ISTAID
ISTAID (Institute of Islamic Thought and Information for Dakwah ) adalah sebuah lembaga sosial masyarakat ( LSM ) yang bersifat nirlaba dan bergerak dalam bidang peningkatan dan pengembangan kualitas sumber daya manusia demi terwujudnya tugas manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di atas permukaan bumi.
MAKNA NUZUL QURAN
“ Bulan ramadhan adalah bulan diturunkan Al Quran “ ( QS. Al Baqarah : 185 )
Bulan Ramadhan adalah bulan turunnya al Quran. Menurut riwayat, pada bulan ramadhan juga diturunkan juga seluruh kitab suci yang lain. Mushaf Ibrahim diturunkan pada satu Ramadhan , kitab Taurat diberikan kepada nabi Musa pada enam Ramadhan, kitab Injil diturunkan kepada nabi isa pada tiga belas Ramadhan. Al Quran diturunkan pada malam lailatu Qadar secara keseluruhan dan pada malam 17 ramadhan tahun pertama kenabian. Pada mulana, kitab suci Al Quran disimpan disebuah tempat bernama Lauh Mahfudz ang berada di langit ketujuh. Kemudian penurunn kedua terjadi dari tempat penimpanan di Lauh Mahfudz ke tempat penyimpanan kedua yang bernama Baitul Izzah di langit dunia. Ibnu Abbas menyatakan : “ Al Quran itu diturunkan sekaligus dari Lauh Mahfudz ke Baitul Izzah di langit dunia kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada nabi Muhammad sallahu alaihi wasallam sesuai dengan kejadian dalam rentang waktu selama duapuluh tiga tahun “.( Hadis riwayat Hakim ).
Oleh ebab itu dapat dikatakan bahwa Kitab suci Al Quran itu diturunkan dalam tiga kali tahapan. Tahapan pertama, al Quran sebagai kalam Ilahi disimpan di auh Mahfudz sebuah tempat yang terpelihara berada di langit ke tujuh. Ada tahapan pertama ini, proses dan cara penyimpanan tidak ada yag mengetahuinya kecuali Allah Subhana w taala. Keberadaan al Quran di lauh mahfudz ini dinyatakan dalam al Quran : “ Bahkan mereka ( orang kafir ) mendustakan bahwa al Quran ang mulia itu tersimpan di Lauh Mahfudz “ ( QS. Al Buruj : 1-2 ).
Tahapan kedua, al Quran diturunkan secara menyeluruh dari tempat penimpanan di Lauh Mahfudz ke tempat penympanan kedua yaitu Baitul Izzah di langit pertama. Penurunan al Quran yang kedua ini terjadi pada malam yang disebut dengan malam Lailatul Qadar. Proses penurunan yang kedua ini disebut denganmalam Laulatul Qadar. Peristiwa ini hanya terjadi sekali di waktu yang hanya diketahui oleh Allah Taala. Dalam al Quran dinyatakan “ Sesungguhnya Kami menurunkan al Quran itu pada malam Lailatul Qadar “ ( QS. al Qadar L 1 ).
Agar manusia tidak melupakan peristiwa mulia tersebut yaitu turunnya al Quran pada malam Lalatul Qadar, maka setiap bulan ramadhan akan terdapat malam Lailatul Qadar. Hanya saja malam Lailatul Qadar yang terjadi pada setiap bulan ramadhan tersebut, bukanlagi merupakan malam turnnya al Quran, tetapi menjadi malam ditentukannya segala takdir dan ketentuan nasib makhluk untk setahun yang akan datang. Hal ini dinyatakan dalam al Quran :” “Sesunguhnya Kami turunkan kitab suci Al-Qur’an itu pada malam yang penuh berkah. Sesungguhna Kami ang memberi peringaan. Pada malam itu ditentukan segala urusn dengan penuh hikmah (QS. AL Dukhan : 3-5 ).
Tahapan ketiga terjadi pada malam 17 Ramadhan tahun pertama kenabian, dimana pada malam itu turun lima ayat pertama yaitu : “ Iqra’ bismirabbikalladzi khalak, Khalaqal Insaana min Alaq, Iqrak wa rabbukal akram, alladzi allama bil qalam, allamal insaana maa lam ya’lam “. Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menjadikan segala sesuatu. Menjadikan manusia dari segumpal darah. Bacalah dengan nama Tuhanmu yang mengajarkan manisa dengan pena. Mengajarkan manusia apa ang tidakdiketahunya “ ( QS. Al Alaq : 1-5 ).
Sejak itu, ayat-ayat al Quran terus turun sesua dengan kejadian yang berlaku selama dua puluh dua tahun, dua bulan, dua puluh dua hari, dengan ayat yang terakhir aitu “ Al yauma akmaltu lakum dinakum, wa atmamtum alaikum nikmati, wa radhitu lakumul islama dina “ ( QS. Al Maidah : 3 ) yang bermakna : “ Pada hari ini telah Aku sempurnakan seluruh ajaran agama bagi kamu dan Aku telah sempurnakan seluruh nikmat dan Aku ridha menjadikan Islam sebagai agama “.
Nabi Muhammad dalam proses menerima wahu tersebut dengan berbagai jalan. Jalan pertama, malaikat datang menjumpai nabi dalam bentuk manusia dan mengajarkan nabi untuk membacakan ayat ayat yang akan disampaikan dab nabi segera menghafal ayat ang disampaikan tersebut. Sebagai contoh, ayat pertama sampai ayat kelima dari surah al Alaq tadi dilakukan dengan cara demikian.
