Ida Raihan

Ida Raihan

Share

Menjadikan Page ini sebagai wadah saling bercerita dan berbagi informasi unik mengenai apa saja

07/12/2025

Part 9
POV Author

Postingan Fero malam itu terasa seperti tam paran bagi Vania. Nanar perempuan tiga puluh lima tahun itu menatap layar ponselnya, membaca ulang kalimat demi kalimat postingan Fero.

“Jika ada wanita paling bahagia saat ini, itu adalah aku. Terima kasih, Sayang. Aku tahu kamu pasti memilihku.”

Dan foto di bawahnya…

“Ah tidak! Aku tidak boleh kalah. Tidak oleh janda ini, tidak oleh perempuan mana pun. Aku harus merebut kembali kendalinya!” gumam Vania. Rasa panas yang terasa menghina menjalar di dadanya.

Dan dia tahu, satu-satunya jembatan yang tersisa untuk kembali ke kehidupan Kamal adalah putri mereka yang baru berusia dua tahun, Meira.

Vania membuka galeri ponselnya, mencari amunisi terbaik. Sebuah foto Meira yang sedang tertidur pulas, wajahnya damai, bulu matanya yang lentik membingkai pipinya yang gembil. Sempurna. Ia mengirimkan foto itu ke nomor pribadi Kamal.

“Meira kangen Papa,” tulisnya di bawah foto itu. Tiga kata yang penuh jebakan emosional. Sebuah umpan.

Penantian itu terasa menyiksa. Setiap getaran ponsel membuat Vania berjengit. Akhirnya, setelah berjam-jam yang terasa seperti selamanya, sebuah balasan muncul.

“Jaga dia baik-baik. Kalau ada apa-apa mengenainya, kabari saja.”

Jawaban itu, yang begitu sopan, dingin, dan berjarak, terasa seperti tamparan. Fokusnya hanya pada Meira. Tidak ada sapaan hangat, tidak ada pertanyaan tentang kabar Vania.

Namun, di dalam kabut delusinya, Vania menolak untuk melihatnya sebagai sebuah penolakan. Ia memilih untuk menafsirkannya sebagai sebuah celah.

“Kalau ada apa-apa mengenainya, kabari saja.” Kalimat itu ia pegang erat-erat.

“Mas Kamal masih peduli. Dia hanya gengsi.” batinnya.

Seminggu kemudian, Vania melancarkan serangan berikutnya.

“Meira dari kemarin rewel terus, gak mau makan,” tulisnya, membumbui ceritanya dengan drama. “Panggil-panggil nama Papanya terus. Dia pengen main di Timezone bareng papa, katanya. Kasihan lihatnya.”

Balasan datang lebih cepat kali ini.

“Kapan?”

Vania tersenyum puas. Umpannya dimakan.

“Besok siang bisa? Di Mall Pondok Indah.”

“Oke.”

“Tapi ada syaratnya,” tambah Vania cepat, sebelum Kamal sempat berpikir macam-macam. “Kamu datang sendiri. Aku gak mau ada orang lain. Ini waktunya papa sama a nak.”

Di rumahnya, saat membaca pesan terakhir Vania, Kamal menghela napas panjang. Yuno, putra remajanya yang sedang duduk di sebelahnya sambil bermain game di ponsel, mengintip layar.

“Papa mau ketemu Dek Meira?” tanya Yuno, matanya berbinar. Sejak Vania pergi, ia sangat merindukan adik tirinya yang mungil itu. “Yuno ikut, ya, Yah? Kangen banget.”

Kamal mengusap kepala putranya, hatinya terasa sedikit perih.

“Maaf ya, Nak. Tante Vania bilang, Papa harus datang sendiri.”

“Loh, kenapa? Yuno kan kakaknya. Masa nggak boleh ikut?” protes Yuno, meletakkan ponselnya.

“Papa juga gak tahu,” jawab Kamal pelan, terlalu lelah untuk menjelaskan permainan manipulatif Vania. “Mungkin lain kali, ya. Papa janji.”

