Funread Indonesia
Cita-cita Funread adalah menghadirkan buku-buku bermutu untuk menanamkan budaya cinta membaca masyarakat Indonesia.
Bismillah...
Doa dan harapan terbaik untuk karya Bapak .
16/05/2018
THANOS
Tokoh utama dalam film franchise Marvel, Avengers: Infinity War (2018) sejatinya bukan karakter villain baru dalam dunia superhero. Karakter yang serupa tapi tidak sama adalah Apocalypse yang merupakan villain dalam X-Men: Apocalypse (2016). Kedua karakter super villain ini mengejawantahkan karakter Iblis dan setan-setan pengikutnya dalam kehidupan nyata, yang pada hari-hari ini membuat kita perlu merenung lebih dalam.
Iblis adalah musuh pertama ras manusia, musuh yang utama, dan musuh selama-lamanya, sebagaimana diajarkan dalam berbagai agama. Dalam kitab suci saya, Al Qur’an, tidak kurang dari sembilan kali Tuhan mengingatkan kepada manusia dan orang yang beriman, bahwa setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Repot bagi ras manusia bahwa mereka tidak dapat melihat Iblis dan setan yang menjadi musuhnya ini dengan mata kepala dan dengan ilmu pengetahuan, sehingga dalam alam semesta nyata (bukan semesta Marvel) banyak manusia menjadi setan pengikut dan pemuja Iblis, yang mestinya menjadi musuh bagi dirinya.
Iblis adalah super villain, dia memiliki kekuatan super untuk membujuk ras manusia agar bersedia menjadi temannya di hari akhirat. Sebagaimana telah dikisahkan dalam kitab suci bahwa Iblis diberi tangguh hingga hari kiamat, untuk mencari pengikut, dari golongan jin dan ras manusia, guna menjadi temannya di dalam neraka. Iblis tidak ingin sengsara sendiri, dan Iblis senantiasa iri dengki kepada manusia yang masuk ke dalam surga.
Dalam Infinity War, Thanos menjelajah seluruh galaksi, menaklukkan satu demi satu planet, demi memperoleh kekuasaan dan juga mencari enam Akik Keabadian (Infinity Stone). Enam batu ini (akik Ruang, akik Realitas, akik Kekuatan, akik Pikiran, akik Waktu, dan akik Jiwa) jika disatukan semuanya, akan menjadikan pemiliknya sebagai Tuhan, yakni entitas yang paling berkuasa di Marvel Universe. Dalam penaklukannya atas alam semesta dan obsesinya untuk menguasai enam Akik Keabadian, Thanos membasmi separuh pop**asi planet-planet yang didatanginya. Iblis telah membujuk Thanos, makhluk asli planet Titan, dengan iming-iming kekuasaan alam semesta dan keabadian melalui Infinity Stone, sehingga mau mengikuti jalan Iblis.
Suatu benda atau suatu hal yang ditawarkan Iblis kepada manusia sebagai iming-iming untuk menyesatkannya dari jalan kebenaran, sesungguhnya telah menjadi trik tertua Iblis, sejak awal mula penciptaan.
Ang Lee, sutradara film Crouching Tiger Hidden Dragon, mengisahkan tentang pendekar tanpa tanding Li Mu Bai (Chow Yun Fat) yang harus berjuang melindungi sebilah pedang, The Green Destiny, dari incaran para pendekar-pendekar jahat yang haus kekuasaan. Konon, barangsiapa memegang pedang sakti ini akan menjadi pendekar tanpa tanding di dunia persilatan dan berkuasa tanpa ampun. Selepas Li Mu Bai wafat, perjuangan untuk melindungi pedang pusaka itu jatuh pada sahabatnya, Yu Shu Lien (Michelle Yeoh), dan kekasihnya Silent Wolf (Donnie Yen); dalam sekuel Crouching Tiger Hidden Dragon: The Green Destiny.
