Al-HIKAM
Sebagian dari istidroj.
dawuh Mushonnif :
مِنْ جَهْلِ المُرِيدُ اَنْ يَنسِىء الاََدَبَ، فَتُوءَخِرُ العُقـُوْبَة ُ عَنْهُ فَيَقوُلُ، لَوْكاَنَ هٰذَا سُوْءَ اَدَبٍ لَقطَعَ الاِمداد وَاَوجب الاِبعادُ، فقد يقطعُ المَدَدُ عنهُ مِنْ حيثُ لاَ يَشْعُرُ ولَولَمْ يَكُنْ الاَ منعَ المَزِيدِ وقدْ يُقاَمُ مقاَمَ البُعْدِ وهُوَ لاَيَدْرِي ولَولَمْ يَكُنْ الاَّ اَنْيُخَلِّيَكَ وَماَتُرِيْدُ
“Setengah dari tanda kebodohan murid, jika ia berbuat salah dalam beradab kepada Alloh lalu ditangguhkan hukumannya, lalu ia berkata, ‘Andaikata termasuk dosa tentu sudah diputuskan bantuan [karunia] dan sudah dijauhkan. Ingatlah! Adakalanya telah diputuskan bantuan [karunia] dengan jalan yang Ia tidak rasakan, meskipun hanya berupa tidak ada tambahan baru, dan adakalanya p**a Ia telah dijauhkan padahal ia tidak mengetahui, meskipun hanya berupa membiarkan engkau menurutkan hawa nafsumu.”
Syarah :
Putusnya bantuan dari Alloh adalah awal dari hijab. Jadi apabila murid sudah mulai terhijab sehingga ibadahnya tidak bisa khudhur kepada Alloh, itu menjadi sebab gugurnya murid dari perhatian Alloh. dan akan datang hijab dalam hatinya.
Syeikh Abul-Qasim al-Junaid rodhiyallohu ‘anhu berkata: “Ketika aku sedang menunggu jenazah bersama orang-orang banyak yang akan dishalatkan di masjid As-Syuniziyah, tiba-tiba ada seorang pengemis miskin meminta-minta, maka dalam hatiku berkata, ‘Andaikan orang itu bekerja sedikit-sedikit supaya tidak meminta-minta, tentu akan lebih baik baginya’. Dan ketika pada malam harinya, aku akan mengerjakan wirid yang biasa aku kerjakan pada tiap malam, terasa sangat berat dan tidak dapat berbuat apa-apa, sambil duduk akhirnya tertidurlah mataku. Tiba-tiba aku bermimpi, orang-orang datang membawa orang miskin itu di atas talam [baki], dan orang-orang itu berkata kepadaku, ‘Makanlah daging orang ini sebab engkau telah meng-ghibah padanya’. Maka langsung aku terbangun dan sadar, dan aku tidak merasa ghibah padanya, hanya tergerak dalam hati, tetapi aku diperintahkan meminta halal kepada orang itu, maka tiap hari aku berusaha mencari orang itu, akhirnya bertemu di tepian sungai sedang mengambil daun-daunan yang rontok untuk dimakan dan ketika aku memberi salam kepadanya, langsung ia berkata, ‘Apakah kamu akan mengulangi lagi wahai Abul-Qasim?’ Jawabku, ‘Tidak’. Maka ia berkata, ‘Semoga Allah mengampuni kami dan kamu’.”
Tanda-tanda seseorang mendapat taufik itu ada tiga:
1.Mudah mengerjakan amal kebaikan, padahal ia tidak berniat dan bukan tujuannya.
2.Berusaha untuk berbuat maksiat, tetapi selalu terhindar dari padanya.
3.Selalu terbuka baginya kebutuhan dan hajat kepada Alloh ta’ala.
Sedangkan tanda-tanda seseorang yang dihinakan oleh Alloh juga ada tiga:
1.Sulit melakukan ibadah dan taat, padahal ia sudah berusaha sungguh-sungguh.
2.Mudah terjerumus ke dalam maksiat, padahal ia berusaha menghindarkannya.
3.Tertutupnya pintu kebutuhan atau hajat kepada Alloh, sehingga merasa tidak perlu berdo’a dalam segala hal.
Rosulullah shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:
“ Tuhan telah mendidik aku sebaik-baik didikan dan menyuruhku melakukan akhlak yang sebaik-baiknya.”
Dalam satu ayat:
Ambillah hati mereka dengan s**a memaafkan, dan anjurkan perbuatan-perbuatan yang baik dan mudah, abaikanlah orang-orang yang masih bodoh, [jangan dituntut] mereka yang masih bodoh itu.
Seorang sufi kehilangan anak, hingga tiga hari tidak mendapat beritanya, maka ada orang yang berkata kepadanya, 'Mengapa engkau tidak minta kepada Alloh, supaya mengembalikan anak itu kepadamu?' Jawab sang sufi, 'Tantanganku terhadap putusan Alloh itu akan lebih berat bagiku dari pada hilangnya anak'.