🔹

Keesokan siangnya, Vania mendandani Meira dengan gaun terbaiknya. Ia sendiri hanya memakai riasan tipis yang sengaja dibuat agar wajahnya terlihat sedikit lelah dan sedih. Peran seorang ibu tunggal yang tegar harus dimainkan dengan sempurna.

Kamal datang tepat waktu, sendirian. Gurat lelah terlihat jelas di wajahnya, namun tatapannya langsung melembut begitu melihat Meira, berlari kecil ke arahnya dengan langkah goyah.

“Papa!” celotehnya.

“Halo, Sayang.” Kamal langsung berjongkok, merentangkan tangannya dan memeluk tubuh mungil itu erat-erat. Ia menghujaninya dengan ciuman.

Vania hanya berdiri di kejauhan, mengamati mereka dari balik kacamata hitamnya. Hatinya terasa sakit melihat pemandangan sebuah keluarga yang seharusnya utuh itu.

“Kamu nggak ikut main?” tanya Kamal, setelah membeli kartu permainan yang saldonya cukup untuk bermain seharian.

“Nggak usah,” jawab Vania pelan, suaranya dibuat sedikit serak. “Aku lihat dari sini saja. Biar Meira puas-puasin main sama Papanya. Dia sudah kangen banget.”

Vania memilih duduk di sebuah bangku, agak jauh dari arena permainan yang riuh. Dari sana, ia menjadi sutradara tak terlihat. Ia melihat Kamal dengan sabar menemani Meira naik komidi putar mini, memasukkan bola ke keranjang, hingga hanya duduk di lantai menemaninya bermain balok.

Ia melihat tawa tulus di wajah putrinya, dan senyum lembut di wajah Kamal. Pemandangan itu ia rekam dalam memorinya, sebagai bukti betapa Kamal masih membutuhkan mereka.

Setelah hampir dua jam, mereka selesai. Vania menghampiri dengan senyum keibuan.

“Capek, ya? Kita makan, yuk?”

🔹

Di restoran Jepang favorit Kamal, Vania mengambil alih peran sebagai istri yang perhatian. Ia memesankan semua menu kes**aan Kamal tanpa bertanya.

“Kamu s**a ini, kan?” katanya sambil menunjuk menu salmon teriyaki.

Kamal hanya mengangguk pelan. Selama makan, Vania terus mencoba memulai percakapan.

“Meira keliatan senang sekali hari ini. Lihat, makannya jadi lahap.”

“Baguslah,” jawab Kamal singkat, sambil menyuapi Meira.

“Kamu… kelihatannya kurusan. Banyak pikiran, ya?” pancing Vania lagi.

“Hanya lelah,” balas Kamal, menghindari tatapan Vania.

Vania melihatnya. Kamal yang dulu. Kamal yang hangat saat menyuapi Meira. Kamal yang tertawa saat Meira berceloteh tak jelas. Kamal yang menjadi miliknya.

“Kita pulang sekarang?” tanya Kamal setelah mereka selesai makan.

“Nanti dulu,” kata Vania. “Aku, belum mau pulang, masih ada keperluan.”

“Oke,” jawab Kamal, ia terlihat sudah tidak sabar untuk pergi. “Jaga Meira baik-baik.”

Tiba-tiba ponsel Vania bergetar. Sebuah notifikasi transfer masuk.

“Kalo masih mau main atau beli apa-apa untuk Meira, aku sudah transfer tiga juta untuknya.” Kamal lalu bangkit, pamit pada Meira dengan sebuah kecupan di kening, lalu pergi meninggalkan mereka.

Vania menatap punggungnya yang menjauh, lalu beralih ke notifikasi di ponselnya.

“Tiga juta. Jadi begitu caramu menebus rasa bersalah, Mas?” gumamnya.

🔹

Malam itu, Vania tidak membawa Meira pulang ke apartemen. Ia justru menelepon Rina sahabatnya. Dia masih memiliki rencana. Rencana yang akan melibatkan Kamal lagi.

“Rin, temani aku nginap di hotel, yuk? Aku lagi nggak mau sendirian. Butuh hiburan.”

“Hah? Tumben? Ada apa?” tanya Rina penasaran.