Kisah Marvel tentang Thanos mengingatkan kita akan “modus” tertua Iblis dalam menyesatkan makhluk: memberinya iming-iming sedemikian rupa sehingga bersedia menempuh jalan sesat. Kitab suci telah mengisahkan tentang Adam dan Hawa, yang dibujuk dengan pohon keabadian. Bujuk Iblis: barang siapa memakan buah pohon itu (dinamai buah Khuldi oleh Iblis) maka mereka akan hidup abadi dalam kerajaan surga. Padahal jelas telah dilarang bagi kedua manusia pertama itu, untuk mendekati pohon larangan ini (QS: 2:35 ; 7:19-22 ; 20:120-121).
Demikianlah, sejak awal penciptaan sampai dengan hari ini, Iblis dan setan-setan pengikutnya menggunakan modus itu untuk menyesatkan manusia agar mau menjadi pengikutnya ke dalam neraka di hari akhirat. Iblis menawarkan beragam iming-iming: buah keabadian, batu keabadian, kekuasaan politik, kekuasaan korporasi, harta benda yang berlimpah seperti Qorun, dan bahkan saking liciknya (yang membuktikan bahwa dia adalah super villain), Iblis menawarkan surga bagi siapa yang mau mengikuti jalannya.
Surga? Bagaimana mungkin Iblis menawarkan sesuatu yang tidak pernah dia miliki dan tidak pernah bakal dia dapatkan.
Salah satu modus-super Iblis adalah: menyamarkan kejahatannya dengan bungkus artifisial kebaikan. “Dan bila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi’. Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.’ Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (QS 2: 11-12)
Thanos berpikir bahwa dia telah menyelamatkan alam semesta dengan membunuhi separuh pop**asi galaksi. Thanos mengira bahwa dengan membasmi separuh kehidupan, dia akan menciptakan kehidupan alam semesta yang lebih baik dan lebih stabil. Dalam salah satu adegan yang memilukan, Thanos membasmi pop**asi planet asal Gamora, seraya berkata kepada anak perempuan itu bahwa dia akan mengadopsi Gamora, sebagai spesies terakhir planet itu.
Dan demikianlah, hingga hari ini, di galaksi ini, di bumi ini; ada orang-orang yang mengira mereka telah berbuat kebaikan, padahal mereka telah membunuhi orang-orang sipil tak bersalah secara ngawur. Ada orang-orang yang telah menyengsarakan orang lain dan masih mengira bahwa mereka melakukan kebaikan. Ada orang-orang yang dibujuk oleh Iblis akan mendapatkan surga, padahal mereka telah menempuh jalan Iblis dan menjadi pengikutnya menuju ke neraka.
Iblis. Thanos. Apocalypse. Fir’aun. Dan masih akan terus ada lagi. []
©funread.id 2018
source image: google search
08/03/2017
Sejarah Konflik Bangsa-bangsa dan Bhinneka Tunggal Ika
(Bagian 3)
Josip Broz Tito (1892-1980) adalah pendiri negara Yugoslavia, nama panjangnya adalah Republik Sosialis Federal Yugoslavia (agar esai ini menjadi agak lebih panjang). Yugoslavia semula berbentuk monarki sejak 1918 dengan nama Kerajaan Serbia, Kroasia, dan Slovenia. Lalu pada 1929, Raja Alexander I menamainya Kerajaan Yugoslavia, dengan alasan persatuan bangsa. Selama Perang Dunia II (1939-1945) Kerajaan Yugoslavia dikuasai oleh Blok Poros (Jerman, Jepang, Italia).
Selama Perang Dunia II, Marsekal Josip Broz Tito memimpin Partisan Yugoslavia, sayap militer multi-etnis yang didukung oleh Blok Sekutu, beranggotakan 800.000 milisia, dengan komposisi 44% suku Serbia, 30% suku Kroasia, 10% suku Slovenia, 5% suku Montenegro, 2,5% suku Makedonia, dan 2,5% suku Bosnia Muslim. Ketika Blok Poros kalah melawan Blok Sekutu, Yugoslavia pun mendeklarasikan kemerdekaannya, 29 November 1945, sebagai Republik. Josip Broz Tito, berayah etnis Kroasia beribu Slovenia, terpilih menjadi perdana menteri pertama sekaligus panglima tertinggi militer.
