MADRASAH RASULULLAH
27/07/2019
Rabiah al-Adawiyah berbalik dari kehidupan sosialita ke kehidupan sufi yang membuatnya menyelami kedalaman.
Kalau dulu di pusaran sosialita Rabiah al-Adawiyah bersenandung memuji kegemerlapan dan dirasuki cinta kepada kesenangan duniawi, kini dalam kehidupan sufi yang dijalani Rabiah al-Adawiyah dipenuh dengan cinta terhadap Ilahi yang membuatnya tak menyisahkan ruang cinta dalam hatinya sedikit pun selain hanya untuk Sang Maha Cinta.
Rabiah al-Adawiyah senantiasa bersenandung untuk Sang Maha Cinta pusat dari segala kecintaan. Dalam perjalanan sufi, Rabiah al-Adawiyah telah menyenandungkan konsep Mahabbah (cinta) yang gema frekuensinya terdengar hingga kedalaman kerinduan akan cinta kepada Sang Maha Cinta.
Seorang sufi prempuan yang telah meletakkan konsep monumental dalam perjalanan dunia sufi. Mungkin kalangan hijaber hari ini perlu bercermin kepada perjalanan hidup seorang Rabiah al-Adawiyah. Apalagi di kalangan hijaber yang telah menyebut dirinya telah hijrah, tetapi masih s**a dan doyan nongkrong di mall-mall.
Ada baiknya merenungkan dan merefleksikan perjalanan Rabiah al-Adawiyah yang keluar dari pusaran sosialita yang glamor menuju pusaran sufi yang penuh kesederhanaan. Yang menunjukkan sikap jauh dari kemewahan dan berlebihan.
Contoh teladan hijrah yang baik bagi kalangan hijaber, yakni Rabiah al-Adawiyah yang menjauhkan diri dari cinta materi menuju cinta Ilahi. Betapa anggun dan penuh inner beauty bila para hijaber meneladaninya dalam kehidupan.
"Hendaknya kalian tidak menyebutkan kehidupan dunia. Andaikata dunia tidak bersemayam di hati kalian, tentunya kalian tidak akan menyebutkannya sedikitpun. Kerana seorang yang mencintai dunia, maka ia akan selalu mengingatinya"
[Rabiah Al-'Adawiyah Radhiyallahu 'Anha]
۞اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ۞
Perbanyaklah
20/06/2019
MENJAGA LISAN DALAM KEBOHONGAN.
DAN PENTINGNYA MENJAGA QAN'AH DAN ILMU
Penting p**a untuk diketahui, bahwa sikap Qanâ`ah akan lahir bila kita membekali diri dengan ilmu. Ilmu yang manfaat adalah ilmu yang diamalkan. Ilmu dicari untuk diamalkan, sebagaimana pena yang dibeli digunakan untuk mencatat atau cangkul yang digunakan untuk menggarap sawah, seperti itulah ilmu, ia berfungsi sebagai alat untuk beramal kebajikan. Tidak perlu banyak ilmu yang terpenting bisa termafaatkan.
Kata Nabi saw : “Barangsiapa mengamalkan ilmu yang ia ketahui, Allah akan berikan ilmu yang tidak ia ketahui.”
Misal ilmu yang bermanfaat, bahwa Anda tahu keutamaan shalat berjamaah, maka setiap waktu Anda melaksanakan shalat secara berjamaah.
Anda tahu dosa berbohong, maka jangan sampai Anda berbohong. Indikasi ketidakmanfaatan ilmu adalah bahwa tindak-tanduk Anda bertentangan dan berlawanan dengan ilmu yang Anda pelajari.
Anda tahu bahwa berbohong adalah dosa, tapi lisan Anda “basah” dengan dusta dan kebohongan.
Ilmu tidak sama dengan harta. Allah memberi kita ilmu guna dikerjakan, diajarkan, di situlah Allah akan memberi bonus. Namun berbeda halnya dengan harta.
Anda punya uang lima ribu lalu anda sedekahkan dua ribu sisanya tiga ribu. Ilmu semakin bertambah jika disedekahkan sedang harta justru menyusut jika diinfakkan.
Seorang Alim yang tidak mengamalkan ilmunya justru menjadi perusak bak pengembala kambing ditugaskan untuk menjaga domba piaraan agar tidak tersesat atau terjatuh ke jurang. Tentunya beda dengan pengembala yang jahat, ia justru menjadi sumber kecelakaan bagi domba-domba itu sendiri seperti ilustrasi kata bijak
وَرَاعِي الشَّاةِ يَحْميِ الذِّئْبَ عَنْهَا ، فَكَيْفَ إِذاَ الرُّعاَةُ لَهَا ذِئاَبُ
“Seorang pengembala kambing (bertugas) menjaga kambing dari sergapan serigala namun bagaimana halnya bila ternyata pengembala itu sendiri adalah serigala? .”
Ulama yang hidup di masyarakat, tugasnya melindungi masyarakat dari kemunkaran dan kerusakan akhlaq. Ironisnya, tidak sedikit di antara para ulama yang akhlaqnya seperti Yahudi dan Nashrani. Dengan kata lain, mereka bercirikhaskan
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?
” (Al Baqarah [02]:44)
Ayat di atas menceritakan sikap orang-orang Yahudi dan ternyata banyak dari kalangan orang-orang berilmu yang bersikap demikian p**a.
Akibat dari sikapnya itu, kaum Yahudi dan kaum Nashrani bertengger dalam kehinaan dan keburukan.
Sebab mereka mengingkari kebenaran setelah mereka mengetahui. Kebenaran yang diperoleh bukan diamalkan malah diingkari.
Jadilah mereka kaum yang hina.
الَّذِينَ آَتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri dan sesungguhnya sebagaian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.
” (Qs. Al Baqarah [02]: 146)
Wallahu a'lam Bishowab
Menyambungkan Bathin kita Kepada Sayyidina Muhammad SAW
Saat kunjungan tim
Click here to claim your Sponsored Listing.
Website
Address
Jawa
45556