Jalan kedua, malaikat memasukkan wahyu itu ke dalam hati sanubari na Muhammad. Hal ini dinyatakan al Quran : “ Malaikat Jibril menyampaikan wahu itu ke dalam hati sanubariku “ ( QS. Al Syuara : 53 ). Sedang jalan ketiga dimana wahyu disampaikan kepada nabi seperti suara lonceng sebagaimana dinyatakan bahwa seorang sahabat nabi bernama Al-Harits bin Hisyam pernah bertanya kepada Rasulullah “Wahai Rasulullah, bagaimana cara wahyu datang kepadamu?” Rasulullah menjawab, “Terkadang wahyu itu datang kepadaku seperti suara lonceng. Inilah yang terberat bagiku. Dia memberitakan sesuatu dan aku memahami apa yang ia ucapkan. Dan terkadang malaikat datang dalam wujud seorang laki-laki, lalu dia berbicara padaku dan aku paham apa yang diucapkannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Dalam al Quran juga dinatakan : “ Dan tidak ada bagi seorang manusia bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahu atau sesuatu ang didengar dari belakang tabir atau dengan mengutus malaikat lalu mewahukan kepadana dengan seizinNya “ ( QS. Syura : 51 ).
Demikianlah sejarah nuzulul Quran ang terjadi kepada nabi Muhammad sallahu alaihiwasalam. Agar mansia tidak melupakan peristiwa tersebut, maka setiap malam tujuh belas ramadhan, umat Islam memperingati Nuzul Quran. Peringatan tersebut juga untuk memberikan pendidikan dan pembelajaran kepada umat Islam agar sewaktu membaa al Quran, maka baaan itu dipahami dan dihayati, sehingga petunjuk itu dapat dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Konsep Nuzul Quran, dalam arti membaa, memikirkan makna untuk memahami ayat-ayat tersebut itulah ang harus dilakukan sehingga ayat-ayat tersebut dapat diturunkan ke dalam hati dan akal pikiran mansuia ang membacanya. Sikap Nuzul Quran inilah yang ditanamkan ayah bernama Mir Muhammad kepada anaknya Iqbal dan sikap Nuzul quran itulah yang menjadikan Iqbal akhirna menjadi seorang penyair dan ahli filsafat yang terkenal.
Muhamad Iqbal sejak kecil selalu membaca Al-Qur’an setelah usai sholat subuh. JIka anaknya membaca al Quran, maka si ayah bertanya: “Wahai anakku apakah yang sedang kamu kerjakan?” Iqbal pun menjawab: “”Wahai ayahku, aku sedang membaca Al-Qur’an..” Setiap hari si ayah bertanya dengan pertanyaan yang sama dan si Iqbal pun menjawab dengan jawaban yang sama , sehingga pada suatu hari si kecil Iqbal berpikir kenapa ayahnya selalu bertanya juka ia sedang membaca Al-Qur’an. Pada suatu hari Iqbal kecil bertanya kepada ayahnya:” Wahai ayahku, setiap aku membaca Al-Quran, engkau selalu bertanya dengan pertanyaan yang sama. Apakah maksud pertanyaan ini wahai ayahku yang terhormat? Mir Muhammad menjawab:”Wahai anakku, aku selalu menyapapmu keti kau membaca Al-Qur’an agar engkau benar benar menyadari bahwa engkau sedang membaca Al-Qur’an dan “BACALAH ALQUR’AN SEAKAN AKAN AYAT-AYAT TERSEBUT DITURUNKAN LANGSUNG KEPADAMU” Semenjak itu Iqbal selalu membaca Al-Quran dengan sebuah perasaan seakan akan setiap ayat yang dibaca merupakan perintah dan pedoman hidup yang ditujukan kepada dirinya sendiri.
Sikap Nuzul Qur’an . sikap dan usaha untuk menurunkan makna al Quran ke dalam hati sanubari inilah yang sepatutnya dapat kita lakukan setiap membaca kalam Ilahi dan kita dapat merasakan adanya komunikasi langsung dengan Tuhan dalam setiap ayat yang dibaca. Sikap Nuzul Quran inilah yang akhirnya menjadikan Iqbal selalu hidup dalam petunjuk Al-Quran. Sejarah hidupnya mencatat bahwa setiap malam Iqbal selalu membaca dan mempelajari Al-Qur’an dengan penuh penghayatan aan makna yang terkandung di dalamnya. Penghayatan makna al Quran itu yang menjadi ispirasi baginya untuk menuliskan syair dan puisi di besok hari, sehingga syairnya sarat dengan niai-nilai kehidupan. Iqbal setiap malam membaca Quran dengan menangis sehingga dikatakan bahwa pembantu rumahnya terpaksa menjemur Al Qur’an yang basah oleh air mata Iqbal.. Inilah sikap Nuulul Quran yang dilakukan Iqbal setiap kali membaca al Quran.
Setiap ramadhan kita memperingati Nuzul Al Quran. Sudah selayaknya peringatan itu dilaksanakan agar kita dapat bersikap Nuzul Quran dalam setiap ayat yang kit abaca. Hal itu dapat dilakukan dengan membaca ayat, memperhatikan makna dan kandungan, dan memikirkan bagaimanakah caranya agar kandungan ayat tersebut dapat kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari . Bagaimana cara agar ayat-ayat yang dibaca tersebut menjadi landasan kita dalam beraktiitas , sehingga kerja kita , ekonomi kita, bdaya kita, semuanya berdasarkan kepada nilapnila al Qutan. Inilah makna Nuzul Quran yang dapat menadi penggerak hati , dalam menjalankan kehidupan berlandaskn wah ilahi. Fa’tabiru Ya Ulil albab.
30/11/2025
كتاب: [موسوعة الفتاوى الإسلامية من دار الإفتاء المصرية]
الرابط:
https://t.me/alazhariaat_alrabieia/209?single
لا تنسونا من الدعاء
Click here to claim your Sponsored Listing.
Telephone
Website
Address
Medan