AMT Syndicate
30/10/2025
CORETAN SUMPAH MUHAMMAD YAMIN
Oleh Armin Mustamin Toputiri
Founder dan Ceo Toaccae Institute
Pertama; Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia
Kedoea; Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia
Ketiga; Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia
Rangkaian kata mewujud kalimat itu, bukanlah jampi-jampi, juga bukan mantra. Bukanlah bait sajak, maupun lagu. Tapi entah, rangkaian kata itu terlanjur memiliki “tuah”-nya sendiri.
Telah 97 tahun --- sejak diikrarkan pertama kali dalam Kongres (kekerapan) Pemuda II di Gedung Oost-Java Bioscoop, Stovia-Batavia, 28 Oktober 1928 --- usia rangkai kata itu, masih tetap saja mengiang. Melekat, mengiringi perjalanan sebuah negara berdaulat, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Betapa “beruntung” orang yang merumus susunan kata-kata itu. Andai NKRI kelak berusia satu juta tahun misalnya, maka rangakai kata itu p**a usianya lebih dari pada satu juta itu. Padahal, dapatlah diduga, bahwa ketika orang yang merumus kata itu, mulanya tidak sedikitpun pernah menduga jika kata yang ia rumuskan kelak akan mengiringi perjalanan suatu negara berdaulat.
Susunan kata dirumuskannya, tak lain semata karena itulah rumusan kebutuhan mendesak bagai orang-orang bumi putera dikala 1928 itu, sebelum NKRI ada. NKRI – negeri yang berdaulat --selain sebatas angan, menjadi harapan dan tekad.
Lebih mengagungkannya lagi, lembaran sejarah mengungkap jika rangkaian kata --- yang belakangan kita kenal “Sumpah Pemuda” --- itu, rumusannya hanya bermula berupa coretan tangan di atas sehelai sobekan kertas bekas.
Pimpinan sidang Kongres Pemuda II, Soegondo Djojopoespito, membacanya sebagai putusan kongres. Para perwakilan pemuda yang hadir dalam kongres itu, bersama mengikrarkan coretan itu diiringi alunan “Indonesia Raya” -- tanpa teks -- lewat biola Wage Rudolf Soepratman, meski saat bersamaan bayonet kolonial mengarah ke kerumunan mereka.
***
Nun jauh dari Batavia, di pelosok kampung Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat, tempat lahir putra juragan kopi (23 Agustus 1903) sekaligus tempat dimakam (17 Oktober 1962). Di liang lahat itu, mungkin tak lagi ada tulang berserak, memberi persaksian jika Sumpah Pemuda dulu dirumus ketua Jong Sumatranen Bond itu, ternyata abadi sepanjang republik ini ada.
Rangkaian kata dulu dirumusnya, bukan jampi-jampi dan bukan mantra, untuk dibaca di atas pusara suami R.A. Sundari Mertoatmaodjo, juga kakak kandung tokoh perfilman nasional Djamaluddin Adinegoro itu. Tapi rangkai kalimat itu, legacy penerang alam kuburnya.
Mohammad Yamin, itulah nama tertulis pada nizan makam itu. Namanya jauh terlampaui dari pop**aritas apa pernah dirumuskannya. Kita fasih mengeja Sumpah Pemuda. Seisi bangsa tahu, tanpa kita tahu siapa sesungguhnya sosok manusia yang mula pertama merumuskan teksnya di atas lembar kertas bekas.
Tanpa kita tahu, jika sosok sastrawan ini jugalah yang mula (dalam sidang BPUPKI. 29 Mei 1945) menawar rumusan Pancasila – tiga hari sebelum Soekarno menyampaikan pidato 1 Juni 1945 -- kelak menjadi idiologi (permanen) NKRI; “peri kebangsaan, peri ke-Tuhanan, peri kesejahteraan rakyat, peri kemanusiaan, dan peri kerakyatan”.
Juga tanpa kita tahu, jika dirinya jugalah sosok pemrasaran dalam Kongres Pancawarsa (I) Jong Sumatranen Bond (1923) berjudul “De maleische taal in het verleden, heden en toekomst”, yang meramal dan mengajukan Bahasa Melayu sebagai bahasa nasional.
Dan mungkin tanpa kita tahu jika inilah jugalah sosok --- anggota BPUPKI (Dokuritsu Junbi Cosakai atau dilafalkan Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai) --- yang banyak andil dalam perumusan naskah UUD 1945, khususnya pasal berkaitan soal HAM.
