GBT Tuberta HOB
1Tim 4:16 (BIL)
Perhatikanlah dirimu dan ajaranmu! Tetaplah tinggal di dalamnya, sebab dengan melakukan semua itu baik engkau maupun orang yang mendengarkan engkau akan diselamatkan.
PRAKTIK DULU, BARU MENGAJAR
Pada ayat mas kita di atas, kita diingatkan agar selalu seimbang dalam ajaran dan dalam praktik hidup.
Artinya, kita memang terpanggil untuk memberitakan Firman kepada orang lain, namun kita juga terpanggil untuk menjadi pelaku Firman yg kita ajarkan itu.
Jangan menjadi orang yg pandai mengajar, namun diri sendiri tidak mempraktikkan apa yg diajarkan.
Orang lain bisa ia selamatkan, dirinya sendiri binasa.
Itulah juga yg pernah diungkapkan Rasul Paulus dalam 1Kor 9:27.
Boleh dikatakan, inilah sebenarnya prinsip dasar pemuridan yg diajarkan Tuhan YESUS.
Jika kita mengaku sebagai murid Kristus, maka sesungguhnya kita sudah terlebih dulu mempraktikkan ajaran Kristus sebelum kita mengajarkannya kepada orang lain.
Memang diperlukan disiplin yg tinggi untuk menjalankan prinsip ini. Dan memang disiplin itu pada hakekatnya adalah bagian terpenting dari pemuridan (discipleship). Dalam ketentaraan, secanggih apa pun senjata yg dimiliki, jika kita tidak berlatih mempersiapkan dan menggunakannya, ia tidak akan berguna apa pun dalam peperangan.
Ia akan tetap tersimpan di tempatnya, sementara peperangan berkecamuk dan kita terdesak.
Firman sedahsyat apa pun, jika Sdr tidak pernah mempraktikkannya, ia akan tetap berupa tulisan yg tercetak dalam Kitab Suci, atau paling 'banter' hanya menjadi slogan hafalan yg tanpa kuasa. Mari kita selamatkan orang lain dengan terlebih dulu izinkan Firman yg menyelamatkan itu bekerja sepenuhnya dalam hidup kita. Amin.
Yer 1:7 (BIL)
Namun YAHWEH berfirman kepadaku, “Jangan berkata: ‘Aku masih muda,’ sebab, ke mana pun Aku mengutus engkau, engkau harus pergi, dan apa pun yang Aku pesankan kepadamu, haruslah engkau katakan!
TUHAN YG MENGUTUS, TUHAN YG MEMPERLENGKAPI
Bagaimana kita berpikir, begitulah jadinya kita.
Sebuah pernyataan yg terambil dari kitab Amsal 23:7. Ini soal citra diri kita.
Citra diri kita bisa negatif bila kita berpikir negatif tentang diri kita.
Tuhan tidak mau Yeremia memiliki citra diri negatif karena ia berpikir negatif tentang dirinya, bahwa dirinya masih muda dan tidak bisa apa2.
Yeremia telah dipilih Tuhan untuk memberitakan Firman ke mana pun Tuhan menyuruhnya.
Bukankah Tuhan yg akan memperlengkapi dirinya dengan pesan atau Firman-Nya, sebelum ia memberitakannya kepada siapa pun?
Begitupun dengan diri kita. Ketika kita mengumpulkan Firman setiap hari, yg turun bagaikan embun pagi ke lahan hati kita, dan menyegarkan jiwa kita.
Bukankah Firman itu p**a yg kelak kita bagikan kepada sesama kita, baik untuk menghibur, membangun, menguatkan, bahkan untuk mendidik?
Jadi, yg utama adalah bangunlah citra diri kita dengan benar. Kita adalah ciptaan baru dalam Kristus. Dialah Tuhan yg setia memperlengkapi segala kebutuhan kita, baik kebutuhan diri kita sendiri, maupun kebutuhan akan benih harus kita taburkan (2Kor 9:10).
Maka bersiap sedialah untuk berbuah lebat, sebab Dia juga akan menggerakkan kemauan dan kemampuan kita untuk bekerja bagi-Nya. Sebagaimana tertulis dalam Flp 3:13: Sebab TUHANlah yang mengerjakan di dalam kamu, baik untuk mengingini maupun mengerjakan, sesuai dengan apa yang diperkenan-Nya. Amin.
Yak 1:5 (BIL)
Jika ada di antara kamu yang kekurangan hikmat, biarlah ia memintanya dari Elohim, yang memberi kepada semua orang dengan tulus tanpa merendahkan, maka hal itu akan Dia berikan kepadanya.
