Buku Rumi

Buku Rumi

Share

05/05/2026

Setiap pengorbanan yang dilakukan dengan tulus tidak pernah benar-benar hilang. Apa yang dilepaskan—baik itu harta, waktu, ego, atau keinginan—akan kembali dalam bentuk karunia yang sering kali lebih bermakna, meski tidak selalu dalam bentuk yang sama. Dalam logika spiritual, memberi dan melepaskan justru membuka ruang bagi anugerah yang lebih besar untuk masuk ke dalam hidup.

Sebaliknya, hal-hal yang paling kita lekatkan dan sulit kita lepaskan justru berpotensi menjadi sumber ujian. Keterikatan yang berlebihan pada sesuatu—baik itu manusia, harta, maupun ambisi—akan diuji untuk mengukur sejauh mana ketulusan dan ketergantungan kita kepada Allah. Melalui petuah ini, Rumi mengingatkan bahwa kebebasan jiwa terletak pada keikhlasan melepaskan, dan kedewasaan spiritual tumbuh ketika kita mampu menghadapi ujian dari apa yang paling kita cintai.

Dapatkan buku-buku karya Jalaluddin Rumi di marketplace kami (Shopee - Tiktoshop/Tokopedia) : bukurumi

31/12/2025

Rumi ini menggambarkan hati manusia sebagai pengelana ruhani yang tidak pernah diam, selalu bergerak mencari makna dan kebenaran. “Makrifat mengalir” menandakan bahwa pengetahuan sejati tentang Tuhan tidak datang dari hafalan atau logika semata, melainkan dari perjalanan batin yang terus berlangsung. Hati yang hidup adalah hati yang berjalan, mengalami, tersesat, lalu menemukan kembali arah—dan dalam proses itulah makrifat hadir sebagai aliran kesadaran yang lembut namun mendalam.

Sementara itu, tubuh digambarkan bukan sebagai bangkai yang mati, melainkan sebagai sesuatu yang kesepian, “seperti garam di puncak gunung”. Garam tetaplah bernilai, namun terasing dari tempat asalnya, jauh dari lautan. Metafora ini menegaskan bahwa tubuh tanpa keterhubungan dengan hati dan makrifat akan terasa hampa, bukan mati, tetapi tercerabut dari sumbernya. Bagi Rumi, manusia baru menjadi utuh ketika tubuh, hati, dan perjalanan ruhani saling terhubung—ketika yang lahiriah kembali bersatu dengan samudra makna yang melahirkannya.

22/12/2025

Ajakan mendalam untuk mempraktikkan kesadaran penuh (mindfulness) dan kepasrahan kepada Tuhan. Dalam paragraf pertama, Rumi menekankan bahwa terjebak dalam masa lalu adalah kesia-siaan, karena asal-usul dan penyesalan masa lalu berada di luar kendali manusia—bahkan misteri penciptaan semesta pun tetap menjadi rahasia Ilahi. Begitu p**a dengan masa depan; rasa takut akan hari esok dianggap tidak relevan karena segala sesuatu di dunia ini bersifat fana. Dengan menyadari bahwa penderitaan maupun kebahagiaan duniawi tidak ada yang abadi, seseorang seharusnya bisa melepaskan beban kecemasan yang sering kali melumpuhkan langkah.

Rumi menyoroti pentingnya menghargai "saat ini" (the present moment) sebagai satu-satunya realitas yang kita miliki. Ketika pikiran seseorang terpecah antara bayang-bayang masa lalu yang sudah berlalu dan kekhawatiran masa depan yang belum terjadi, ia secara tidak sadar kehilangan kesempatan untuk mensyukuri dan menjalani hidup yang sedang berlangsung hari ini. Bagi Rumi, waktu sekarang adalah pintu menuju kedekatan dengan Sang Pencipta. Dengan berhenti menoleh ke belakang dan berhenti merasa gentar terhadap hari esok, manusia dapat menemukan kedamaian batin dan kebahagiaan sejati dalam setiap helaan napas yang ia miliki saat ini.

16/12/2025

Rasa syukur adalah fondasi kedewasaan batin dan kebijaksanaan hidup. Seseorang yang tidak mampu menghargai apa yang telah dimilikinya cenderung memandang hidup dengan kacamata kekurangan, sehingga ketika kehilangan terjadi, ia lebih sibuk menyalahkan keadaan daripada bercermin ke dalam diri. Dalam pandangan Rumi, kehilangan sering kali bukan sekadar peristiwa lahiriah, melainkan cermin yang menyingkap kualitas hati: apakah ia dipenuhi rasa terima kasih atau dikuasai keluhan.

Lebih dalam lagi, ungkapan ini mengajarkan bahwa hakikat kehilangan tidak dapat dipahami tanpa kesadaran akan karunia yang telah lebih dulu hadir. Syukur melatih jiwa untuk melihat makna, bukan sekadar kepemilikan, dan membuat seseorang mampu menerima hilangnya sesuatu dengan kebijaksanaan, bukan kepahitan. Bagi Rumi, orang yang bersyukur akan memahami bahwa apa yang datang dan pergi adalah bagian dari pendidikan ruhani, sedangkan orang yang lalai dari syukur akan terus terjebak dalam pertanyaan dan penyesalan tanpa pernah menemukan jawaban yang menenangkan.

Want your business to be the top-listed Shop in Bantul?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Website

Address


Bantul
55711