dmas.adr
13/03/2023
Antara ber-Fikih dan ber-Tashawuf
--------------------------------------------------------
Dalam suatu kajian, Maulana Syaikh Abdul Aziz Asy-Syahawi pernah berpesan bagaimana Allah SWT memberikan petunjuk kepada kita untuk memperhatikan dua perkara yang tak boleh sepelekan sebagai seorang Hamba.
Sebagaimana dalam firman Allah SWT
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Artinya: "Hanya kepada Engkaulah yang kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan." (Al-Fatihah:5)
Dalam ayat yang berbunyi (إِيَّاكَ نَعْبُدُ) yang berarti: "Hanya kepada-Mu, kami menyembah", telah memberi kejelasan kepada kita untuk menjaga perkara ibadah/Syari'at kita. Karena Syari'at sendiri berperan untuk pengamalan seorang hamba dalam melaksanakan ibadahnya.
Oleh karena itu, para ulama menganjurkan kita untuk belajar Ilmu Fikih, agar kita tahu dan faham bagaimana cara melakukan ibadah yang tepat dan benar.
Disebutkan p**a pada ayat diatas (وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) yang berarti: "Dan hanya kepada-Mu p**a kami meminta pertolongan", yang memberi Ibarah bahwa hakikat dari kemampuan, kekuatan dan kekuasaan hanya milik Allah SWT dan tiada yang mampu untuk menyelesaikan hajat kita kecuali dengan pertolongan-Nya.
Dari situ bisa kita simpulkan p**a bahwa keharusan bagi kita untuk menghadirkan ketaatan dan kemantapan hati dalam mempercayai seluruh apa telah yang Allah tetapkan kepada kita dan menjalaninya dengan penuh keikhlasan. Untuk menghadirkan itu semua, para Shahabat, Tabi'in dan Ulama terdahulu telah memberikan kita contoh dan cara melalui pengamalan Ilmu Tashawuf yang sangat penting p**a untuk kita pelajari.
Menyembah atau beribadah kepada Allah SWT adalah tujuan utama diciptakannya kita sebagai hamba-Nya. Maka kesempurnaan dalam beribadah sudah menjadi kewajiban yang harus kita amalkan. baik dalam hati ataupun perilaku. Dan untuk menyempurnakan pengamalannya pada hati dan perilaku, kita perlu mempelajari Ilmu fikih serta Ilmu Tashawuf.
Kebanyakan dari kita (termasuk penulis) terkadang hanya bermodal paham dan dapat mengamalkan salah satu dua perkara antara ber-Fikih dan ber-Tashawuf saja, sudah merasa ibadahnya telah sempurna. Padahal pada hakikatnya, keduanya mempunyai esensi yang sama-sama penting untuk menyempurnakan ibadah kita.
Tidak hanya beribadah dengan kemantapan dan keikhlasan hati tanpa tahu cara mengamalkannya, ataupun hanya tahu cara pengamalannya, namun tidak bisa menghadirkan kemantapan serta keikhlasan dalam hatinya, tetapi juga harus tetap berusaha untuk melengkapi dan menghadirkan keduanya demi kesempurnaan ibadah kita kepada-Nya.
Imam Asy-Syafi'i pernah berkata:
فقيها وصوفيا فكُنْ ليس واحدًا # فـإنّي وحَقّ الله إيـاك أنصحُ
فذلك قـاس لـم يـذق قلبـه تقى # وهذا جهول كيف ذو الجهل يصلح
Artinya: "Jadilah Faqih (Ahli Fikih) dan Sufi (Ahli Tashawuf). Jangan hanya salah satunya saja. Sesungguhnya aku menasehatimu tentang hak Allah (bagimu). Karena itu adalah perbuatan orang (berhati) keras, yang hatinya tak pernah merasakan ketakwaan (sesungguhnya). Dan ini adalah kebodohan. lalu bagaimana orang yang bodoh membenahi diri?".
Dan dikatakan p**a:
من تصوف ولم يتفقه فقد تزندق، ومن تفقه ولم يتصوف فقد
تفسق، ومن جمع بينهما فقد تحقق
Artinya: "Barang siapa bertashawuf tanpa berfikih, maka dia hanya pura-pura beriman. Barang siapa berfikih tanpa bertashawuf maka dia telah berbuat fasik. Dan barang siapa mengumpulkan keduanya, maka dia telah berada pada kebenaran".
Wallahu A'alam Bisshawab.