Bahkan uniknya, tanpa kita tahu jika visualisasi wajah Gadjah Mada, bersumber dari wajahnya.
***
Mohammad Yamin, anak bangsa dengan totalitas gagasan yang cerdas dan sistemik. Lewat goresan tangannya ia mengawal sejak NKRI belum ada, hingga benar-benar nyata. Bahkan saat usianya masih belia, 20 tahun, ia mengajukan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional.
Lima tahun berikutnya, di usia 25 tahun, gagasannya lanjut dirumuskan dalam Sumpah Pemuda. Tak hanya sebatas itu, kala usianya beranjak 42 tahun, ia coba menawar rumusan Pancasila, dan hingga titik kulminasinya dalam keterlibatannya di BPUPKI dalam merumuskan UUD 1945.
Maha karya abadi, sungguh luar biasa lahir dari anak muda Minangkabau bernama Mohammad Yamin. Kalaupun pop**aritas namanya terlampaui dari karyanya, usahlah disesali. Keabadian memang bukan datang dari niat untuk keabadian. Keabadaian datang justru dari ketidakabadian.
Rumusan Sumpah Pemuda dituliskan misalnya, bukanlah sumpah “serapah” pemuda, yang didasari emosi pada kaum penjajah yang menindas. Bukan dengan kepalan tangan --- seperti belakangan divisualisasikan tentang identitas pemuda --- tapi ia datang dengan coretan tangan.
Bukan demonstrasi, tapi diplomasi. Tidak untuk jangka pendek, tapi untuk jangka panjang, seperti dipesankan dalam bait (salah satu) sajaknya.
Adapun kami anak sekarang/ Mari berjerih berbanting tulang/ Menjaga kemegahan janganlah hilang/ Supaya lepas ke padang yang bebas/ Sebagai poyangku masa dahulu/ Karena bangsaku dalam hatiku / Turunan Indonesia darah Melayu.
LUKISAN SRI MULYANI
armin mustamin toputiri
Kediaman trio legislator artis diseruduk, seisi rumah ludes dijarah massa. Sesudahnya, viral fokus mereka sesali, jauh dari ekspektasi dibayangkan publik.
Sahroni geram akibat dua patung, statue “Iron-Man” dan “Spider-Man” miliknya dijarah. Istri Eko Patrio, meringis akibat satu tas kesayangannya ikut terjarah. Uya Kuya, sedih kucing-kucing piaraannya, p**a ikut dijarah.
Khusus Sri Mulyani, Menkeu RI -- kediamannya ikut terjarah -- paling disesali karena sebilah lukisan bunga, ia kerjakan 14 tahun lalu, p**a ikut dijarah.
***
Sri Mulyani kesal. Tak main-main, tanggung demi sebilah lukisan itu, kursi Menkeu ia duduki di kabinet Merah Putih -- diincar banyak orang – justru dipertaruhkan untuk dilepas.
"Bocor-Halus" TEMPO, mencium aroma itu. Minggu malam 02/09/2025, kediamannya dijarah. Paginya bergegas ke Hambalang. Selembar kertas ia sodor ke Prabowo, ia minta mundur dari kabinet. Pagi ditolak, sorenya di istana negara, surat itu disodor sekali lagi. Tetap saja ditolak.
Presiden Prabowo, tak sudih. Dalihnya singkat, Sri Mulyani tak boleh hengkang dari kabinet. Ia sosok ekonom, teknokrat dis**ai pasar. Jika ia pergi, dipastikan pasar ikut menjauh. Lebih lagi saat sama perekonomian dan fiskal republik ini, gonjang ganjing. Pertumbuhan ekonomi seret, rasio PDB versus pelunasan utang luar negeri, kian mendekat ke ambang batas.
***
Sri Mulyani, bukan sosok sembarangan. Kiprahnya diapresiasi lembaga bergengsi dunia. Saat sidang tahunan Bank Dunia dan IMF di Singapura, Emerging Markets menobatkannya, Menteri Keuangan Terbaik Asia 2006. Majalah Globe Asia 2007, menetapkannya Wanita Berpengaruh ke-2 di Indonesia. Di 2008, majalah Forbes mengklaim Wanita Paling Berpengaruh ke-23 dunia.
