Bang Enyo1

Bang Enyo1

Share

20/06/2026

Halal Tourism Jawa Barat: Jangan Berhenti di Penghargaan, Harus Menjadi Mesin Kesejahteraan Rakyat

Oleh Bang Enyoi | Perdana.Asia

Kabar bahwa wisata ramah Muslim Jawa Barat mulai dilirik pasar Asia tentu patut diapresiasi. Apalagi Jawa Barat berhasil meraih peringkat pertama dalam Indonesia Muslim Travel Index dan kini aktif mempromosikan potensinya di forum internasional di Singapura. Ini menunjukkan bahwa Jawa Barat tidak lagi sekadar menjual keindahan alam. Jawa Barat mulai menjual kenyamanan, pelayanan, dan pengalaman wisata yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan Muslim dunia.

Namun ada satu pertanyaan penting yang perlu dijawab. Setelah penghargaan diraih, setelah promosi dilakukan, dan setelah forum internasional dihadiri, lalu apa manfaat langsungnya bagi rakyat Jawa Barat? Karena tujuan akhir pariwisata bukanlah trofi atau sertifikat penghargaan. Tujuan akhirnya adalah kesejahteraan masyarakat.

Di sinilah menurut kami Kang Dedi Mulyadi memiliki peluang besar untuk menjadikan Halal Tourism sebagai salah satu mesin ekonomi baru Jawa Barat. Selama ini banyak daerah hanya fokus membangun destinasi wisata. Padahal yang lebih penting adalah membangun ekosistem ekonomi di sekitar destinasi tersebut. Destinasi yang ramai belum tentu otomatis menyejahterakan warga jika perputaran ekonominya tidak menyentuh masyarakat lokal.

Wisatawan datang bukan hanya untuk melihat gunung, pantai, atau kampung adat. Mereka juga makan di warung warga, menginap di penginapan milik masyarakat, membeli oleh-oleh lokal, dan menggunakan jasa transportasi setempat. Di situlah uang berputar dan menghidupkan ekonomi daerah. Semakin lama wisatawan tinggal, semakin besar p**a manfaat yang dirasakan masyarakat.

Karena itu, konsep Halal Tourism Jawa Barat jangan hanya berhenti pada sertifikat halal, ruang salat, atau label wisata ramah Muslim. Yang lebih penting adalah bagaimana setiap wisatawan yang datang mampu menciptakan penghasilan bagi masyarakat sekitar. Ukuran keberhasilannya bukan sekadar jumlah kunjungan. Ukuran sebenarnya adalah meningkatnya pendapatan rakyat.

KDM bisa mendorong lahirnya ribuan UMKM wisata halal di seluruh Jawa Barat. Mulai dari kuliner tradisional, homestay berbasis keluarga, pusat oleh-oleh lokal, hingga pemandu wisata yang siap melayani wisatawan mancanegara. Pemerintah cukup menjadi fasilitator dan pembuka jalan. Sementara pemain utamanya tetap masyarakat.

Jangan sampai wisatawan datang ke Jawa Barat, tetapi uangnya justru berputar di perusahaan-perusahaan besar yang tidak memiliki keterkaitan langsung dengan warga sekitar. Yang harus menjadi penerima manfaat utama adalah rakyat Jawa Barat sendiri. Mereka yang menjaga alam, budaya, dan keramahan daerah selama ini. Mereka p**a yang harus merasakan hasilnya.

Selain itu, promosi wisata halal jangan hanya terpusat di Bandung atau kawasan Puncak. Jawa Barat memiliki Ciamis, Pangandaran, Garut, Tasikmalaya, Kuningan, Majalengka, Sukabumi, Subang, hingga Cirebon yang menyimpan potensi luar biasa. Setiap daerah memiliki kekhasan yang dapat dijual kepada wisatawan Muslim dunia. Tinggal bagaimana potensi tersebut dipetakan dan dikembangkan secara serius.

Jika setiap daerah memiliki satu atau dua destinasi halal unggulan yang benar-benar dikelola dengan baik, dampaknya terhadap ekonomi lokal akan sangat besar. Lapangan kerja baru akan tercipta. UMKM akan tumbuh lebih cepat. Dan ketimpangan pembangunan antarwilayah dapat perlahan dikurangi.

KDM juga perlu menghubungkan program wisata halal dengan agenda pengentasan kemiskinan. Misalnya melalui pembiayaan UMKM wisata, pelatihan digital marketing, peningkatan kualitas produk lokal, hingga kemudahan perizinan usaha. Dengan begitu, wisata tidak hanya menjadi sektor hiburan. Wisata menjadi alat pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Karena wisata yang baik bukan hanya menghasilkan foto-foto indah di media sosial. Wisata yang baik adalah wisata yang membuat warung warga lebih ramai, penginapan rakyat lebih terisi, dan produk UMKM lebih laku terjual. Wisata yang baik adalah wisata yang membuat dapur masyarakat tetap menyala. Itulah ukuran yang paling mudah dirasakan rakyat.

