AceNime
06/05/2026
Mencoba mengeksplorasi film lagi, kali ini judulnya Leon: The Professional (1994). Aku kesulitan nyari contoh yang mirip banget di anime, tapi kalau kamu s**a tema childcare, selain Buddy Daddies dan Spy x Family, aku punya beberapa rekomendasi:
1. Hinamatsuri
2. Kakushigoto
3. Kumichou Musume to Sawagakari
4. Beelzebub
Tapi yah... Hampir semuanya lebih ke menonjolkan komedi~
—Ace
01/05/2026
Belum nemu anime yang sekiranya mirip Film Lo**ta 1997 tapi satu-satunya yang buat aku ngerasain vibes yang sama itu manga Watashi ga 15-sai dewa Nakunattemo yang pernah ku bahas sebelumnya.
Kayaknya... Ini pertama kali aku bahas film 😂
—Ace
16/04/2026
Sedih aku wak
09/03/2026
Setiap ada kasus kekerasan yang viral, kolom komentar sering berubah jadi arena debat moral.
Kasus pembacokan di kampus kemarin juga begitu. Tapi kalau diperhatikan, yang diperdebatkan orang sebenarnya bukan cuma soal kejahatan, melainkan soal siapa yang pantas dianggap korban.
Ada yang reaksinya cukup lurus, "pelaku harus ditangkap, diproses hukum, dan korban harus diselamatkan."
Sekilas terlihat kaku, bahkan bisa saja dibilang "tidak paham konteks". Padahal justru ini cara pandang yang paling sejalan dengan prinsip hukum karena fokusnya jelas. Ada tindakan melanggar hukum dan ada pelaku yang harus mempertanggungjawabkannya.
Sebaliknya, ada juga yang sebelum bicara soal kejahatan justru sibuk memeriksa karakter korban. Seolah-olah ada syarat moral tak tertulis bahwa korban harus cukup "baik" dulu baru layak mendapat empati.
Kalau korban tidak memenuhi gambaran "perfect victim", simpati mulai runtuh, bahkan kadang dialihkan ke pelaku.
Pola ini tidak hanya muncul di kasus nyata. Di diskusi fiksi pun sama.
Meski tidak sama persis, penonton Takopii no Genzai pasti familiar dengan perdebatan soal Shizuka dan Marina.
Shizuka adalah korban perundungan, tapi dia bukan karakter yang sepenuhnya "baik". Marina perundung, tapi ceritanya juga menunjukkan latar belakang yang membuat sebagian penonton mencoba memahami kenapa dia menjadi seperti itu.
Kita bisa memahami kenapa seseorang menjadi pelaku kekerasan tanpa pernah menyimpulkan bahwa kekerasan itu benar. Dalam hukum pun, motif membantu menjelaskan peristiwa, tapi tidak otomatis menghapus tanggung jawab.
Masalahnya, bahkan ketika kompleksitas itu disajikan dalam fiksi, banyak orang tetap memaksanya menjadi hitam-putih. Korban harus sepenuhnya suci, pelaku harus sepenuhnya monster.
Tapi menariknya, standar itu sering berubah ketika ceritanya bergeser menjadi balas dendam. Kekerasan yang sama tiba-tiba dianggap wajar selama diarahkan kepada orang yang dianggap pantas menerimanya.
Kalau di fiksi, kita bisa anggap saja itu katarsis (pelampiasan). Tapi kalau di dunia nyata, mungkin itu tanda bahwa banyak orang punya potensi besar jadi penjahat atas nama moralitas pribadi. Serius.
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Contact the business
Telephone
Website
Address
Depok