TUHAN BERI HIKMAT KEPADA YG MEMINTA
Terkadang kita lupa untuk menerapkan prinsip segala sesuatu yg kita lakukan, kita melakukannya seperti kepada Tuhan.
Kita berpikir bahwa semua keseharian kita sudah biasa kita tangani dan sanggup kita atasi.
Padahal hidup manusia, siapa pun, sangat rentan, karena tiba2 saja bisa didatangi hal2 yg tak terduga.
Bahkan hal2 yg diluar kemampuannya untuk bisa ditangani.
Seharusnya, kita tidak boleh lupa untuk meminta hikmat Tuhan setiap hari.
Sebab hal itu bukan hanya akan memampukan kita melewati hari2, bahkan yg tersulit sekalipun.
Namun juga kita sedang menyatakan kerendahan hati untuk bergantung sepenuhnya pada kemurahan Tuhan.
Kita tidak akan direndahkan Tuhan, dan dianggap cengeng, kurang mandiri, dan sebagainya.
Sebab Dia mengetahui betul keadaan kita yg masih mengenakan tubuh darah daging ini. Bahkan Adam dengan segala kesempurnaan alam lingkungan sekitarnya, masih juga bisa jatuh tanpa mengandalkan Diri-Nya.
Jadi Sdr2, jangan takut, jangan ragu, mintalah hikmat kepada-Nya setiap hari! Dia pasti memberikannya kepadamu tanpa merendahkan dirimu.
Dan dengan itu, hiduplah dalam kemenangan dan damai setiap hari.
Damai dengan Tuhan, damai terhadap diri sendiri, terhadap sesama, dan terhadap lingkungan. Jadikanlah hidupmu bermakna, dan syukurilah itu sebagai bukti kemurahan Tuhan atasmu. Amin.
Dan 6:10 (BIL)
Ketika Daniel mengetahui bahwa maklumat itu telah ditandatangani, p**anglah ia ke rumahnya. Adapun jendela-jendela kamarnya terbuka ke arah Yerusalem. Tiga kali sehari Daniel bersujud, berdoa dan mengucap syukur di hadapan TUHANnya, sebagaimana yang biasa ia lakukannya sebelumnya.
UJIAN KESETIAAN
Bagi Daniel, kebiasaannya bersujud, berdoa dan bersyukur di hadapan TUHAN, bukanlah kebiasaan yg sambil lalu, tanpa rasa dan tanpa makna.
Sebab jika itu kebiasaan sambil lalu, maka ia akan sangat mudah dihentikan dengan ancaman.
Namun dalam kebiasaannya bersujud, berdoa dan bersyukur itu, Daniel merasakan benar nikmatnya.
Ia juga memaknainya sebagai bukti kasih setia TUHAN, dan kemurahan-Nya atas dirinya.
Sehingga membentuk hidupnya menjadi semakin setia. Karena itu ancaman sehebat apa pun, tidak akan pernah bisa menghentikan kebiasaannya itu.
Tidak berhenti sampai di situ, sikapnya yg tidak marah dan kecewa kepada Tuhan ketika dirinya dimasukkan juga ke gua singa, membuktikan bahwa setia itu pada hakekatnya tanpa akhir.
Dan akhirnya, TUHAN pun tidak lalai untuk menunjukkan kesetiaan-Nya kepada Daniel.
Begitupun dengan menghafal Firman. Kebiasaan menghafal Firman yg kita lakukan, janganlah menjadi kebiasaan yg sambil lalu. Menghafal Firman harus menjadi kebiasaan yg dapat kita rasakan nikmatnya, dan dapat kita maknai sebagai bukti anugerah Tuhan yg tanpa henti atas hidup kita, sehingga semakin membentuk kesetiaan kita.
Dan dengan kesetiaan itu, kita seperti sedang menyusun batu bata satu persatu, hingga berdirinya sebuah bangunan. Begitu p**a satu persatu ayat yg kita hafalkan, akan membentuk bangunan rohani yg kokoh, bahkan ketika harus menghadapi ujian sekalipun.
Ujian justru akan lebih membuktikan kesetiaan kita.
Kita tidak pernah kecewa terhadap apa pun yg terjadi dalam hidup, apalagi sampai menyerah dan putus asa. Sebab pada akhirnya, pastilah Tuhan juga membuktikan kesetiaan-Nya kepada kita. Karena itu, marilah kita terus menghafal Firman, sebab setia pada hakekatnya tidak pernah mengenal akhir. Amin.
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Contact the place of worship
Website
Address
Jakarta
10640