Yugoslavia berdiri sebagai federasi dari enam republik berideologi sosialisme: Bosnia-Herzegovina, Kroasia, Serbia, Slovenia, Montenegro, dan Makedonia. Semboyan negara adalah: Persaudaraan dan Persatuan. Yugoslavia dipimpin oleh Josip Broz Tito sebagai perdana menteri, dan kemudian presiden seumur hidup. Sempat mengalami lima kali usaha pembunuhan yang dirancang oleh Stalin, sebab Tito memisahkan diri dari blok komunis Uni Sovyet, dan memilih cara sosialismenya sendiri, bahkan mendirikan Gerakan Non Blok. Josip Broz Tito, akhirnya tutup usia 4 Mei 1980 pada umur 87 tahun, karena gangrene. Pemakaman Presiden Tito dihadiri presiden / raja / perdana menteri / pangeran / menteri perwakilan dari 128 negara.
Tito meninggalkan Yugoslavia dalam keadaan ekonomi sulit. Menumpuknya hutang luar negeri sebagai akibat kegagalan sistem ekonomi terpimpin sosialisme, menjadi hambatan terbesar pertumbuhan ekonomi. Angka pengangguran terus melonjak. Ketiadaan pemimpin yang kuat dan disegani membuat upaya pemulihan ekonomi turut terganjal oleh perbedaan kepentingan politik. Maret – April 1981 serangkaian protes mahasiswa dan rakyat etnis Albania di kota Pristina, Kosovo, menuntut otonomi Kosovo menjadi negara federal, berakhir rusuh. Insiden ini menjadi pemicu kebangkitan nasionalisme etnis di Yugoslavia.
Di awal 1987, rakyat Slovenia mulai berpendapat bahwa ekonomi Slovenia akan menjadi lebih baik jika merdeka dari Yugoslavia. Kesenjangan ekonomi antar negara federal tampaknya menyulut disintegrasi. Negara yang ekonominya masih lumayan baik beranggapan bahwa mereka hanya dieksploitasi oleh negara federal yang ekonominya terpuruk. Sementara negara federal yang ekonominya terpuruk menuduh negara seperti ini hanya akan merusak ”Persaudaraan dan Persatuan”.
Kejatuhan komunis di Eropa timur pada saat yang bersamaan membuat dominasi partai komunis di Yugoslavia melemah. Figur politisi senior partai komunis Yugoslavia Slobodan Milosevic (yang juga menjabat Presiden Republik Sosialis Serbia) yang tak dis**ai politisi komunis dari negara federal lain, membuka jalan bagi terbukanya sistem multi partai di negara-negara federal. Pada 8 April 1990, pemilu multi-partai berlangsung untuk pertama kali sejak Yugoslavia merdeka. Di Slovenia partai Demokrat menang pemilu. Di Kroasia partai Persatuan Demokrat Kroasia, pimpinan Franjo Tudjman, menang.
Pada 23 Desember 1990, Slovenia melakukan referendum kemerdekaan dengan hasil 88,5% memilih Republik Slovenia merdeka. Tanggal 25 Juni 1991 Republik Slovenia mendeklarasikan kemerdekaan. Deklarasi itu diikuti oleh Republik Kroasia juga memilih keluar dari Yugoslavia. Sehari berikutnya pecah perang Sepuluh Hari yang berlangsung antara Tentara Rakyat Yugoslavia dan Tentara Slovenia di perbatasan.
Di Republik Kroasia, etnis minoritas Serbia yang tak mengakui hasil pemilu dan kemerdekaan Kroasia memberontak pemerintahan Presiden Tudjman. Etnis Serbia di Kroasia membentuk milisi yang didukung pemerintahan Yugoslavia. Perang saudara berkecamuk 1991-1995, antara tentara Kroasia melawan milisi Serbia di Kroasia dan Tentara Rakyat Yugoslavia, yang didominasi oleh etnis Serbia karena militer dari etnis lain telah menyatakan desertir.
Pemisahan tanpa kekerasan terjadi di Makedonia yang mendeklarasikan kemerdekaan dari Yugoslavia pada 25 September 1991, setelah sebelumnya melakukan referendum dengan hasil 95% memilih menjadi Republik Makedonia.
Februari 1992, rakyat Bosnia-Herzegovina melakukan referendum, yang diboikot oleh etnis Serbia yang tinggal di Bosnia. Hasilnya tanggal 3 Maret 1992 Republik Bosnia-Herzegovina menyatakan kemerdekaan, dipimpin presiden Alija Izetbegovic. Tentara Republik Bosnia-Herzegovina segera dibentuk pada 15 April 1992, untuk menghadapi perang yang mungkin terjadi.