13/03/2023
Eksistensi Ilmu Mantiq serta Manfaat Mempelajarinya
--------------------------
Salah satu nikmat yang harus kita syukuri sebagai Umat Islam, adalah Keharusan kita untuk memiliki rasa bangga terhadap berbagai peninggalan dan warisan berharga yang ditinggal para generasi umat terdahulu. baik itu bersifat material seperti peninggalan tempat dan benda bersejarah ataupun non material seperti budaya peradaban dan ilmu pengetahuan yang manfaatnya bisa kita rasakan sampai sekarang.
Apalagi dengan banyaknya karya Turost dari para ulama muslim yang tak ternilai harganya. seperti contoh Ilmu logika filsafat islam atau yang biasa kita kenal dengan Ilmu Mantiq.
Mungkin banyak dari kita yang belum terlalu mengenal Ilmu ini. Karena memang pada awalnya, Ilmu ini diadopsi dari disiplin ilmu barat. Jadi kesan beberapa ulama dahulu mengenai ilmu ini bisa dikatakan asing. Namun terlepas dari itu semua ada banyak nilai positif yang bisa kita ambil dari mempelajari disiplin ilmu ini.
Sebelum masuk kepembahasan inti, penulis ingin memberikan judul beberapa maklumat penting dari apa yang akan disampaikan dalam artikel ini. Yakni:
Daftar isi
1. Definisi Ilmu Mantiq
2. Sejarah singkat
3. Penerjemahan ke dalam bahasa arab
4. Pentingnya mempelajari ilmu Mantiq
5. Hukum mempelajarinya
6. Manfaat mempelajarinya
7. Refrensi
Adapun lebih jelasnya sebagai berikut:
1. Definisi Ilmu Mantiq
Dikutip dalam kitab Idhahul Mubham Min Ma’ani As-Sullam, karya Syaikh Ahmad bin Abd Al-Mun’im Ad-Damanhuri, Mantiq secara bahasa diambil dari Masdar Mim yang bersifat Musytarak (yang memiliki arti banyak) dari Lafadz النطق yang bermakna اللفظ (lafadz/kata) atau الإدراك (pengetahuan).
Adapun secara Istilah, sebagai berikut:
قانون تعصم مراعته الذهن عن الخطأ في الفكر
Artinya: “Disiplin Ilmu yang menjaga pengetahuan dari kesalahan dalam berfikir.”
2. Sejarah Singkat
Secara Umum, tidak ada yang tahu kepastian kapan ilmu ini muncul. namun telah ditemukan berbagai pendapat yang mengatakan dimana pertama kali ilmu dikarang. Dikutip dari kitab Al-Hai’ah Al-Mishriyah Al-‘Ammah Lil Kitab karangan Dr. Zaki Najib Mahmud, pada abad ke-3 sebelum masehi, telah ditemukan disiplin ilmu yang serupa dengan ilmu mantiq. Dan ada p**a yang beberapa peneliti yang mengatakan pada abad ke-6, Ilmu mantiq telah dikarang saat peradaban cina kuno. Bahkan juga ada yang berpendapat bahwa ilmu ini berasal dari peradaban mesir kuno.
Ust. Dr Yusuf Karam, dalam buku beliau yang berjudul Tarikh Falsafah Al-Yunaniyah, mengatakan bahwa pada abad ke-5 sebelum lahirnya Nabi Isa A.S, Ilmu ini telah diterapakan Masyarakat Yunani hingga mereka menjadi kaum yang terkenal dengan ketangkasan mereka dalam berargumentasi dan berdebat, berdasar faktor keterbatasan ilmu pengetahuan yang mereka miliki, mereka menggunakan Ilmu ini untuk menutupi keterbatasan dan kebodohan mereka. Bahkan mereka tak segan-segan memutar balikan fakta dan mempermainkan kata-kata demi mendapatkan sebuah kebenaran yang didasari oleh ego dan keuntungan pribadi.
Hingga setelah melewati berbagai vase dan masa yang panjang, terkenalah seorang Aristoteles yang berhasil manyusun ilmu ini dengan begitu terstruktur dan rapi.