“Nggak apa-apa. Pengen senang-senang saja. Kamal barusan transfer u ang khusus jajan buat kami bersenang-senang,” kata Vania, sengaja melebih-lebihkan.

“Wow, dia benar-benar masih peduli, Van!” Rina ikut senang dengan kabar itu.

“Sudah kubilang, Kamal tidak akan tahan berjauhan denganku. Buktinya dia kembali mencoba meraih hatiku dengan cara ini.”

“Hahaha… kamu emang the best, Van.”

“Buruan ke sini!”

🔹

Mereka menginap di Hotel Mulia selama dua malam. Vania memesan kamar suite yang mewah. Ia memanjakan Meira dan Rina dengan semua kemewahan yang bisa dibeli.

Berenang, memesan layanan kamar, membelikan Meira mainan-mainan mahal di mal. Ia menciptakan kenangan indah palsu, kenangan yang tagihannya akan ia kirimkan pada Kamal.

Setelah dua hari berpura-pura bahagia, Vania mengumpulkan semua bukti pengeluarannya. Struk hotel, tagihan restoran, bon belanjaan mainan Meira, bahkan tiket parkir mal. Semuanya ia foto dengan rapi.

Ia mengirimkan rentetan foto struk itu ke Kamal. Lalu, menambahkan puncaknya.

“Tolong direimburse. Totalnya semua ada di struk.”

Ia menunggu beberapa detik, lalu mengirim pesan lagi.

“Oh iya, kemarin waktu mau pulang dari hotel, ban mobil meletus di jalan. Terpaksa ganti ban baru. Terus sekalian aku servis juga, sudah waktunya. Ini tagihannya aku kirim juga, ya. Maklum, mobil dipakai buat antar jemput Meira, jadi harus aman.”

Disertainya foto tagihan dari bengkel, yang angkanya sengaja ia lingkari dengan editor foto.

Vania menahan napas. Ini adalah pertaruhan terbesarnya. Setengah jam berlalu dalam keheningan yang menyiksa. Lalu, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi mobile banking muncul di layar.

Transfer berhasil. Sejumlah Rp 12.550.000,-

Vania menatap angka itu dengan mata terbelalak. Dia benar-benar mentransfernya. Tanpa satu pun pertanyaan. Tanpa protes. Tanpa perdebatan.

Jantung Vania berdebar kencang, bukan karena jumlah uangnya, tetapi karena apa yang diwakilinya.

Ini adalah bukti. Bukti bahwa ia masih memiliki kuasa atas emosi Kamal. Bukti bahwa rasa bersalah di hati Kamal adalah senjatanya yang paling ampuh.

“Kamal benar-benar masih peduli. Dia hanya gengsi.” gumam Vania. Ia baru saja menemukan kunci untuk membobol brankas perasaan Kamal.

Merasa di atas angin, Vania memutuskan untuk melancarkan serangan terakhir malam itu. Ia membuka WhatsApp, mengirim pesan ke Kamal.

“Terima kasih, u angnya sudah masuk. Meira senang sekali hari ini. Dia bahkan nggak rewel sama sekali. Katanya, dia ingin segera liburan lagi bareng Papa. Sepertinya dia belum puas.”

Ia meletakkan ponselnya, tersenyum puas. Ia sudah membayangkan balasan Kamal. Mungkin sebuah persetujuan, atau setidaknya pertanyaan ‘mau ke mana?’.

Vania sangat yakin, hati Kamal mulai goyah. Tidak lama lagi dia akan mengajak rujuk dan kembali tinggal bersama. Ah rasanya Vania sudah tidak sabar menantikan momen itu.

Saat itulah ponsel Vania bergetar.

“Cepat sekali.” bisiknya. Jantungnya berdebar. Dengan penuh kemenangan, ia membuka pesan itu.

Sialnya, itu bukan dari Kamal.

“Ah, apa ini?” Vania terbelalak.

Judul: TA LAK SATU, KITA MASIH BISA KEMBALI
Penulis: Ida Raihan
Pf: KBM A p p

Want your public figure to be the top-listed Public Figure in East Jakarta?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Address


East Jakarta