Gie Bitte

Gie Bitte

Share

25/03/2025

Mengapa bukan 12 suku Israel yg hilang, mengapa hanya 10 ?

Jadi gini ceritanya. Setelah Raja Salomo meninggal (yang katanya paling bijak tapi tetap aja bikin kerajaan berantakan), Israel pecah jadi dua kerajaan. Kayak keluarga berebut warisan di pengadilan, tapi versi jamannya lebih dramatis. Kerajaan Utara, yang disebut "Israel," dapat jatah 10 suku, sementara Kerajaan Selatan, "Yehuda," cuma kebagian 2 suku plus para imam dari suku Lewi yang sibuk bolak-balik bawa persembahan.

Terus apa yang terjadi? Kerajaan Utara dengan 10 sukunya itu memutuskan untuk jadi anak bandel. Mereka bikin patung anak sapi emas, ngembangin agama versi mereka sendiri, dan pada dasarnya bilang, "Ah, bodo amat sama Yerusalem!" Akhirnya, Tuhan yang sudah capek mengingatkan mereka selama berabad-abad (melalui para nabi yang selalu diabaikan—klasik banget), membiarkan Kerajaan Asyur menginvasi dan mendeportasi mereka sekitar tahun 722 SM.

"Loh, terus suku Yehuda dan Benyamin gimana?" Lo mungkin bertanya-tanya. Well, mereka ternyata lebih pandai dalam strategi bertahan hidup. Mereka masih bandel sih, tapi setidaknya masih berusaha pura-pura taat. Ketika Babilonia akhirnya menginvasi dan mendeportasi mereka juga (karena, yah, masih bandel), mereka tetap menjaga identitas mereka, menolak asimilasi, dan bahkan mencatat silsilah keluarga mereka dengan obsesif.

Setelah 70 tahun di Babilonia, mereka diberi kesempatan untuk pulang dan membangun kembali. Sementara 10 suku di utara? Mereka sudah keburu "ngopi bareng" dengan bangsa-bangsa lain, lupa identitas, dan basically menjadi contoh sempurna dari "ghosting" dalam sejarah kuno.

Jadi, kenapa cuma 10 suku yang hilang? Karena 2 sisanya plus para imam itu seperti kecoa—susah banget dimusnahkan. Mereka bertahan melalui pengasingan Babilonia, dominasi Persia, penaklukan Yunani, dan penjajahan Romawi.

Photos from Gie Bitte's post 24/03/2025

Siapa dalam sejarah yang dipandang sebagai pahlawan padahal sebenarnya dia adalah orang yang mengerikan?

Terjemahan dari: Jean-Marie Valheur's answer to Who are some people we consider heroes that were actually pretty bad people?

Aku udah pernah nulis tentang dia sebelumnya, dan kayaknya perlu diulang lagi nih... Mahatma Gandhi tuh sebenernya jauh banget dari sosok yang ideal. Malah, dalam banyak hal, dia tuh bener-bener parah abis. Aku bisa ceritain tentang kegagalan dia di dunia nyata, kehidupan pribadinya yang berantakan, usahanya jadi bokap yang epic fail, dan betapa menyedihkannya dia sebagai suami... belom lagi ajaran-ajarannya yang ngaco abis.

Duh, banyak banget daftar "kelakuan busuk Gandhi" yang bisa aku sebutin, tapi yaudah deh aku coba aja ya:

Gandhi tuh suami yang jahat banget. Dia sampe ngebandingin istrinya sama sapi, katanya "penurut tapi bego dan gak ada greget".
Gandhi nyuruh istrinya buat gak pake obat Inggris, yang bikin istrinya mati gara-gara sakit. Eh taunya, dia sendiri selamat dari penyakit yang sama dengan... jeng jeng jeng... minum obat yang sama!
Gandhi pengen buktiin dia murni dengan cara... tidur telanjang bareng cewek-cewek muda, mandiin mereka pas telanjang, dan nyuruh mereka mandiin dia juga.
Cewek-cewek ini tuh masih di bawah umur, cuma remaja umur 15-16 tahun.
Dua dari cewek-cewek ini tuh cucu keponakan dia sendiri, cucu dari salah satu sodara Gandhi. Dia tuh harusnya jadi sosok yang dipercaya, bukan predator.
Dia nyuruh orang Hindu India buat nunduk-nunduk mulu tiap kali ada yang ngehina, nyerang, atau ngelabrak mereka.
Dia tuh hati-hati banget kalo berurusan sama orang Muslim India, tapi malah maksa banget ke orang Hindu buat jalan di atas tali (metaforis tentu saja). Standar ganda banget, gak adil abis.
Kalo ada cewek yang diperkosa, Gandhi bilang mending dia gak usah ngelawan dan "pura-pura mati" aja. Katanya sih mending "kasih aja apa yang pemerkosa mau".
Kalo anaknya sendiri yang diperkosa, Gandhi bilang dia lebih milih bunuh anaknya itu buat "menjaga kehormatan". Pendapat anaknya? Ah, gak penting bagi dia.
Makin banyak yang aku baca tentang Gandhi, makin keliatan dia tuh manusia s*mpah banget. Emang sih dia ngelakuin hal-hal hebat dan mencapai prestasi yang amazing. Tapi itu gak ngehapus atau ngebenerin hal-hal busuk yang dia omongin dan lakuin, menurutku.

