Sarkub Mesir
هذه صفحة رسمية لمجموعة من الطلاب الإندونيسين بالأزهر الشريف محبّي أهل بيت النبي والأولياء والعلماء والصالحين بأرض مصر المحروسة.
ننشر المعلومات عن مواقع الأضرحة بمصر أرض الأنبياء والأولياء وتراثهم من الوصايا والمسالك لأجل التقرّب والوصول إلى الله جلا وعلا.
ربنا اجعلنا من أهل العلم ومحبّيه واجعلنا من عبادك الصالحين.. آمين
--
SarKub Mesir, komunitas terbuka; berbagi informasi khazanah peninggalan
14/04/2026
Syekh Musa Jarullah Ar-Rusi (Rusia)........
Lewat di fyp saya bahwa Kedutaan Besar Rusia untuk Mesir menziarahi makam tokoh besar Rusia, seorang pemikir ulung Muslim yang dimakamkan di masih di kompleks Qarafah Mujawirin, dekat Makam Syekhul-Azhar Ibrahim Al-Bajuri. Ini beritanya:
https://www.facebook.com/share/v/1ARzyUVnea/
Jadi di Kairo itu setidaknya ada tiga makam ulama Eropa: Syekh Musa Jarullah Ar-Rusi (Rusia), Syekh Abdulwahid Yahya Al-Faransi (Prancis), dan Syekh Al-Mahdi As-Suwaisri (Swiss). Sarkub Mesir sudah pernah mengadakan ziarah ke Makam Syekh Musa Jarullah ini.
Beliau punya karya terkenal berjudul Al-Wasyi'ah fi Naqd 'Aqa'id Asy-Syi'ah. Berikut saya cantumkan biografi ringkasnya.
1. Asal-usul dan Pendidikan Awal
Musa Bigiev lahir pada tanggal 24 September 1874 di desa Kikino, Provinsi Penza, Kekaisaran Rusia. Ia lahir dari keluarga ulama; ayahnya adalah seorang akhund (pemuka agama).
• Pendidikan Sekuler: Tidak seperti banyak ulama tradisional, Bigiev menyelesaikan pendidikan di sekolah menengah teknis (Real Lyceum) di Rostov-on-Don, yang memberinya dasar ilmu pengetahuan alam dan matematika.
• Pendidikan Agama: Ia berkelana mencari ilmu ke berbagai pusat peradaban Islam:
— Kazan & Bukhara: Mempelajari bahasa Arab, Persia, filsafat, dan astronomi.
— Mesir (Universitas Al-Azhar): Berguru langsung pada pemikir reformis seperti Muhammad Abduh.
— India & Hijaz: Mengunjungi madrasah-madrasah besar di India (seperti Deoband) dan menghabiskan waktu di Mekkah serta Madinah.
2. Karier di Rusia (Hingga 1930)
Sekembalinya ke Rusia pada tahun 1904, ia menjadi tokoh sentral gerakan Jadidisme (pembaharuan Islam di Rusia).
• Imam & Aktivis: Ia menjabat sebagai Imam Masjid Agung Petrograd (St. Petersburg) dan aktif dalam politik melalui partai Ittifaq Al-Muslimin.
• Lawan Intelektual Komunisme: Pada tahun 1923, ia menerbitkan buku "Islam Milletlerine" (Kepada Bangsa-bangsa Muslim) di Berlin yang secara tajam mengkritik Marxisme sebagai ideologi yang memusuhi agama.
• Kaitan dengan Revolusi: Awalnya ia menyambut Revolusi Februari 1917 sebagai akhir dari penindasan Tsar, namun ia segera menjadi target rezim Bolshevik karena pandangan religiusnya yang kuat. Ia sempat ditahan oleh Cheka (polisi rahasia Soviet) pada tahun 1923 namun dibebaskan setelah adanya tekanan internasional dari komunitas Muslim (terutama dari India dan Turki).
