Ridwan Hanafi
12/04/2026
Seruput Kopi Toraja: Di Antara Aroma Nusantara dan Bayang-Bayang Dunia.
Aroma kopi Toraja yang pekat mengepul pelan, hadiah kecil dari seorang kawan yang baru pulang dari Sulawesi Selatan.
Di tengah malam yang tenang, setiap seruputnya membawa rasa hangat., seolah menghubungkan lidah dengan tanah jauh di timur Indonesia, yang kini justru menjadi primadona di kafe-kafe ibu kota.
Namun ketenangan itu tak berlangsung lama. Layar handphone menyala, membuka deretan kabar dunia. Di antara hiruk-pikuk informasi, satu isu terasa paling panas ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat yang kembali menemui jalan buntu. Harapan damai seolah tertahan di meja perundingan, menyisakan kecemasan yang meluas hingga ke sudut-sudut dunia.
Di sela seruput kopi, pikiran pun melayang—bagaimana jika konflik itu terus berlanjut? Apa dampaknya bagi masyarakat global, bagi Indonesia, bagi kehidupan sehari-hari yang tampak sederhana ini? Kekhawatiran itu terasa nyata, meski tak kasat mata.
Namun pada akhirnya, sebagai rakyat biasa, yang tersisa hanyalah harap., Harap kepada pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, agar mampu menavigasi badai global ini dengan bijak. Kunjungan ke Rusia pun menjadi secercah harapan—semoga membawa kabar baik, atau setidaknya arah yang lebih pasti di tengah ketidakpastian dunia.
Kopi Toraja mulai mendingin. Tapi malam itu meninggalkan satu rasa yang tak hilang., bahwa di balik nikmat sederhana secangkir kopi, dunia sedang bergerak—dan kita semua, mau tak mau, ikut merasakannya.
Click here to claim your Sponsored Listing.