Muhammadiyah

Muhammadiyah

Share

28/11/2019

Lokasi Muktamar Muhammadiyah 2020

26/11/2019

Assalamualaikum...

Mohon doanya hari ini, Selasa, 26/11, Ayahanda Din Syamsuddin akan melakukan kateterisasi jantung. Semoga berjalan lancar. Aamiin...

23/11/2019

KH. Hasyim, KH. Dahlan dan Santri Basyir

Pada awal abad ke-20 di Kauman Yogyakarta, Kiai Ahmad Dahlan sibuk melakukan pembaruan untuk menyadarkan umat Islam agar terlepas dari keterpurukan. Tetapi ide bagus ini ternyata banyak tantangannya. Tidak semua orang di Kauman setuju, bahkan ada yang menghalang-halanginya sehingga terjadi beberapa keributan.

Peristiwa-peristiwa tersebut terekam di benak anak di Kauman, termasuk salah seorang santri di Tebuireng Jombang, santri Kiai Hasyim Asy’ari. Ia memberanikan diri mengadukan kondisi ini kepada Kiai panutannya itu.

“Kiai, ada seorang tetangga di Kauman yang baru p**ang mukim di Makkah membuat sesuatu yang aneh sehingga terjadi perselisihan di antara masyarakat Kampung Kauman,” kata santri asal Kauman itu pada KH Hasyim Asy’ari.

“Siapa namanya?” tanya Kiai Hasyim.

“Ahmad Dahlan, Kiai,” jawab santri itu.

“Bagaimana ciri-cirinya?” tanya Kiai Hasyim yang menduga orang diadukan itu temannya mondok di Kiai Saleh Darat Semarang.

Santri itu kemudian menggambarkan sosok Kiai Ahmad Dahlan.

“Oh! Itu Kangmas Dahlan!” Kiai Hasyim berseru gembira.

Kiai Hasyim sudah mengenalnya dengan baik. Kiai Dahlan merupakan teman semajelis dalam pengajian-pengajian Syaikh Khatib al-Minangkabawi di Makkah. Bahkan selama mondok di Kiai Saleh Darat Semarang, Kiai Dahlan dan Kiai Hasyim tinggal satu kamar selama dua tahun. Kiai Dahlan memanggil Kiai Hasyim dengan Dimas. Sebaliknya, Kiai Hasyim memanggil Kangmas kepada Kiai Dahlan. Usia mereka terpaut 2 tahun.

Masih teringat, bagaimana mereka saling menyiapkan makanan untuk mereka berdua. Kadang yang menyiapkan Darwisy (nama muda Kiai Dahlan) dan kadang juga Hasyim. Bahkan mereka juga sering makan setalam untuk mereka berdua. Suka-duka di Pondok Kiai Saleh Darat mereka alami berdua.

Dalam beramal shalih dan menimba ilmu, mereka sudah terbiasa ber-fastabiqul khairat. Kadang Darwisy yang menang, kadang Hasyim. Tak jarang p**a seri. Ini mungkin yang menyebabkan dua santri cerdas ini cepat menyerap ilmu Kiai Saleh Darat.

“Tidak apa-apa”, kata Kiai Hasyim kepada santrinya, “Yang dia lakukan itu ndalan (ada dasarnya). Kamu jangan ikut-ikutan memusuhinya. Malah sebaiknya kamu bantu dia,” lanjut Kiai Hasyim menasihati santrinya.

Santri dari Kauman itu bernama Basyir, lengkapnya Muhammad Basyir Mahfudz. Putra Kiai Mahfudz dari Kauman, Yogyakarta. Basyir pun patuh terhadap petuah gurunya, Kiai Hasyim Asy’ari. Ia bertekad untuk dapat membantu perjuangan Kiai Haji Ahmad Dahlan kelak ketika selesai berguru dari pesantren.

http://www.suaramuhammadiyah.id/2019/07/11/dahlan-hasyim-dan-basyir/

Want your school to be the top-listed School/college in Jakarta?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Address


Jalan Panjang Cipulir Kebayoran Lama, Jakarta Sela
Jakarta
13220