3. Penerjemahan ke dalam bahasa Arab
Sebagian peneliti berpendapat bahwa gerakan penerjemahan berbagai disiplin ilmu yunani secara umum, khususnya Ilmu Mantiq kedalam bahasa arab pertama kali yaitu pada masa Dinasti Ummaiyah (661-750 M). Namun juga banyak pendapat yang menguatkan gerakan penerjemahan ini di mulai pada masa Dinasti Abbasiyah (132-656 H/ 750-1258 M). Dan menjadi sangat berkembang pada masa Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur (136-158 H/754-775 M). Seusai diterjemah dan tersebar dikalangan masyarakat muslim, Para Ulama terdahulu tidak serta merta menerapkan dan mengambil dalil dari ilmu tersebut. Bahkan menentang beberapa pembahasan yang tidak sesuai, mengkoreksi, serta menambah pembahasan agar tetap teralur dalam prinsip ajaran islam. sebagai mana yang telah disebutkan Dr. Ali Sami Nasyar dalam karyanya yang berjudul Manahij Al-Bahtsi ‘inda Mufakkar Al-Islam.
Dan tak terhitung sedikit p**a para Ulama Islam yang menekuni cabang ilmu ini. Salah satunya adalah Al-Imam Abu Nasr Al-Farobi, yang begitu masyhur dikalangan filusuf islam sebagai salah satu ulama dengan kemumpunan luar biasa dibidang ilmu mantiq, serta berbagai karya beliau yang begitu memukau.
Tidak hanya itu. di abad ke-5 H, terkenallah seorang filusuf islam dengan nama Imam Al-Ghazali, yang sudah tak mungkin asing ditelinga kita dengan berbagai karya luar biasa beliau yang banyak sekali dikaji diberbagai pesantren ditanah air.
Dari kalangan Ulama’ abad ke-10 H, ada Syaikh Ahmad bin Abd Al-Mun’im Ad-Damanhuri, Grand Syaikh Al-Azhar yang masyhur dengan karya beliau di bidang Ilmu Mantiq berjudul Idhahul Mubham min Ma’ani As-Sullam, yang mensyarahi Nadham Sullam Munawwaraq karya Syaikh Abd Ar-Rahman Al-Akhdhar, yang begitu populer sebagai kitab rujukan untuk belajar Ilmu Mantiq diberbagai pesantren. Dan masih banyak lagi ulama-ulama yang berkecimbung dalam disiplin ilmu ini.
4. Pentingnya belajar ilmu Mantiq
Ditinjau dari keselarasan dengan disiplin ilmu yang lain, ilmu Mantiq mempunyai peran yang sangat penting. Yaitu:
Mengarahkan pemahaman ketika terjadi kesalahan dalam berfikir,
Menunjukan tatacara dalam mendefinisikan (tashawwur) sesuatu untuk mengungkap hakikat kebenarannya,
Sekaligus mengetahui katepatan dan kepantasan dalam menyampaikan argumentasi.
Maka oleh sebab itu, Para Ulama menyebutnya sebagai معيار العلوم/Mi’yar Al-Ulum (Takaran Ilmu). Walau pun pada awalnya, eksistensi Ilmu Mantiq adalah pengantar untuk mendalami Filsafat Yunani. Namun setelah melalui berbagai vase penerjemahan dan penyelarasan oleh para ulama dulu, kini ilmu ini telah menjadi washilah untuk menjaga pemahaman dari kesalahan dalam berfikir. sebagaimana p**a eksistensi ilmu Nahwu yang menjaga lisan dari kesalahan dalam berbicara. Seperti yang telah disampai Shahib As-Sullam, Syaikh Abdur Rahman Al-Akhdhari:
وبعد فالمنطق للجنان # نسبته كالنحو للسان
فيعصم الأفكار عن غي الخطا # وعن دقيق الفهم يكشف الغطا
Artinya: “Dan setelah membaca basmalah, hamdalah, dan Shalawat. Maka pen*sbatan ilmu mantiq bagi hati (akal) sama halnya pen*sbatan ilmu Nahwu bagi lisan. Yaitu menjaga fikiran dari kesalahan yang tak disengaja, serta mengatahui pemahaman yang rumit.”
Dalam penerapannya, Imam Al-Ghazali telah memberikan contoh yang jelas kepada kita. seperti dalam kitab karangan beliau yang berjudul Al-Mustashfa fi Ushul Al-Fiqh, yang telah beliau susun menggunakan beberapa kaidah Ilmu Mantiq, dan menjadi rujukan pengambilan dalil bagi para ulama Ushul Fiqih. Bahkan dalam karyanya ini, beliau menyebutkan:
من لا معرفة له بالمنطق لا يوثق بعلمه
Artinya: “Barang siapa yang tak mengetahui ilmu mantiq, maka keilmuannya tidak dianggap.”
