NARAN Education
11/07/2018
Belajar Bhs. Inggris secara sederhana dengan AQur English Course Indonesia.
&KKerja
PARENTING ala Rasulullah SAW.
Saya Memukul Anak Saya, dan Dia Patuh
Seorang ayah bertanya pada saya di sebuah seminar pengasuhan. Bahwa anak pertamanya dia asuh dengan keras. Kadang bahkan dengan memukul agar anaknya patuh.Beliau belajar itu dari ayahnya dulu. “Jika tak dipukul, saya tidak akan jadi seperti ini, bisa jadi saya akan jadi seperti teman-teman saya yang gagal dalam hidupnya” kata bapak itu.
Fakta di dunia ini, ada orang-orang yang merasa bahwa dengan kekerasanlah mereka bisa berhasil sekarang. Ada p**a yang merasa karena pengasuhan yang hangatlah dirinya menjadi berhasil. Dan jika kita melihat apa yang dilakukan oleh Rasulullah dalam mengasuh anak , cucu dan keluarganya, tak satupun cerita yang mengisahkan bahwa beliau mengasuh dengan keras. Tegas iya. Keras tidak.
Lalu, siapakah kita yang berani mengatasnamakan pengasuhan yang keras agar anak-anak kita menjadi insan yang mulia ?
Rasulullah SAW. pernah menegur Ummu Fadhl ketika merenggut anaknya secara kasar karena pipis di dada Rasulullah. "Pakaian yang kotor ini dapat dibersihkan dengan air," kata Rasulullah Saw, "tetapi apa yang dapat menghilangkan kekeruhan jiwa anak ini akibat renggutanmu yang kasar?"
Cobalah bertanya pada hati kita yang paling dalam. Dalam nurani kita. Apa kata nurani kita tentang kekerasan dalam pengasuhan. Jika fitrah kita masih terjaga, pilihannya adalah kita tak akan mau menerima kekerasan kita.
Secara logika juga sangat tidak masuk akal, bagaimana seorang anak yang pengalaman hidupnya belumlah banyak, bisa mendapatkan kekerasan. Bukankah kita perlu banyak memberikan referensi agar anak tahu apa yang baik yang harus dilakukan. Dan itu bukan perkara satu dua kali memberi contoh atau memberi wejangan. Perlu puluhan kali mungkin juga ratusan kali hingga mereka benar-benar mengerti apa yang harus mereka lakukan.
Abdullah Nasih Ulwan dalam Tarbiyatul Aulad mengatakan bahwa kita boleh memberi hukuman fisik pada anak dengan syarat tanpa menyakiti fisik dan psikisnya, tanpa kita merasa emosi, tidak mencederai bagian-bagain yang vital dll. Bisakah kita berbuat dengan syarat seperti ini ? Hampir tidak mungkinkan. Seringnya kita mencubit, memukul dan membentak anak dengan emosi kita. Bukan dengan nalar kita. Jika seorang sahabat rasul saja membatalkan membunuh lawannya karena adanya terlibat emosi karena diludahi, lalu mengapa kita dengan emosi berbuat kekerasan pada anak kita ?
Kita ini manusia dengan trauma kekerasan masa lalu. Di rumah, di sekolah juga di lingkungan kita pernah mendapatkan kekerasan. Di memori kita juga lebih banyak bagaimana mendisiplinkan dengan kekerasan dibandingkan dengan ketegasan dan kelembutan serta kasih sayang. Tentu ini bukan sebuah pembenaran untuk kita melakukan kekerasan, tapi sebagai dasar bahwa kita perlu memaafkan trauma itu. Kita perlu membersihkan jiwa kita agar pengasuhan pada anak-anak kita benar-benar seperti yang rasul inginkan.
Bangil, 10 April 2018
Rizqi Tajuddin
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Contact the school
Address
GG. NUSA INDAH
Mataram
83114