VAR
MBB Apparel mendedikasikan diri sebagai apparel olahraga lokal untuk customize jersey olahraga Anda. Anda dapat terlibat langsung sebagai desainer jersey Anda sendiri dengan fitur #MakeYourJersey di web kami untuk langsung mendesain jersey tim Anda sendiri. Cek website kami untuk produk-produk terbaru dari kami. Hubungi Kami:
081219527626 untuk pembelian jersey klub
089508527776 & 081315389955 untuk order customize jersey
Salam Sportifitas!
19/04/2026
Menurut cerita rakyat Thailand, Mae Nak adalah seorang wanita muda hamil yang tinggal di sepanjang Kanal Phra Kanong di pusat Bangkok bersama suaminya pada pertengahan tahun 1800-an. Suaminya, Mak, direkrut ke militer. Nak dan bayinya meninggal saat melahirkan ketika Mak sedang pergi. Namun, Mak kembali dan menemukan mereka, tampaknya, hidup dan sehat, di rumah mereka. Ketika para tetangga mencoba memperingatkan Mak bahwa Nak dan bayinya adalah hantu, keduanya secara misterius meninggal.
Begitu ia melihat Nak menampakkan dirinya sebagai hantu dengan mengulurkan lengannya melebihi ukuran manusia untuk mengambil jeruk nipis yang terjatuh, ia menyelinap pergi. Namun, istrinya yang tercinta dan telah meninggal mengejarnya. Ia bersembunyi di dalam kompleks kuil yang tidak dapat dimasuki hantu. Di sinilah Nak menghantuinya selama-lamanya dan di mana arwahnya masih disembah di sebuah kuil aneh di tepi kanal di dalam kompleks kuil Wat Mahabut di On Nut, tidak jauh dari rumah lamanya.
Kisah Mae Nak adalah salah satu kisah hantu paling terkenal di Thailand. Kisah ini telah diadaptasi untuk layar lebar, televisi, dan panggung selama beberapa generasi, dan kisah inilah yang menjadi dasar film horor Thailand terkenal, P*e Mak.
13/04/2026
𝑪𝒆𝒓𝒊𝒕𝒂 𝑯𝒐𝒓𝒐𝒓 𝑫𝒊 𝒓𝒖𝒎𝒂𝒉 𝑺𝒂𝒌𝒊𝒕
Bagi sebagian orang, rumah sakit adalah tempat untuk sembuh.
Tapi bagi yang pernah merasakannya… rumah sakit juga bisa jadi tempat yang menyimpan sesuatu yang tidak seharusnya ada.
Awal November, gue pulang ke Purwakarta. Kabar buruk datang—abah gue harus dioperasi. Tapi yang aneh, sempat ditolak karena “tidak ada kamar.”
Padahal… kata orang-orang, kamar itu sebenarnya tidak pernah kosong.
Dua hari kemudian, operasi tetap dilakukan.
Malam itu, gue dan keluarga menjenguk. Jam sudah lewat maghrib menuju isya. Lorong rumah sakit terasa panjang… dan terlalu sepi untuk tempat sebesar itu. Lampu beberapa berkedip. Bau obat bercampur sesuatu yang amis.
Kami masuk ke kamar abah.
Empat ranjang.
Tapi hanya satu yang terisi.
Abah terbaring lemah. Di sampingnya, kantong cairan merah menggantung… perlahan menetes.
Tapi bukan itu yang bikin gue merinding.
Di ranjang sebelah…
bantalnya terlihat cekung seperti habis diduduki seseorang.
Padahal, kata keluarga pasien, penghuni ranjang itu sedang dioperasi.
Gue mencoba mengabaikannya.
Tak lama, kami sadar… AC mati.
Ruangan terasa panas. Pengap. Tapi anehnya… sesekali angin dingin lewat… seperti ada sesuatu yang berjalan di belakang.
Gue keluar, manggil petugas.
Seorang suster datang. Wajahnya datar. Terlalu datar.
Dia bilang AC tidak rusak.
Tapi saat dia menekan remot…
Tidak ada respon.
Dan di saat itu…
gue melihat sesuatu.
Pantulan di layar TV hitam di sudut ruangan.
Ada bayangan berdiri… di belakang ranjang kosong.
Gue langsung menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Saat gue lihat lagi ke pantulan…
bayangan itu lebih dekat.
Suster itu pergi, katanya akan panggil teknisi besok pagi.
Besok pagi?
Kenapa bukan sekarang?
Seorang petugas pria datang. Lebih ramah. Tapi wajahnya terlihat tegang.
Gue suruh dia cek saklar.
Klik.
Klik.
AC tetap mati.
Lalu dia berkata pelan…
“Kalau jendelanya dibuka saja, Bu…”
Seketika emak gue langsung menolak.
“Jangan… serem…”
Nada suaranya berubah.
Gue heran. Ini cuma jendela, kenapa takut?
Sampai akhirnya… bibi gue berbisik pelan ke gue:
“Jendela itu… langsung ke kamar jenazah belakang…”
Jantung gue langsung berdegup keras.
Malam makin larut.
Ruangan makin panas… tapi entah kenapa, kaki gue terasa dingin.
Dingin banget.
Seperti… ada sesuatu yang menyentuh.
Gue menunduk.
Kosong.
Tapi saat gue angkat kaki sedikit…
selimut di ujung ranjang bergerak sendiri.
Perlahan.
Seolah ada yang merayap dari bawah ranjang.
Gue nggak tahan lagi.
Gue ajak adik dan sepupu keluar dari ruangan.
Saat gue menoleh terakhir kali ke dalam kamar…
Gue melihat abah.
Dia tidak tidur.
Matanya terbuka.
Menatap ke arah ranjang kosong itu.
Dan dengan suara lirih… hampir tidak terdengar…
dia berbisik:
“Ti tadi aya nu diuk di ditu…”
(Tadi ada yang duduk di situ…)
Besoknya, abah langsung dipulangkan.
Tanpa penjelasan.
Tanpa alasan jelas.
Seolah… rumah sakit itu juga tidak ingin kami terlalu lama di sana.
Beberapa hari kemudian, gue kembali untuk kontrol.
Siang hari.
Ramai.
Terang.
Normal.
Tapi saat gue melewati lorong menuju ruang periksa…
gue melihat ruangan itu lagi.
Kamar abah.
Pintunya sedikit terbuka.
Dan di dalam…
ranjang kosong itu…
sekarang sudah terisi.
Seseorang duduk di sana.
Membelakangi pintu.
Diam.
Tidak bergerak.
Dan perlahan…
kepalanya berputar…
menghadap ke arah gue.
Gue langsung pergi.
Tanpa berani melihat lagi.
Sejak saat itu gue percaya…
Tidak semua yang dirawat di rumah sakit itu…
masih hidup. 😈
12/04/2026
Malam...
12/04/2026
Apaan itu yg ngintip?
Click here to claim your Sponsored Listing.
Website
Address
Ciomas