3. Masa Pengasingan dan Kematian
Pada tahun 1930, karena tekanan politik rezim Stalin yang semakin berat terhadap agama, ia melarikan diri dari Uni Soviet secara rahasia melalui Turkistan Timur (Xinjiang), lalu menuju Afghanistan dan India.
• Perjalanan Global: Selama masa pengasingan, ia terus menulis dan melakukan perjalanan ke Finlandia, Jerman, Turki, hingga Jepang.
• Akhir Hayat: Ia menghabiskan tahun-tahun terakhirnya di Mesir. Ia meninggal dunia pada 28 Oktober 1949 di Kairo dan dimakamkan di pemakaman keluarga kerajaan Khedive.
4. Pemikiran Utama yang Kontroversial
Dalam literatur Rusia, Bigiev sering dijuluki sebagai "Luther-nya Muslim" karena keberaniannya melakukan ijtihad. Dua pemikirannya yang paling fenomenal adalah:
1. Rahmat Allah yang Universal: Ia berargumen bahwa neraka tidaklah kekal dan rahmat Allah akan mencakup seluruh umat manusia pada akhirnya, termasuk mereka yang bukan Muslim (dalam kitabnya Rahmat-i Ilahiyye Burhanlari).
2. Reformasi Fikih: Ia sangat vokal mengenai hak-hak perempuan dalam Islam dan mendesak reinterpretasi hukum Islam agar relevan dengan tuntutan zaman modern.
5. Karya Utama (Bahasa Arab & Tatar)
Sumber Rusia mencatat puluhan karya tulisnya, beberapa yang paling menonjol:
• Tarikh al-Qur'an wa al-Mashahif (Sejarah Al-Qur'an dan Mushaf).
• Al-Wasyi'ah (Kritik terhadap doktrin Syiah).
• Qawa'id Fiqhiyyah (Kaidah-kaidah Fikih).
Musa Bigiev diakui oleh para sejarawan Rusia modern sebagai jembatan antara pemikiran Islam tradisional dan modernitas, serta simbol perlawanan intelektual Muslim terhadap ateisme militan Uni Soviet.
✍🏻 Penulis: Ahmad Wildan
27/03/2026
Kesabaran Syekh Abdul'aziz Ad-Dirini Terhadap Istri........
Kisah & Ibrah #1
Dikisahkan bahwa Syekh Abdul’aziz Ad-Dirini ini memiliki seorang istri yang sering berkata buruk padanya. Istrinya tidak merasa puas kecuali jika ia meninggikan suara dan tangannya kepada Syekh, terutama di hadapan murid-muridnya. Syekh berkata kepadanya, “Kita sepanjang hari berdua, jika ada yang ingin kau katakan, katakanlah saat kita sendiri, aku akan bersabar. Namun, mengapa kau baru mulai melakukannya saat murid-muridku datang?”. Istrinya selalu mengejek suaminya di depan murid-muridnya, “Apakah kalian tidak menemukan orang lain selain orang gila (bodoh) ini?” Namun Syekh tetap bersabar. Para ulama menyebutkan bahwa banyak wali Allah yang memang diuji melalui pasangan mereka, sebagaimana Nabi Nuh dan Nabi Luth juga diuji dengan istri-istri mereka. Konon Imam Malik bin Dinar dan Syekh Ahmad Ad-Dardir juga mengalami hal yang sama.
Merasa sesak dadanya karena perlakuan sang istri, lalu Syekh Abdul’aziz memutuskan untuk keluar meninggalkan rumah. Syekh pergi ke padang pasir dan menemukan sebuah gua. Di dalamnya, ia bertemu dengan seorang syekh tua dan seorang pemuda yang sedang berpuasa. Syekh Abdul’aziz minta izin ingin bermukim bersama mereka sementara waktu.
Hari pertama: Saat waktu berbuka, syekh tua itu berdoa ke langit, dan Allah mengirimkan makanan untuk mereka.