Sri Mulyani mencuat awal reformasi. Ia Kepala LPEM Fakultas Ekonomi UI, berulang mejeng di stasiun tivi, mentarjih perekonomian Indonesia mutakhir yang meyakinkan SBY. Ia pun diminta jadi Kepala Bappenas. Lalu Menkeu, juga Menko Perekonomian. Ia lalu terbang ke Washington, dia orang Indonesia pertama menduduki kursi Direktur Pelaksana Bank Dunia. Dia balik p**ang gegara Jokowi mengajak kembali jadi Menkeu. Prabowo terpilih, ia tak beranjak dari kursinya.
Sehebat begitu kiprahnya, tapi kenapa kediamannya – bahkan satu-satunya anggota kabinet Merah Putih – diseruduk dan dijarah massa? Anomali, sekira apa “dosa” Sri Mulyani?
Sesederhana sekali, sekira itulah konsokuensi mesti ia tanggung selaku bendahara negara. Di tengah Kaum Oligan “berselingkuh” penguasa, Sri Mulyani mesti pontang panting mendulang berbagai sumber pendapatan negara. Juga mengatur perbelajaannya cara efektif dan efisien.
Sri Mulyani, meminta koleganya di kabinet, agar semua lahan berproduksi, jika tidak “direbut” negara. Rekening “dormant” blokir, berharap uang bergulir membantu pertumbuhan ekonomi. Pembantuan keuangan pusat ke daerah dipangkas. Diminta efisien, carilah pendapatan sendiri. Paling banter, naikkan PBB. Asset apapun dimiliki daerah, semua mesti berpendapatan.
Nilai cukai rokok dilonjak, namun tak membuah hasil, akibat berbagai ragam rokok (non-cukai) kreasi masyarakat masuk pasar. Beralih, jajanan rakyat sekalipun, dipunguti pajak. Saat rakyat terjepit, malah toleran kenaikan tunjangan perumahan anggota DPR. Sebaliknya sinis kenaikan gaji/tunjangan guru dan dosen, dinilai membebani negara. Berbalik, ia disorot sinis oleh publik.
***
Alih-alih, segenting apa lukisan kasat mata terlihat tak dikerja profesional itu? "Lukisan Bunga itu telah raib, lenyap seperti lenyapnya rasa aman, rasa kepastian hukum dan perikemanusiaan yang adil dan beradab di bumi Indonesia," jelas Sri Mulyani di akun IG pribadinya,
Frasa kalimatnya berbalut majaz. Ia memilih kelompok kata metafora yang jika hendak ditarjih, makananya dalam. Sri Mulyani bertolak dari sebilah lukisan bunga karyanya, bukan pada indah tak indahnya, baik-buruknya, sekerdil publik memahami lukisan sebatas hiasan dinding.
Sri Mulyani mempertotonkan publik, lukisan jauh lebih dari itu. Lukisan punya jiwa, hasrat dan imajinasi tersendiri. Universal menyimpan cerita impersonal bebas ruang dan waktu, tentang perjalanan setiap orang. Sekalipun dirinya tak lagi duduk di kursi Menkeu, niscaya lukisan itu harusnya jika tak dijarah, mewujud legacy, mewaris bagi anak cucunya kelak.
Wajar jika Sri Mulyani bertaruh “value” lukisannya, dibanding material kedudukannya. Lukisan itu, tentulah maharnya tinggi. Tak semata “value” di baliknya. Jauh lebih dari itu, pelukisnya pernah tercatat; Wanita Paling Berpengaruh ke-23 di dunia.
Makassar, 9 September 2025
EMPAT JUDUL NOVEL
Armin Mustamin Toputiri
Lazimnya di waktu senggang, jika tak main cat di kanvas, saya melahap novel.
Dua pekan ini, saya melahap empat judul novel. “Royan Revolusi" (Ramadhan KH, 1986). “Harimau-Harimau” (Mochtar Lubis, 1992). “Cantik Itu Luka” (Eka Kurniawan, 2004). Dan, “Gadis Kretek” (Ratih Kumala, 2012).
Ramadhan KH, ayah mertua dari Zanas Haque, ayah drummer Gilang Ramadhan. Menulis otobiografi Soeharto, Ali Sadikin dan Jenderal Soemitro. Adapun Mochtar Lubis, ia jurnalis disegani di eranya, juga budayawan-sastrawan, menulis banyak novel. Ia lebib banyak dikenang pada isi pidatonya di TIM 1976 tentang karakter negatif Manusia Indonesia.
