Uyang Bagan

Uyang Bagan

Share

Photos from Uyang Bagan's post 19/09/2021

Dalam rangka membahas c***r Bagan Heritage tepatnya di Kota Bagan Siapi-api, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Riau. Gubernur Riau (Gubri) Syamsuar menggelar rapat bersama Tim Ahli C***r Budaya (TACB) Nasional, di Rumah Dinas Gubri, Sabtu (18/9/2021).

"Pertemuan ini tentunya dalam rangka untuk mempersiapkan sedikit hal - hal yang berkenaan atau informasi mengenai apa saja (warisan budaya) yang ada di Rokan Hilir khususnya Kota Bagan Siapi-api," kata Gubri.

Gubernur Riau menuturkan bahwa Kota Bagan Siapi-api yang merupakan tempat kelahirannya ini, masih memiliki potensi budaya yang sangat besar dan juga masih terdapat peninggalan - peninggalan sejarah dan c***r budaya yang belum dimanfaatkan secara maksimal dalam pengembangan pariwisatanya.

"Saat ini kita mengandalkan bakar tongkang dan itu dilaksanakan hanya satu kali dalam setahun makanya saya sampaikan kepada Pak Bupati Rohil sangat sayang kalau kita hanya mengandalkan bakar tongkang (karena banyak potensi di Rohil yang bisa dikembangkan)," ujarnya.

Kemudian, ia mengatakan bahwa pihaknya juga telah melakukan koordinasi dengan Kepala Daerah Kabupaten dan Kota se Riau untuk melakukan inovasi dan berkreativitas hal ini bertujuan agar bisa menimbulkan income didaerahnya.

"Saya sampaikan kepada para bupati bisa untuk berinovasi bisa menimbulkan income untuk rakyatnya terutama untuk mengembangkan usaha - usaha kreatif," lanjutnya.

Selanjutnya, ia menyebutkan bahwa Kota Bagan Siapi-api ini juga pernah terkenal dengan kota ikan, yaitu kota penghasil Ikan terbesar kedua di dunia 1928, namun saat ini telah menurun. Untuk itu, Gubernur Syamsuar ini mengatakan bahwa pihaknya telah bertemu dengan Menteri Kelautan dan Perikanan di daerah Bagan Siapi-api ini untuk menjadi perhatian.

"Insyaallah akan dibangun kembali pelabuhan ikan di Bagan," sebutnya.

Syamsuar menyampaikan rapat ini mempersiapkan Bagan Siapi-api sebagai kota c***r budaya. Ia juga berharap melalui rapat ini bisa berdiskusi kepala daerah untuk membentuk tim c***r budaya sehingga nantinya mudah untuk mengembangkan c***r budaya di daerah masing-masing.



📸|© Diskominfotikriau
"informasi selengkapnya silahkan cek www.mediacenter.riau.go.id"

18/04/2020

Iman Emansipasi
Yudi Latif

Saudaraku, pandanglah pendar cahaya sang surya. Terang keemasan mengeluarkan hari dari gelap.

Datang tak diundang, pergi tanpa pamit; menghidupkan seluruh makhluk, melayani tanpa kecuali, mengajak semua rayakan sang kala; bangunkan daya-karya segala nan hayat.

Bila mentari yang mati rasa bisa bangunkan yang hidup. Manusia yang punya rasa mesti lebih bisa bangkitkan yang mati.

Entah seberapa karatan daya pikir kita mati. Otak manusia bak superkomputer kapasitas jutaan megabit, disiasiakan tanpa pemanfaatan.

Entah seberapa limpah karunia kekayaan alam kita mati. Gelimang sumberdaya negeri, memadai makmurkan negeri, terkikis habis tanpa nilai tambah.

Entah seberapa parah sensitivitas hati kita mati. Berkah ragam agama-budaya pengasah bela rasa berbelok salah ajar, mengeras jadi fosil ritual tanpa roh kasih.

Ketika yang hidup hanya mengandalkan yang mati, seterang apapun sinar mentari tak bisa menyalakan nurani.

Di langit jiwa yang mati, manusia berjalan bagai zombie. Tumpul rasa, asing diri. Tak kenal asal, tak tahu tujuan. Mega mendung menyelimuti langit hati.

Di tengah kehidupan yang kelam, penduduk negeri menanti kedatangan bintang penuntun. Bagaimana bisa terlahir juru selamat tanpa terang jiwa?

Orang-orang harus menyalakan sumbu kalbu. Sesungguhnya setiap pancaran jiwa itu sanggup menerangi alam batin kehidupan. Cahaya hati manusia agung bisa bangkitkan matahati jutaan manusia dari dekapan kegelapan.

Sayang, banyak manusia cuma mengutuk kegelapan. Menanti cahaya ibarat pungguk rindukan bulan. Terlanjur menikmati jalan sesat, tak kuasa menempuh jalan tobat. Tak bisa melihat betapa setiap pendosa memiliki masa depan, seperti setiap pensuci memiliki masa lalu.

Orang-orang percaya mestinya punya sukma bercahaya. Pancaran kalbunya bergerak meninggi mendekati mentari di titik zenit.

Dengan penglihatan jiwa di kerendahan permukaan tanah, yang tampak hanyalah perbedaan pepohonan. Dengan penglihatan jiwa dari ketinggian terbang elang garuda, segala perbedaan pohon tampak menyatu dalam hutan yang sama.

Setiap amal shalat dan ibadah mestinya gerak mikraj satu derajat lebih tinggi dalam pancaran jiwa. Jika cahaya iman pemeluk semua agama serempak meninggi setingkat kunang-kunang saja, jutaan manusia bisa dituntun keluar dari kegelapan. Dari kesadaran penglihatan cahaya iman yang menjulang, semua warna menyatu, rasa bersambung, rezeki berbagi. Itulah jalan emansipasi sejati!

(Makrifat Pagi, Yudi Latif)

Want your business to be the top-listed Media Company in Bagansiapiapi?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Website

Address


Bagansiapiapi