Pada akhirnya, keberhasilan Halal Tourism Jawa Barat tidak boleh diukur dari banyaknya penghargaan yang diterima. Keberhasilannya harus diukur dari berapa banyak UMKM yang naik kelas, berapa banyak anak muda yang mendapatkan pekerjaan, dan berapa banyak keluarga yang kehidupannya menjadi lebih baik. Jika itu yang terjadi, maka Halal Tourism bukan sekadar program pariwisata. Ia akan menjadi mesin kesejahteraan baru bagi rakyat Jawa Barat.

Dan jika KDM mampu mengarahkan kebijakan ke sana, Jawa Barat tidak hanya akan menjadi destinasi wisata ramah Muslim terbaik di Indonesia. Jawa Barat juga bisa menjadi contoh bagaimana pariwisata digunakan untuk mengurangi kemiskinan dan memperkuat ekonomi rakyat. Sebab pada akhirnya, pembangunan yang paling baik adalah pembangunan yang manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat. Bukan hanya terlihat indah di atas kertas dan panggung penghargaan.

20/06/2026

Program Prabowo Bagus, Komunikasinya yang Jelek

Oleh Bang Enyo1 | Perdana.Asia

Kalau kita jujur, banyak program Presiden Prabowo sebenarnya bagus.

Makan Bergizi Gratis bagus. Ketahanan pangan bagus. Koperasi desa bagus. Hilirisasi industri bagus. Pembangunan sekolah dan peningkatan kualitas SDM juga bagus.

Masalahnya, sering kali rakyat tidak menangkap kebaikan program-program itu karena kalah oleh buruknya komunikasi para pejabatnya.

Di sinilah kita melihat perbedaan yang cukup mencolok dengan gaya komunikasi Kang Dedi Mulyadi (KDM).

Setuju atau tidak dengan seluruh kebijakannya, KDM memiliki satu kelebihan yang sulit dibantah. Ia mampu berbicara dengan bahasa yang dipahami rakyat biasa.

Bahasanya sederhana. Contohnya dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tidak banyak istilah teknokratis. Tidak banyak angka-angka yang membuat rakyat bingung.

Akibatnya, kebijakan yang keras sekalipun sering kali lebih mudah diterima masyarakat karena rakyat memahami alasan di balik kebijakan tersebut.

KDM tidak berbicara dari menara gading. Ia berbicara dari sawah, dari kampung, dari pinggir jalan, dari warung kopi, dan dari media sosial yang langsung menyentuh emosi masyarakat.

Sementara itu, sebagian pejabat di sekitar Presiden Prabowo masih terlihat terlalu elitis.

Bahasanya kadang terasa seperti presentasi seminar. Penjelasannya sering lebih cocok untuk ruang rapat dibanding ruang publik. Akibatnya, pesan yang sampai ke rakyat sering berbeda dengan maksud yang ingin disampaikan pemerintah.

Padahal hari ini yang dibutuhkan bukan hanya kebijakan yang benar. Yang dibutuhkan adalah kemampuan menjelaskan kebenaran itu kepada rakyat.

Ada satu hal lagi yang perlu dipahami.

Pilpres sudah selesai. Prabowo menang. Tetapi jutaan rakyat Indonesia dulu memilih kandidat lain.

Mereka bukan musuh negara. Mereka bukan lawan yang harus terus dicurigai. Mereka adalah rakyat Indonesia yang juga harus dirangkul.

Sayangnya, sebagian pejabat masih terjebak dalam suasana kompetisi politik. Seolah-olah setiap kritik adalah serangan. Seolah-olah setiap pertanyaan adalah ancaman.

Padahal rakyat yang dulu berbeda pilihan politik justru perlu lebih banyak diajak bicara. Mereka perlu diyakinkan bahwa program pemerintah dibuat untuk seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya untuk pendukung pemerintah.

Di sinilah pelajaran penting dari gaya komunikasi KDM.

Ia sering mendatangi orang yang marah kepadanya. Ia mendatangi orang yang mengkritiknya. Ia mendatangi kelompok yang tidak setuju dengannya.

Bukan selalu untuk mengalah, tetapi untuk menjelaskan.

Karena orang yang merasa didengar biasanya lebih mudah menerima perbedaan pendapat.

Pemerintahan Prabowo membutuhkan lebih banyak pejabat yang turun ke lapangan dan lebih sedikit pejabat yang hanya bicara dari balik podium.

Membutuhkan lebih banyak dialog dan lebih sedikit jargon. Membutuhkan lebih banyak empati dan lebih sedikit kesan superior.