Kadang-kadang sisi cynic-ku ngerasa negara-negara bekas penjajah tuh kegirangan banget bikin orang kayak Gandhi jadi saint, daripada milih pejuang India yang lebih militan dan badass kayak Bose. Sama kayak Spanyol yang lebih milih penulis José Rizal jadi pahlawan nasional Filipina daripada pemberontak Bonifacio yang beneran angkat senjata lawan penjajah. Atau Amerika yang doyan banget ngemuja MLK tapi malah risih sama Malcolm X...

Nggak, Gandhi tuh pilihan yang perfect buat dijadiin saint. Dia punya banyak cacat. Cacat parah. Dan dia gak terlalu radikal, atau terlalu ngebet buat "ngusir penjajah". Dalam banyak hal, dia tuh lemah kayak istrinya yang dia benci itu. India tuh pantes dapet pahlawan nasional yang lebih keren. Sama kayak negara-negara lain.

Orang bisa aja ngelakuin hal-hal hebat tapi tetep jadi manusia s*mpah. Dan Gandhi, menurutku, adalah contoh sempurna dari ini. Orang mesum, bigot, munafik dan licin, tapi dipuja kayak saint cuma gara-gara mati kayak martir dan membebaskan suatu negara. Dia tuh kayak Nabi Musa, tapi versi Hindu dan juga mesum.

Photos from Gie Bitte's post 22/03/2025

Seberapa kapitaliskah Indonesia?
Lebih ke Crony Capitalism Sih.

Indonesia itu sebenernya bukan negara kapitalis murni. Yang kita alami itu lebih tepat disebut kapitalisme kroni atau crony capitalism. Bedanya apa?

Kapitalisme sejati itu punya ciri khas: pasar bebas yang kompetitif, perlindungan hak milik yang kuat, dan peran negara yang minimal. Nah, Indonesia justru jauh dari definisi ini.

Yang kita lihat di Indonesia itu bukan kapitalisme murni, tapi "crony capitalism" - kapitalisme yang dikuasai kroni. Maksudnya, kesempatan bisnis cuma dinikmati segelintir orang yang punya koneksi dengan penguasa. Contoh paling gampang? Coba lihat grup-grup konglomerat besar kita. Mereka bisa gede karena punya "koneksi special" sama pemerintah.

Lihat aja pejabat kita. Korupsi dimana-mana. Proyek-proyek besar selalu jatuh ke "lingkaran dalam". Pengusaha yang dekat pemerintah dapat kemudahan kredit, izin bisnis, bahkan monopoli pasar. Yang tidak punya backing? Silakan antri sampai karatan.

Tapi jangan salahkan sistem aja. Rakyat kita juga sama-sama "kapitalis dadakan". Liat aja, parkir liar dimana-mana. Preman-preman bertopeng ormas minta jatah keamanan. Bahkan ada oknum agamawan yang jualan "berkah" demi meraup keuntungan.

Bedanya sama kapitalisme Amerika? Di sana orang bikin Amazon butuh puluhan tahun. Di sini? Pengen kaya mendadak. Pengen bisnis sukses instan. Makanya banyak yang terjebak investasi bodong, arisan berantai, sama MLM abal-abal.

Kapitalisme di Indonesia itu seperti kapitalisme yang belum dewasa. Masih didominasi rent-seeking behavior - mencari untung dengan cara gampang tanpa bikin nilai tambah. Orang lebih s**a jadi calo, perantara, atau makelar ketimbang bikin produk atau jasa yang bener-bener berguna.