Eka Kurniawan dan Ratih Kumala, berdua sepasang suami istri. Eka tamat filsafat UGM, novelnya terbit 24 ragam bahasa dunia, menobatkannya sastrawan kini diperhitungkan. Ratih Kumala, alumnus Sastra Universitas 11 Maret Surakarta, ia menulis sekian novel. Novelnya “Gadis Kretek”, meraih penghargaan bergengsi. Juga telah difilmkan.
***
Saya sadar, sengaja memilih dua novel lama ditulis 1960an dan 1970-an, p**a dua novel teranyar era 2000-an. Niat saya semata – tanpa teori sastra pakem – untuk tau, tepatnya “merasai” pembeda novel karya para sastrawan mumpuni, di dua era yang berbeda.
Di era 1960-an dan 2000-an, nuansa dan kondisi sosial masing-masing melingkupi, jauh beda. Maka tema, plot, konflik dan daya ungkap masing-masing novel, tentu saja ikutlab berbeda. Lebih lagi alat tulis digunakan, di era 1960-an tersedia hanya pena dan mesin tik, sekali tulis. Tapi, era 2000-an novel dicipta dari tik computer, meralat kekeliruan, melengkapi plotnya, meralat yang keliru sangatlah enteng.
***
Khatam melumat ke-empat judul novel lama dan baru itu, benar terasa bedanya. Tentu saja, juga terasa persamaannya.
Latarnya, sama berpijak sejarah. Plotnya sama, maju mundur. Berangkatnya sama, star dari kisah persahabatan yang diramu dalam konflik muslahat bin muslihat. Dan kelak di ujung kisah saling khianat. Tragis menggemaskan, memilukan, juga bahkan menyedihkan. Keempat novel ini, tak alfa membumbui soal konflik perselingkuhan, romantisme, bahkan persetubuhan.
Pembeda yang paling terasa, novel lama berlatar sejarah, pertaruhan idiologi, juga petualangan yang kaya dan padat pesan moral. Bahasanya sederhana dan mudah dipahami. Novel baru, justru lebih padat pada plot yang kompleks, membuatnya makin kaya. Menarik meski kadang justru plot yang meliuk itu yang membosankan.
Khatam melumat empat judul novel ini, saya menempatkan “Gadis Kretek” (282 hal) di nomor wahid. “Harimau - Harimau (220 hal) di posisi kedua, lalu “Cantik Itu Luka” (494 hal) posisi tiga. Dan terakhir, "Royan Revolusi” (337 hal).
Asyiklah. Saatnya, menuntaskan "Kereta Semar Lembu" karya kenalan saya Zaky Yamani. Novelnya ini, Juara 1 Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2021.
Makassar, 15 Juli 2025
NOTE;
meski keempat novel ini bertengger di rak Pustaka Pribadi saya di rumah, tapi saya memilih melahapnya lewat E-Book. Jika berminat E-Book keempat novel ini, atau salah satunya, kirim nomor Hape Anda, saya kirimi Pdf lewat pesan WA.
30/03/2025
PRABOWO
Dari Cinjantung Bergerak ke Istana
073 Prabowo Dari Cijantung Bergerak ke Istana 073 Prabowo Dari Cijantung Bergerak ke Istana
In Memorial
DWI FUNGSI HM AMIN SYAM
armin mustamin toputiri
HM Amin Syam, berp**ang. Sosok bab penutup yang berperan di kancah "Dwi Fungsi ABRI" era Orde Baru di Sulsel. Juga, sekaligus bab pembuka yang menghantar percaturan politik nasional di Sulsel, memasuki gerbang reformasi.
Mengemban peran Dwi fungsi ABRI, berkonsokuensi bagi diri Amin Syam, ubahnya "satu koin di dua mata sisi". Dirinya satu sisi tulen tentara aktif. P**a saat yang sama, sisi lain mesti mewujud seorang politisi yang dikaryakan TNI AD bertaruh di gelanggang politik praktis.
***
Pada mulanya, Amin Syam seorang tentara aktif, institusinya TNI AD mengkaryakannya menakhodai Kabupaten Enrekang. Selanjutnya, lepas dari jabatan Bupati, setelah melewati tarik ulur politik panjang, lahirlah konsensus untuk kembali mengkaryakan Amin Syam, memimpin Golkar Sulsel. Parpol yang tak lain didirikan segolongan TNI AD yang kelak menghantar, sekaligus 32 tahun menggawangi Soeharto sebagai Presiden RI.