Dari sini bisa kita ambil kesimp**an, bagaimana perhatian seorang Imam Al-Ghazali menggambarkan pentingnya mempelajari ilmu ini.
5. Hukum mempelajarinya
Masih dalam satu rujukan yang sama, Syaikh Abdur Rahman Al-Akhdhari menyebutkan:
وَالخُلْفُ في جَوازِ الاشْتِغالِ # بِهِ عَلى ثَلاثَةٍ أَقْوالِ
فَابْنُ الصَّلاحِ وَالنَّواوي حَرَّما # وَقالَ قَوْمٌ يَنْبَغي أَنْ يُعْلَما
وَالقَوْلَةُ المَشْهُورَةُ الصَّحِيحةْ # جَوَازُهُ لِسالِمِ القَريحَةْ
مُمَارِسِ السُّنَّةِ وَالكِتابِ # لِيَهْتَدي بِهِ إِلى الصَّوابِ
Jika kita simpulkan dari nadham diatas, maka mempelajari ilmu mantiq terbagi menjadi 3 hukum. Yaitu:
Menurut Ibnu Shalah, Imam Nawawi dan beberapa ulama lainnya melarang untuk mempelajari.
Beberapa kelompok lainnya, seperti Imam Al-Ghazali, menganjurkan untuk mempelajarinya.
Dan pendapat yang masyhur serta utama lebih memperinci lagi. Bagi yang memiliki kekuatan dalam berfikir serta kecerdasan yang memumpuni dalam mempelajari Al-Qur’an dan Hadist, maka diperbolehkan. Jika tidak, maka sebaliknya.
6. Manfaat mempelajarinya
Sebagaimana esensi ilmu mantiq yang bertujuan untuk menjaga akal dari kesalahan dalam berfikir dan berbicara, maka menurut penulis, ilmu mantiq selayaknya juga sangat bermanfaat untuk kita (Khususnya bagi kaum santri) sebagai tameng dalam mengklarifikasi berbagai informasi yang tersebar disekitar kita. Apalagi dengan sistem demokrasi di negara kita yang tidak hanya memperbolehkan, bahkan membebaskan kita untuk berbicara aktual maupun hoak sesuka hati, Ditambah lagi dengan mudahnya mengakses segala informasi lewat Smartphone atau media akses lainnya, Mengakibatkan banyaknya informasi hoaks dan berita-berita provokasi yang harus kita filter dengan serius.
Disebutkan dalam artikel KH. Ahmad Fatih Syuhud, pengasuh Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang, Jika problematika mudahnya kaum santri menerima informasi hoaks dan berbagai berita provokatif tetap dibiarkan, maka hal itu bisa menyebabkan kita terjatuh dalam dosa yang sangat besar. baca lengkapnya:
https://alkanews.com/dosa-besar-kaum-santri/
Dikutip p**a dari situs wibesite resmi NU Online, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) dan Lembaga Ta’lif wan Nasyr PBNU berupaya mengadakan Ngaji Elektronik. Yang sasaran utamanya adalah kaum santri, Dengan pendekatan terhadap kajian ilmu Mantiq. Bahkan hal ini disuport penuh oleh Staf Khusus Kominfo bagian Komunikasi, Deddy Hermawan dengan harapan mencegah Disintregasi bangsa. Atau paling tidak dapat meminimalisir penyebaran berbagai informasi dan berita hoaks dikalangan masyarakat awam. Baca lengkapnya:
https://www.nu.or.id/wawancara/pesantren-perlu-hidupkan-dan-sebarkan-ilmu-manthiq-untuk-tangkal-hoaks-RyvEu
Dan tentunya masih banyak lagi berbagai manfaat yang belum disebutkan penulis dari mempelajari dan mendalami ilmu ini.
7. Refrensi
• Syaikh Ahmad bin Abd Al-Mun’im Ad-Damanhuri (wafat 1196 H), Idhahul Mubham min Ma’ani As-Sullam.
• Syaikh Sholih Musa Syarafi (wafat 1405 H/1985 M), Mudzakarat fi Al-Mantiq ‘ala Sullam Al-Munawwaraq.
• Dr. Abdullah Muhyi ‘Azbin (Dosen Akidah Filsafat dan Wakil Rektor Kuliah Ushuluddin Universitas Al-Azhar), Kata Pengantar dari kitab Muqaddimah Likitab Syarh Al-Khabishi ‘ala Matan Tahdzib Al-Mantiq li Syaikh At-Taftazani.