Penegakan hukum juga lemah. Regulasi ada tapi implementasi kagak. Pengawasan mandek, sanksi cuma gertak sambal. Jadinya? Yang nakal makin berani, yang jujur makin tergerus.

Jadi kesimpulannya, Indonesia belum bisa disebut negara kapitalis sejati. Yang ada malah campuran antara kapitalisme kroni, ekonomi informal, dan praktik bisnis predator. Sistem yang ngga sehat ini bikin kesenjangan makin lebar.

Kita butuh reformasi total. Mulai dari sistem perizinan yang transparan, penegakan hukum yang tegas, sampai edukasi masyarakat soal etika bisnis. Tanpa itu, kapitalisme kita bakal tetep jalan di tempat - ngga maju-maju tapi tambah rusak.

Photos from Gie Bitte's post 19/03/2025

Bagaimana cara untuk meningkatkan daya ingat?

Dengan Tidak Mengingatnya - Cara Paradoks Meningkatkan Daya Ingat

Kalau kalian pikir meningkatkan daya ingat itu harus dengan menghapal dan latihan terus-menerus, kalian salah besar. Justru kebalikannya yang benar. Semakin keras kalian mencoba mengingat sesuatu, semakin susah diingat. Inilah yang saya sebut "paradoks ingatan".

Memori manusia itu aneh. Dia seperti anak kecil yang bandel—semakin dipaksa, semakin memberontak. Bayangkan saat kalian mencoba mengingat nama seseorang yang baru dikenal. Semakin dipaksakan, nama itu malah semakin menjauh dari pikiran. Tapi begitu kalian menyerah dan berhenti memaksa, tiba-tiba nama itu muncul sendiri.

Ketika otak kita rileks, jalur saraf di hippocampus (bagian otak yang mengatur memori) justru bekerja lebih optimal. Ini sebabnya banyak ide cemerlang muncul saat kita sedang mandi atau hampir tertidur—saat pikiran tidak sedang dipaksa bekerja.

Ketika Anda mencoba mengingat sesuatu yang hampir terlupakan, otak bekerja lebih keras dibanding saat Anda hanya mengulang-ulang informasi. Proses mengingat kembali ini memperkuat koneksi saraf.

Contohnya, saat belajar kosakata baru. Daripada mengulang kata yang sama 20 kali berturut-turut, lebih baik Anda mempelajarinya, lakukan aktivitas lain, lalu coba ingat kembali. Ini disebut "pengambilan terjeda" dan terbukti lebih efektif.

Teknik "tidak mengingat" ini dikenal juga sebagai "selective forgetting". Dengan sengaja melupakan detail yang tidak penting, otak kita jadi punya lebih banyak "RAM" untuk menyimpan informasi yang benar-benar kita butuhkan. Prinsipnya mirip dengan membersihkan kamar—buang yang tidak perlu agar yang penting lebih mudah ditemukan.

Untuk Praktiknya Kalian bisa mencoba teknik tulis semua yang ada di pikiran ke kertas atau gadget. Dengan mengeluarkannya dari kepala, kalian membebaskan kapasitas mental untuk hal lain yang lebih penting. Mirip seperti saat kalian mengeluarkan file dari komputer ke hard disk eksternal.

Satu lagi, cobalah teknik "outsourcing ingatan"—gunakan alat seperti catatan, kalender digital, atau aplikasi pengingat untuk menyimpan detail-detail kecil. Dengan menyerahkan beban mengingat jadwal dokter gigi atau tanggal bayar listrik ke alat eksternal, otak kalian jadi punya kapasitas lebih untuk hal-hal yang memang perlu diingat.

Jadi, paradoksnya: jika Anda ingin mengingat lebih baik, berilah diri Anda kesempatan untuk lupa dulu. Ini seperti melangkah mundur untuk melompat lebih jauh.

Dan Berhentilah memaksakan diri mengingat segalanya. Justru dengan melepaskan keinginan untuk mengingat, daya ingat kalian akan meningkat secara alami. Paradoks memang, tapi begitulah cara kerja otak kita.

Sumber:

Wang, J. X., et al. (2019). "Targeted forgetting and false memory formation in continual learners through adversarial examples." Nature Communications, 10(1), 4291.

Phelps, E. A., & Hofmann, S. G. (2019). "Memory editing from science fiction to clinical practice" Nature Reviews Neuroscience, 20(9), 529-544.

Want your public figure to be the top-listed Public Figure in Bima?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Culinary Team

Attire

Telephone

Website

Address


Bima