Syeikh Abu Sulaiman ad-Darony rodhiyallohu 'anhu berkata: "Alloh telah mewahyukan kepada Nabi Dawud 'alaihissalam, 'Sesungguhnya Aku menjadikan syahwat hanya untuk orang-orang yang lemah dari para hamba-Ku, karena itu waspadalah jangan sampai hatimu tertawan oleh syahwat itu, sebab seringan-ringan siksa untuknya ialah Aku cabut manisnya rasa cinta kepada-Ku dari dalam hatinya".
Dan dalam bagian lain Alloh berfirman kepada Nabi Dawud 'alaihissalam, "Wahai Dawud! Berpeganglah pada ajaran-Ku, dan tahanlah nafsumu untuk ketenangan dirimu, jangan sampai engkau tertipu dari padanya, niscaya engkau terhijab dari cinta-Ku, putuskan syahwatmu untuk Aku, sebab Aku hanya memberikan syahwat itu untuk hamba-Ku yang lemah, untuk apakah orang-orang yang kuat akan memuaskan syahwat. Padahal ia akan mengurangi kelezatan bermunajat kepada-Ku, sebab Aku tidak merelakan dunia ini untuk kekasih-Ku, bahkan Aku bersihkan ia dari padanya.
Wahai Dawud! Jangan engkau mengadakan antara-Ku dengan engkau suatu alam yang dapat menghijab engkau karena mabuk pada alam itu dari pada cinta kepada-Ku, mereka hanya perampok di tengah jalan terhadap hamba-Ku yang baru berjalan. Usahakan lah untuk meninggalkan syahwat dengan banyak puasa.
Wahai Dawud! Cintailah Aku dengan memusuhi hawa nafsumu, dan tahanlah dari syahwatnya, niscaya engkau melihat kepada-Ku, dan engkau akan dapat melihat yang terbuka antara-Ku dengan engkau'."
Syeikh Ibrohim bin Adham rodhiyallohu 'anhu berkata: ''Seseorang tidak akan mencapai derajat orang-orang sholeh, kalau tidak melalui enam rintangan:
1. Menutup pintu kemuliaan, membuka pintu kehinaan.
2. Menutup pintu nikmat, membuka pintu kesulitan.
3. Menutup pintu istirahat, membuka pintu perjuangan.
4. Menutup pintu tidur, membuka pintu jaga.
5. Menutup pintu kekayaan, membuka pintu kemiskinan.
6. Menutup pintu harapan, membuka pintu siaga menghadapi maut.''
Syeikh Ibrahim al-Khawaash rodhiyallohu 'anhu berkata: ''Ketika aku ditengah perjalanan tiba-tiba merasa lapar, sehingga sampai di kota Array, maka aku berkata dalam hati, 'Di sini aku banyak sahabat, maka jika aku bertemu tentu mereka akan menjamuku, maka ketika aku telah masuk ke dalam kota, tiba-tiba aku melihat perbuatan-perbuatan mungkar [maksiat], dan aku merasa berkewajiban mencegah kemungkaran. Tiba-tiba aku ditangkap dan dipukuli oleh orang-orang'. Sehingga aku bertanya-tanya dalam hati, 'Mengapa aku dipukuli oleh semua orang padahal aku ini lapar'. Tiba-tiba diingatkan dalam hatiku, 'Engkau mendapat hukuman itu karena engkau mengharap dijamu oleh sahabat-sahabatmu'.''
Firman Alloh dalam salah satu wahyu-Nya [kepada Nabi Dawud 'alaihissalam]: ''Sesungguhnya seringan-ringan siksa-Ku terhadap orang alim jika ia mengutamakan syahwatnya dari pada cinta-Ku, maka Aku haramkan dari pada merasakan kelezatan bermunajat kepada-Ku.''
Sangat Penting bagi murid :
Al-Imam Qusyairy berkata:
Siapa saja yang menjadi murid salah satu guru sufi/thoriqoh, lalu menentang gurunya dengan hati, berarti dia sudah merusak perjanjiannya menjadi murid, dan murid tersebut harus bertaubat.
Apabila ada seorang salik yang bermaksud wushul, tapi tidak bisa wushul itu disebabkan menentang pada gurunya, karena guru sufi/thriqoh(yang sudah menetapi syarat) itu menjadi penunjuk jalan bagi para murid.
Al-Hikam pasal 76.
"Tamak akan melahirkan kehinaan"
Al-Hikam Pasal 72
لمَا اَنتَ لهُ طاَمعُ
"Engkau bebas merdeka dari segala sesuatu yang tidak engkau butuhkan, dan engkau tetap menjadi hamba kepada apa yang engkau inginkan."