Gilirannya, sebagai ketua parpol pemenang pemilu 1997 di akhir Orde Baru, Amin Syam memimpin DPRD Sulsel. Dan setelahnya, laiknya berpeluang dikaryakan sebagai Gubernur Sulsel. Tapi, apa daya, kala itu dirinya konon "ditelikung" internalnya sendiri, oleh para seniornya di lingkungan purnawirawan TNI AD di Sulsel.
***
Tahun 1998, era reformasi datang, Orde Baru tumbang. Memenuhi hajat reformasi, Golkar ikut mereformasi diri, lewat Paradigma Barunya. Salah satunya, memutus mantai rantai "tiga jalur" ABG (ABRI, Birokrasi, Golkar). Golkar akhirnya mandiri, lepas dari bayang-bayang Dwi Fungsi ABRI.
Orde Baru boleh tumbang, tapi memasuki gerbang awal reformasi, Amin Syam tetap dipercaya memimpin Golkar Sulsel. Di bawah kepimimpinannya, Pemilu 1999 di awal reformasi, Golkar tetap pemegang mayoritas kursi di DPRD Sulsel. Amin Syam tetap sebagai Ketua DPRD Sulsel.
Kursi mayoritas "plus" di DPRD Sulsel itulah kelak pada Pilgub 2003 yang memilih, menghantar Amin Syam sebagai Gubernur Sulsel. Wakilnya Syahrul Yasin Limpo, tak lain adalah mantan sekretarisnya di Golkar dan juga mantan Ketua AMPI Sulsel, ormas kepemudaan yang didirikan Golkar.
Amin Syam Gubernur Sulsel. Juga, sekaligus tetap memimpin Golkar Sulsel. Menuju periode kedua sebagai Gubernur, seiring hasil Pemilu 2014, kursi diraih Golkar di DPRD Sulsel tetap mayoritas. Sebagai Ketua Golkar Sulsel, dirinya masih memiliki peluang besar melaju pada periode kedua, menduduki kursi orang nomor satu di Sulsel.
Apa daya, lahir kebijakan baru. Pilkada tak lagi melalui pemilihan anggota DPRD, tapi dilaksanakan langsung melalui pilihan rakyat. Pilgub langsung pertama kali dilaksanakan di Sulsel 2007.
Dan setelah melalui pertaruhan politik panjang yang melelahkan. P**a menghadapi proses hukum yang teramat dramatis, incumbent Amin Syam berpasangan Mansyur Ramli, akhirnya dinyatakan takluk. Dimenangkan pasangan Syahrul Yasin Limpo, dan Agus Arifin Nu'mang.
Ironisnya, Syahrul pada saat itu, tak lain adalah Wakil Gubernur, dikala Amin Syam sebagai Gubernur. Dan Agus, juga pada saat yang sama, tak lain adalah Sekreraris Golkar, dikala Amin Syam sebagai Ketua Golkar SulseI. Namun, demikianlah konsokuensi sistem politik terbuka era reformasi.
***
Alhasil, setelah jauh lebih dulu lepas dari karir militer, kelak Amin Syam p**a melepas sepatunya. Memilih berhenti dan keluar dari gelanggang politik praktis. Legowo menyerahkan tongkat estafet perpolitikan Sulsel, di tangan generasi baru, seiring sistem politik yang telah terbarukan.
Sambil sesekali mengayun raket long tennis, juga mengurusi masjid melalui Dewan Masjid Sulsel yang diketuainya. Sore ini, HM Amin Syam memasuki liang lahat, menuju alam keabadian.
Sosok, bab penutup pengemban Dwi Fungsi ABRI di Sulsel. Tentara yang dikaryakan dan berkarya di gelanggang politik praktis di Sulsel. Pada gilirannya, sang Maha pemilik kehidupan, memanggilnya p**ang.
Selamat jalan Jenderal cerdas. Selamat berpisah politisi bijak. Namamu abadi dalam kenangan. Karyamu, abadi mewaris legacy di muka bumi. Ila arwahu, al Fatihah.
Makassar, 02 September 2023
Note; serpihan cerita untuk generasi penerus
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Contact the establishment
Address
Jalan RSI Faisal Makassar
Makassar
90221