Kairo, 27 Januari 2023
Dalam suatu kajian, Syaikh Ramadhan Al-Buti pernah menyebutkan:
"Buah dari ketetapan dan hukum-hukum Islam adalah Akhlak. Barang siapa yang ingin menegakan akhlak dimasyarakat tanpa adanya pendidikan terhadap agama, tanpa ada penanaman Aqidah dan berbagai dalilnya dalam akal, dan tanpa ada penanaman tentang arti sesungguhnya dari sebuah ibadah dan mu'amalah dalam islam, Maka hal itu tidak akan mungkin bisa diwujudkan. Karena akhlak butuh 'Pencegah'. Yaitu pencegah yang dapat membatasimu untuk selalu berperilaku dengan akhlak.
Jika pencegah itu tidak diterapkan, seperti takut kepada Allah, cinta kepada-Nya, mengagungkan-Nya, yang semua itu hanya bisa tercapai dengan keyakinan bahwa (Al-Qur'an) adalah benar-benar Kalam Allah SWT, Dan sedangkan untuk meyakini bahwa Al-Qur'an adalah Kalam Allah SWT masih memerlukan Ilmu, berbagai dalil dan penjelasan yang panjang, Apakah mungkin manusia yang berakhlak bisa diwujudkan?
Oleh karena itu:
َالمُرَادُ بِالدِينِ الأَخلَاقُ، وشجرة الإِسْلَامِ هِيَ تُقَدِّمُ لَكَ الأَخْلَاق
Artinya: "Maksud dari agama adalah Akhlak. Dan pohon dari adanya islam adalah yang mengedapankan Akhlak kepadamu".
13/03/2023
"Resiko, untukmu yang menyertai setiap perjalananku"
Sebelum melangkah, kita akan dihadapkan dengan berbagai jalan yang disertai dengan bermacam-macam resiko. mungkin p**a dengan kemungkinan kegagalan. andai pun boleh memilih, pastilah jalan tanpa resiko dan kegagalan adalah pilihan yang tepat untuk di ambil. namun. ini bukan soal "memilih". tapi "memahami".
Aku memang tak mengerti dan tak akan pernah tahu tujuan hidup yang kalian inginkan. Bukan p**a sok tahu menahu tentang penderitaan dan kepayahan yang kalian rasakan. apalagi mengatakan hal itu dengan sangat mudahnya.
"إِذَا فَتَحَ لَكَ بَابُ الفَهْمِ فِي المَنْعِ # عَادَ المَنْعُ عَيْنُ العَطَاء."
"Bila telah terbuka kepadamu pintu pemahaman dari sebuah kegagalan, maka ia akan kembali dan menjadi nikmat terindah bagimu."
Begitulah. Seorang Ibnu Ata'illah memahami arti dari sebuah kegagalan. Apalagi hanya sebatas resiko yang kita harus hadapi kenyataannya?
itulah mengapa adanya jalan yang penuh dengan resiko, bukan suatu yang pantas untuk dipilih. Dia adalah batu pijakkan yang harus kau lewati untuk terus mempertahankan langkahmu. Dialah yang membantu mempertahankan tegakmu dikala kau berjalan. Dan dia p**a yang bisa mebuatmu tak terjatuh walaupun seterjal dan sesulit apapun jalan yang harus kau lalui.
Tanyakanlah pada dirimu, apakah niat dan tujuanmu yang sekarang sudah tepat? sudahkah kau meletakan ketakutan dan keraguan dihatimu dengan tepat, dan membedakannya dengan rasa takut dan khawatir yang seharusnya kau letakan ditempat lain?
Hadapi dia, Taklukan dia, yakinkan pada dirimu bahwa sebatas kerikil saja tak cukup untuk menghentikan langkahmu. Selagi dengan niat dan tujuan yang benar,kau tak perlu takut melangkah.
Kau tahu tentang waqaf? penerima barangnya pasti akan selalu menggunakannya dijalan yang baik. begitu p**a hidupmu. Pasrahkan dan niatkan hidupmu hanya untuk Allah SWT. Maka Ia akan membimbing hidupmu dengan jalan yang paling terbaik.
Dan yakinlah...
Apa yang direncanakan-Nya, adalah proses terindah yang tak akan pernah kau duga.
Kairo, 02 Desember 2022.
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Contact the public figure
Website
Address
Cairo