Syarah ...
Hikmah ini menunjukkan hinanya tamak, dan baiknya Qona’ah.
Andaikan tidak ada keinginan-keinginan yang palsu dan sifat tamak, pasti orang akan bebas merdeka tidak akan diperbudak oleh sesuatu yang tidak berharga.
العبد حرّماقنع ٭ والحرُّعبد ٌماطمع
Budak itu merdeka/bebas selagi dia menerima pembagian dari Alloh(Qona’ah) *orang merdeka itu menjadi budak selagi dia tamak.
Qona’ah yaitu: tenangnya hati karena tidak adanya sesuatu yang sudah biasa ada. Dan qona’ah itu awal dari pada sifat zuhud.
Suatu hikayat:
Burung elang [rajawali] yang terbang tinggi di angkasa raya, sulit orang akan dapat menangkapnya, tetapi ia melihat sepotong daging yang tergantung pada perangkap, maka ia turun dari angkasa oleh karena sifat tamaknya [rakusnya], maka terjebaklah ia dari perangkap itu sehingga ia menjadi permainan anak-anak kecil.
Fateh al-Maushily ketika ditanya tentang ibarat orang yang menurutkan nafsu syahwat dan sifat tamaknya [rakusnya], sedang tidak jauh dari tempat itu ada dua anak sedang makan roti, yang satu hanya makan roti, sedang yang kedua makan roti dengan keju, lalu yang makan roti ingin yang keju, maka ia berkata kepada temannya:
"Berilah kepadaku keju.” Jawab temannya: “Jika engkau s**a jadi anjingku, aku beri keju”.
Jawab anak yang meminta: ‘Baiklah’.
Maka diikatlah lehernya dengan tali sebagai anjing dan dituntun.
Berkata Fateh kepada orang yang bertanya: “Andaikata anak itu tidak tamak [rakus] pada keju, niscaya ia tidak menjadi anjing”.
suatu kejadian, ada seorang murid didatangi oleh gurunya, maka ia ingin menjamu gurunya, maka ia keluarkan roti tanpa lauk pauk, dan tergerak dalam hati si murid sekiranya ada lauk pauknya tentu lebih sempurna. Dan setelah selesai sang guru makan apa yang dihidangkan itu, berdirilah sang guru dan mengajak si murid keluar tiba-tiba ia dibawa ke penjara untuk ditunjukkan berbagai macam orang yang dihukum, baik yang dirajam atau dipotong tangannya dan lain-lain, lalu berkatalah sang guru kepada muridnya:
Semua orang-orang yang engkau lihat itu, yaitu orang yang tidak sabar makan roti saja tanpa lauk pauk.
Ada seorang yang baru dikeluarkan dari penjara, yang masih terikat kakinya dengan rantai ia meminta-minta sepotong roti kepada seseorang, maka berkatalah orang tempatnya meminta:
Andaikata sejak dulu engkau mau menerima sepotong roti, maka tidak akan terikat kakimu itu.
Dalam hikayat lain dikisahkan:
Ada seseorang melihat seorang hakim sedang makan buah yang jatuh ke sungai, maka orang itu berkata, 'Wahai bapak hakim, sekiranya engkau mau bekerja pada Baginda Raja tentu engkau tidak sampai makan buah yang jatuh ke dalam sungai.
Lalu dijawab oleh sang hakim:
Andaikan engkau s**a menerima makanan ini, tidak perlu menjadi budaknya Raja.
Tamak Akan Melahirkan Kehinaan
Al-Hikam pasal 71
ماَ قاَدَكَ شىءٌ مثـل الوَهْمِ
"Tiada sesuatu yang dapat menuntun/memimpin engkau (pada kehinaan)seperti angan-angan [bayangan yang kosong]."
Syarah
Wahm: Ialah tiap-tiap angan-angan terhadap sesuatu selain dari Alloh, yang berarti angan-angan yang tidak mungkin terjadi. Dan biasanya nafsu itu lebih tunduk pada wahm/ angan-angan, dari pada pada akalnya. Sebagai contoh: manusia itu biasanya lari apabila melihat ular, karena dia berangan-angan ular itu akan menggigit dirinya. Apabila dia(nafsunya) tunduk pada akalnya, tentu dia tidak lari. Karena apa-apa yang sudah ditentukan Alloh pasti wujud, dan sebaliknya.
Ingatlah tidak ada orang yang bisa selamat dari sifat tamak, kecuali orang yang khusus yaitu orang-orang yang ahli Qona’ah dan berserah diri pada Alloh, yang hatinya sama sekali tidak bergantung pada makhluk (manusia).
04/02/2025
Terima kasih banyak untuk penggemar berat baru saya! 💎 Fahmi Ardiyansyah, Fikri Hakim, Mburitan Cemara, Iwan Santoso
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Website
Address
Cirebon