Perang Bosnia menjadi perang saudara yang paling menelan banyak korban. Etnis Serbia yang menolak referendum, dan jumlahnya di Bosnia relatif lebih banyak dibandingkan dengan etnis Serbia di Slovenia dan di Kroasia, membentuk sendiri Republik Srpska, dengan presiden Radovan Karadzic, seorang ultra-nasionalis Serbia. Tentara Srpska, dipimpin Ratko Mladic, dan didukung oleh Yugoslavia bertempur melawan tentara Bosnia-Herzegovina. Perang Bosnia menjadi makin rumit karena etnis Kroasia di Bosnia pada Oktober 1992 memproklamasikan berdirinya Republik Kroasia Herzeg-Bosnia yang didukung oleh Republik Kroasia. Pertempuran segitiga antara etnis Bosnia-Herzegovina vs. Etnis Serbia vs. Etnis Kroasia berakhir saat UNPROFOR dari PBB turun tangan dan NATO melakukan serangan udara untuk menekan pas**an Ratko Mladic.
Perang Bosnia berakhir dengan ditandatanganinya Kesepakatan Dayton 14 Desember 1995 antara Slobodan Milosevic, Alija Izetbegovic, dan Franjo Tudjman. Disaksikan oleh Bill Clinton, Jacques Chirac, John Major, Helmut Kohl, dan Viktor Chernomyrdin. Korban perang Bosnia diperkirakan 100.000 jiwa tewas atau hilang, menurut Komisi Penyidik Kriminal Perang PBB.
Disintegrasi Yugoslavia berlanjut tahun 1998-1999 dengan terjadinya perang Kosovo. Sepeninggal empat etnis mendeklarasikan kemerdekaan, etnis Albania yang mendiami provinso Kosovo, membentuk Tentara Pembebasan Kosovo, sebagai upaya separatis karena tuntutan untuk mendapatkan otonomi sebagai negara federal ditolak oleh Belgrade. Perang dihentikan dengan campur tangan NATO dan unit perdamaian PBB. Kosovo lalu menjadi wilayah pengawasan PBB.
Selepas kemerdekaan Slovenia, Kroasia, Makedonia, dan Bosnia-Herzegovina, maka hanya Republik Sosialis Serbia dan Republik Sosialis Montenegro yang berada dalam pemerintahan (bekas) Yugoslavia. Negara jelmaan ’Yugoslavia baru’ di 2003, Serbia dan Montenegro, pun hanya bertahan hingga 2006. Pada 21 Mei 2006 akhirnya Montenegro memutuskan berpisah dari Serbia dan merdeka melalui referendum. Dengan demikian hingga kisah sejarah pendek, ya pendek, ini ditulis, maka bekas Yugoslavia telah terpecah menjadi enam negara merdeka baru, yang semuanya berasal dari federasinya.
Yugoslavia meninggalkan catatan sejarah beberapa pemain sepakbola terbaik di dunia, seperti Stjepan Bobek (kroasia), Dragan Dzajic (serbia), Fahrudin Jusufi (bosnia), Dejan Savicevic (montenegro), dan Predrag Mijatovic (serbia), yang mengalahkan Juventus 1-0 dalam final Piala Champion 1998.
(Sumber gambar : wikipedia)
07/03/2017
Sejarah Konflik Bangsa-bangsa dan Bhinneka Tunggal Ika
(Bagian 2)
Paul Rusesabagina (lahir 1952) bekerja sebagai manajer di hotel Mille Collines, sebuah rantai hotel Belgia di kota Kigali, Republik Rwanda, saat konflik berdarah antara suku Hutu dan suku Tutsi berlangsung 7 April – 15 Juli 1994.
Sejak Perang Dunia I, Belgia menguasai Rwanda, dan menerapkan semacam politik devide et impera demi menjaga kuasanya. Belgia memilih suku Tutsi sebagai elit pemerintah, daripada suku lain di Rwanda, untuk duduk di pemerintahan kolonial. Di tahun 1935, pemerintah kolonial Belgia memberlakukan kartu tanda penduduk berdasarkan suku: Tutsi, Hutu, atau suku lain, sebagai identitas.