Hari kedua: Pemuda itu berdoa, dan Allah kembali mengirimkan makanan.
Hari ketiga: Giliran Ad-Dirini yang diminta berdoa. Ia mengangkat tangannya dan berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya syekh ini berdoa kepada-Mu dan Engkau mengabulkannya, dan pemuda ini berdoa kepada-Mu dan Engkau mengabulkannya. Aku memohon kepada-Mu hari ini, janganlah Engkau mempermalukan aku di hadapan mereka berdua, dan berilah aku rezeki sebagaimana Engkau memberi mereka.”
Tiba-tiba, Allah mengirimkan makanan dalam jumlah dua kali lipat dari biasanya. Syekh tua dan si pemuda sontak takjub dan heran, mereka lantas bertanya pada Ad-Dirini doa apa yang ia panjatkan? Ad-Dirini menjawab bahwa ia berdoa sebagaimana doa mereka berdua di mana dirinya sendiri tidak tahu doa apa yang mereka berdua panjatkan. Lalu Ad-Dirini bertanya kepada mereka, “Memangnya apa yang kalian baca dalam doa kalian?”. Mereka menjawab bahwa doa mereka sangat mudah: “Ya Allah, dengan keberkahan kesabaran Ad-Dirini terhadap istrinya, berilah kami rezeki.”
Mendengar hal itu, Syekh Abdul’aziz terkejut dan menyadari bahwa kesabarannya menghadapi istrinya justru merupakan sebab turunnya rezeki dan karomah, tidak hanya bagi dirinya tetapi juga bagi orang lain. Ad-Dirini kemudian p**ang ke rumah. Sesampainya di rumah, istrinya melihat perubahan pada diri Syekh; beliau tampak lebih tenang dan bahkan tersenyum saat dimaki. Istrinya bertanya apa yang terjadi selama kepergiannya. “Apa yang terjadi padamu sejak kau pergi beberapa hari ini?”
Syekh menjawab, “Aku telah melihat orang-orang mendapatkan rezeki karena kesabaranku menghadapimu, maka aku tidak ingin Allah memutus rezeki mereka dengan kemarahanku.” Dalam satu versi cerita, Syekh memberikan sebuah ranting kecil kepada istrinya dan berkata dengan nada bercanda, “Pukullah aku dengan ini,” yang justru membuat istrinya luluh dan tersenyum. Menyadari kemuliaan suaminya di mata Allah, sang istri akhirnya bertaubat dan berjanji tidak akan pernah menyakiti hati suaminya lagi untuk selamanya. “Demi Allah, aku tidak akan menyakitimu lagi setelah ini untuk selamanya.”
Kisah ini diceritakan oleh banyak tokoh: Dr. Ali Jumu’ah, Dr. Asy-Syahhat Al-‘Azazi, dan Dr. Ahmad Al-Bushili dengan perbedaan rincian dalam setiap riwayat. Namun walaupun masyhur di kalangan masyarakat Mesir, sejauh penelusuran penulis kisah ini tidak memiliki landasan rujukan dari kitab-kitab biografi. Tapi tetap tidak menutup kemungkinan bahwa cerita ini benar karena ada riwayat istri Syekh Abdul’aziz memang berperangai tidak sabaran dan mudah emosi. Anda bisa menilik kembali kisah Persahabatan Syekh Abdul’aziz dan Syekh Ali Al-Maliji, di mana saat Syekh Abdul’aziz menyembelih ayam untuk Syekh Ali, istrinya menggerutu. Namun Syekh Ali Jumu'ah kembali menekankan bahwa kisah ini hanya untuk ibrah atau mengambil pelajaran, tanpa memandang fakta atau fiksinya.
✍🏻 Penulis: Ahmad Wildan
Click here to claim your Sponsored Listing.
Telephone
Website
Address
Cairo