aku takut:
takut kalau semua ini hanya pelarian yang diberi nama “ikhtiar”.

Aku melangkah ke pelabuhan.
Bau solar menyergap.
Keras.
Familiar.
Seperti masa lalu yang tidak kuundang.

Dulu aku bekerja di pelabuhan di kota asal.
Aku tahu rasanya berdiri berjam-jam menunggu kapal.
Aku tahu rasanya pulang dengan tubuh utuh tapi harga diri lelah.
Aku tahu…
bagaimana harapan sering diperas oleh kebutuhan.

Seorang petugas berteriak,
“Yang tidak ada penjemput, jangan menghalangi jalur!”

Aku refleks menepi.
Seperti dulu—
selalu menepi saat hidup meminta keputusan.

Seorang buruh muda menatapku.
“Kau sendirian?”
Aku mengangguk.

“Berani juga. Datang ke pulau orang tanpa tujuan.”

Aku ingin bilang:
aku punya tujuan.
Tapi yang keluar hanya napas panjang.

Aku duduk di tepi dermaga.
Melihat seorang ibu memarahi anaknya karena kehilangan sandal.
Melihat pria-pria bertengkar soal ongkos angkut.
Melihat seorang perempuan menahan tangis sambil memeluk tas kecilnya.

Pelabuhan ini hidup.
Tapi hidupnya penuh benturan.

Aku membuka ponsel.
Tak ada pesan.
Tak ada yang bertanya aku sudah sampai atau belum.
Dan di situ…
aku sadar:
selama ini aku berjalan jauh
untuk seseorang yang mungkin tidak pernah menungguku.
Dadaku sesak.
Aku datang sejauh ini hanya berbekal keyakinan:
bahwa pemantik harapan itu masih ada—
bahwa bara lama sudah cukup dingin untuk disentuh tanpa membakar.

Tapi bagaimana jika tidak?

Bagaimana jika aku hanya lelaki
yang gagal menjadi imam,
lalu menyamar sebagai perantau
agar kegagalannya terlihat mulia?

Seorang pria tua duduk di sampingku.
“Kau kelihatan seperti orang yang kehilangan sesuatu,” katanya pelan.
Aku tersenyum pahit.
“Bukan kehilangan.
Lebih ke…
tak tahu harus melepaskan atau mempertahankan.”

Dia mengangguk.
“Pelabuhan tempat yang tepat untuk belajar itu.
Di sini, orang datang dan pergi.
Yang bertahan…
biasanya bukan yang paling kuat,
tapi yang paling siap kecewa.”

Kalimat itu menancap.
Dalam.

Aku berdiri.
Kakiku gemetar.
Bukan karena lelah—
tapi karena aku tahu:
perjalanan ini bisa saja tidak memberi apa-apa
selain luka versi baru.

Namun aku tetap melangkah.
Karena kembali sekarang
berarti mengakui
bahwa aku bahkan tidak berani mencoba.

Aku meninggalkan pelabuhan
dengan hati yang belum utuh,
tujuan yang belum jelas,
dan keyakinan yang dipertanyakan.

Tapi satu hal kupastikan:
aku tidak datang untuk menang.
Aku datang untuk jujur
pada perasaanku sendiri.

Dan itu…
ternyata jauh lebih menakutkan.

09/02/2026

SERI CERITA FIKSI
“Menepi Tanpa Kepastian”
Catatan perjalanan menata hati setelah runtuh, tanpa janji akan sampai.
Bagian 3.

Menyeberang laut sambil menimbang: niat, batas, dan kemungkinan pulang.🌊⛴️

Di laut, semua rencana terasa rapuh.
Kapal bisa tertahan angin, jadwal bergeser tanpa permisi,
dan sinyal menghilang seperti keyakinan yang tak sempat pamit.
Aku berdiri di geladak, membiarkan angin asin menampar wajah,
mengingatkanku bahwa perjalanan ini tidak sepenuhnya dalam kendaliku.

Ombak kadang ramah, kadang berubah tanpa alasan.
Perut ikut bergolak, kepala berat,
dan aku paham—bahkan tubuh pun sedang protes atas keputusan ini.
Namun laut selalu jujur:
ia tak peduli seberapa siap hatimu,
ia hanya menguji seberapa tahan niatmu.

Di sela suara mesin dan debur air,
aku memikirkan tujuan yang belum tentu menyambut.
Bagaimana jika setibanya nanti aku hanya menemukan jarak yang lebih rapi?
Senyum yang sopan, kata-kata yang dijaga,
dan batas yang tak bisa kutawar meski niatku sudah kupelankan.

Perjalanan laut mengajarkanku menunggu.
Menunggu cuaca membaik,
menunggu kapal kembali stabil,
menunggu diriku cukup tenang untuk tidak berharap berlebihan.
Karena sampai di tujuan bukan akhir,
ia hanya awal dari ujian yang lebih sunyi.
Jika nanti kapal ini merapat,
aku ingin turun sebagai orang yang siap menerima apa pun:
disambut, ditunda, atau diminta pulang tanpa penjelasan.
Sebab di tengah laut ini aku belajar,
bahwa tidak semua perjalanan ditujukan untuk memiliki—
sebagian hanya dimaksudkan untuk menguatkan.

09/02/2026

Menata Niat di Langkah Awal🙏

Menata Niat di Langkah Awal

09/02/2026

Menghindar dulu, bukan sembuh😢🏃🏃🏃🚌🚢
Aku pergi bukan karena sudah ikhlas.
Aku pergi karena dadaku terlalu sesak untuk tetap tinggal.
Tempat ini menyimpan terlalu banyak potongan gagal—
gagal menuntun, gagal menjaga, gagal menjadi imam seperti yang kuharapkan.

Awalnya aku tidak mencari arah.
Aku hanya ingin menjauh dari sudut-sudut yang selalu mengingatkanku
pada rencana yang tak pernah jadi kenyataan.
Setiap jalan, bangku, dan lampu kota terasa seperti menghakimi
keputusan-keputusan yang dulu kuambil dengan niat baik tapi hasil yang salah.
Aku tahu, pergi ini terdengar pengecut.
Namun bertahan terasa lebih menyakitkan.
Bukan karena kenangan itu indah,
melainkan karena aku terus dipaksa melihat versi diriku
yang tidak cukup kuat untuk memimpin siapa pun.

Aku tidak sedang mengejar hidup baru.
Aku hanya menghindari hidup lama
yang terlalu sering membuka luka tanpa izin.
Kadang manusia memang perlu menjauh dulu
sebelum berani menamai kegagalannya sendiri.
Soal tujuan, aku belum punya.
Dan untuk pertama kalinya, aku membiarkan itu terjadi.
Karena saat ini, satu-satunya hal yang kupahami
adalah aku perlu selamat dari diriku sendiri
sebelum mencoba menyelamatkan apa pun lagi.

Want your public figure to be the top-listed Public Figure in Medan?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Website

Address


Medan