Sebab rakyat tidak selalu menuntut kesempurnaan. Rakyat hanya ingin dihargai. Rakyat hanya ingin didengar. Dan rakyat hanya ingin tahu bahwa pemerintah hadir untuk semua, termasuk mereka yang dulu tidak memilih Prabowo.

Program yang baik memang penting. Tetapi komunikasi yang baik akan membuat program itu diterima.

Karena dalam politik, kebijakan memenangkan anggaran. Namun komunikasi memenangkan hati rakyat.

Dan tanpa hati rakyat, program sebesar apa pun akan selalu menghadapi jalan yang lebih terjal.

Mungkin sudah saatnya para pejabat di sekitar Presiden Prabowo belajar dari KDM. Belajar turun ke bawah, belajar berbicara dengan bahasa rakyat, dan belajar merangkul mereka yang dulu berbeda pilihan politik. Sebab persatuan bangsa tidak dibangun dengan kemenangan pemilu semata, tetapi dengan kemampuan merangkul seluruh anak bangsa setelah pemilu usai.

19/06/2026

Jejak Fatimah: Pernah Selfie Bareng Fahri Hamzah, Kini Berdiri di Tengah Badai Kritik

Oleh Bang Enyo1 | Perdana.Asia

Foto lama itu kembali beredar.

Dalam gambar tersebut terlihat seorang remaja perempuan cantik dan berhijab sungguh sangat manis berdiri di samping Fahri Hamzah. Keduanya tampak berfoto bersama dalam sebuah acara bertajuk *Ngopi Bareng Fahri Hamzah*.

Bagi sebagian orang, foto itu mungkin hanya dokumentasi biasa. Sebuah kenangan dari kegiatan diskusi yang pernah diikuti seorang pelajar atau mahasiswa.

Namun dalam konteks hari ini, foto tersebut menghadirkan pertanyaan yang lebih menarik.

Siapa sangka, gadis yang dulu duduk mendengarkan gagasan di sebuah forum diskusi kini menjadi salah satu nama yang ramai diperbincangkan di ruang publik Kehidupan memang sering bergerak dengan cara yang tidak terduga.

Banyak tokoh besar memulai perjalanan mereka bukan dari panggung utama. Mereka hadir sebagai peserta, pendengar, atau sekadar penikmat diskusi yang haus akan pengetahuan.

Mungkin saat foto itu diambil, tidak ada yang membayangkan bahwa nama Fatimah suatu hari akan menjadi perbincangan banyak orang.

Tidak ada yang tahu bahwa jejak digital sederhana itu kelak akan kembali dicari dan dibicarakan.

Namun begitulah kehidupan. Setiap perjalanan selalu meninggalkan jejak.

Dan sering kali jejak itu baru terlihat penting ketika seseorang mulai berada di bawah sorotan.

Menariknya, foto tersebut juga memperlihatkan satu hal yang jarang disadari banyak orang.

Bahwa ruang diskusi memiliki kekuatan membentuk cara berpikir seseorang.

Forum-forum seperti itulah yang mempertemukan anak muda dengan gagasan, tokoh, dan berbagai sudut pandang yang berbeda.

Di sanalah seseorang belajar mendengar. Di sanalah seseorang belajar bertanya. Dan di sanalah seseorang mulai membangun keberanian untuk menyampaikan pendapatnya sendiri.

Hari ini publik boleh setuju atau tidak setuju terhadap Fatimah. Publik boleh mendukung atau mengkritiknya.

Itu adalah bagian dari dinamika kehidupan demokrasi yang sehat.

Namun foto lama ini mengingatkan kita bahwa setiap orang memiliki perjalanan panjang sebelum dikenal publik.

Ada proses yang tidak terlihat. Ada ruang belajar yang tidak selalu diketahui orang lain. Ada jejak-jejak kecil yang pada masanya mungkin dianggap biasa, tetapi belakangan menjadi bagian dari cerita yang lebih besar.

Karena itu, yang menarik dari foto ini bukan semata-mata keberadaan Fahri Hamzah atau sosok Fatimah.

Yang menarik adalah bagaimana waktu bekerja.

Foto yang dulu hanya menjadi kenangan sebuah forum diskusi, kini berubah menjadi potongan sejarah kecil yang memperlihatkan perjalanan seorang anak muda menuju ruang publik.

Dan seperti banyak perjalanan lainnya, kisah itu masih belum selesai ditulis.

Waktu akan menentukan ke mana langkah berikutnya diarahkan.

Sementara publik hanya menjadi saksi yang membaca jejak-jejak yang tertinggal di belakangnya.

Tulisan saya ini bukan bermaksud ingin mengatakan Fatimah orangnya Fahri Hamzah yah?

Karena siapa sih yang gak s**a sama Fahri Hamzah masa masa itu.

Want your public figure to be the top-listed Public Figure in Bandung?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Address


Bandung
40211