Pada 1959 – 1961 pecahlah Revolusi Rwanda, sebuah perang saudara yang berlangsung antara dua suku mayoritas di Rwanda. Suku Hutu yang merasa dipinggirkan oleh pemerintah kolonial Belgia yang mendukung suku Tutsi, melakukan revolusi politik berdarah. Dua puluh ribu orang tewas dalam revolusi. Pemerintah kolonial Belgia tersingkir, diikuti oleh eksodus ribuan pengungsi dari suku Tutsi (versi PBB 120.000 orang) ke negara-negara di sekitar Rwanda. Partai Hutu mengambil alih kuasa politik, dan memproklamirkan berdirinya Republik Rwanda, pada 1 Juli 1962, dengan presiden pertama Gregoire Kayibanda, seorang Hutu.
Konflik antar suku berlanjut di Rwanda pasca kemerdekaan dari Belgia. Pemerintahan yang didominasi suku Hutu (85% dari pop**asi) terus menekan warga suku Tutsi (14%). Sementara suku Tutsi di pengungsian di Tanzania dan Zaire melakukan gerilya mencoba merebut kembali kekuasaan di Rwanda. Hingga akhir tahun 1980-an, sekitar 480.000 orang dari Rwanda mengungsi ke Burundi, Uganda, Zaire, dan Tanzania. Pada 1988, di kota Kampala, Uganda, para pengungsi ini (terdiri dari mayoritas Tutsi dan Hutu moderat, yang menginginkan perdamaian) membentuk Front Patriotik Rwanda (RPF) sebagai sayap militer sekaligus alat politik untuk merebut pemerintahan Rwanda. Serangan terbesar RPF ke Rwanda terjadi pada 1 Oktober 1990, yang mengakibatkan pemerintah Rwanda makin menekan minoritas Tutsi yang tersisa. Ekskalasi konflik di Rwanda mengundang Dewan Keamanan PBB untuk turun tangan dengan mengirimkan pas**an perdamaian (UNAMIR) pada Oktober 1993.
Puncak konflik terjadi pada 6 April 1994, manakala pesawat Dassault Falcon 50 yang akan mendarat di bandara Kigali meledak oleh serangan dua roket yang menewaskan semua isinya, 3 kru Perancis dan 9 penumpang, termasuk Presiden Rwanda, Juvenal Habyarimana, dan Presiden Burundi, yang baru kembali dari kota Dar es-Salam, Tanzania, untuk perundingan damai. Upaya perdamaian, antara pemerintah Hutu yang berkuasa dan gerilyawan Tutsi di pengungsian, yang sedang digalang di Rwanda pun berantakan.
Sayap paramiliter radikal Hutu, Interahamwe, yang didukung oleh beberapa jenderal Rwanda, menuding penyerang roket adalah RPF. Sedangkan RPF menuding bahwa pembunuh Presiden Habyarimana adalah kelompok radikal Hutu yang tidak menginginkan perdamaian dan pembagian kekuasaan politik.
Empat belas jam setelah presiden terbunuh, Madame Agathe Uwilingiyimana, perdana menteri wanita Rwanda, seorang Hutu, bersama 10 orang Belgia anggota UNAMIR pelindungnya, terbunuh di rumahnya. Perang saudara antar suku meletus kembali di negara berpenduduk tujuh juta jiwa itu. Kali ini amat sangat fatal. Antara April hingga Juni 1994, diperkirakan sekitar 500.000 – 1 juta orang tewas. Baik dari suku Tutsi maupun Hutu.
Dalam periode 100 hari kekerasan genosidal itulah, Paul Rusesabagina seorang Hutu yang beristerikan Tatiana, seorang Tutsi, menyembunyikan 1.268 orang suku Tutsi dan Hutu dalam hotel Mille Collines. Kisah nyata Paul menyelamatkan para pengungsi ini difilmkan dengan judul Hotel Rwanda (2004) yang mendapatkan beberapa penghargaan film.
Click here to claim your Sponsored Listing.
Contact the place of worship
Telephone
Website
Address
Bantul
55186