Sudirman Anwar

Sudirman Anwar

Share

Membahas hal-hal terkait Psikologi, Hipnoterapy, Pendidikan, Manajemen. https://www.sychostrategy.com/

https://journal.sychostrategy.com/

20/04/2026

Aktivitas vs Efektivitas: Ketika Sibuk Belum Tentu Bermakna |
_________________

Ada satu kebiasaan yang diam-diam kita pelihara: merasa hebat karena sibuk. Jadwal penuh, notifikasi tak henti, langkah kaki seperti dikejar waktu. Rasanya hidup. Rasanya penting. Tapi kalau jujur, di ujung hari sering tersisa satu pertanyaan yang tidak enak: “Sebenarnya, apa yang benar-benar selesai hari ini?”

Di sinilah aktivitas dan efektivitas mulai berpisah jalan. Aktivitas itu riuh ia tampak, terdengar, bahkan bisa difoto. Efektivitas itu sunyi ia tidak selalu ramai, tapi meninggalkan jejak yang nyata. Aktivitas membuat kita lelah, efektivitas membuat kita sampai.

Ilmu manajemen sejak lama mengingatkan, kinerja tidak cukup diukur dari seberapa banyak kita melakukan sesuatu, melainkan seberapa tepat kita mencapai tujuan. Dalam psikologi kognitif, perhatian adalah sumber daya terbatas; setiap distraksi adalah kebocoran kecil yang, jika dibiarkan, menggerus kualitas hasil. Maka orang yang terus-menerus berpindah tugas (multitasking yang dibanggakan itu) sering terlihat sibuk, tetapi diam-diam menurunkan akurasi, memperpanjang waktu, dan menipiskan kedalaman berpikir. Sibuk, iya. Tepat sasaran, belum tentu.

Ada juga jebakan yang lebih halus: kita mengisi hari dengan pekerjaan-pekerjaan kecil karena memberi rasa cepat selesai. Checklist tercentang, dopamin naik, hati senang. Padahal pekerjaan besar—yang benar-benar menentukan—ditunda karena menuntut fokus dan keberanian. Di sinilah ironi terjadi: kita bergerak cepat, tapi tidak bergerak maju. Seperti berjalan di treadmill—keringat banyak, jarak nol.

Efektivitas menuntut sesuatu yang tidak selalu nyaman: memilih. Memilih berarti menolak banyak hal lain. Dalam bahasa sederhana, berani berkata “tidak” pada yang remeh agar bisa berkata “ya” pada yang penting. Prinsip Pareto (80/20) bukan sekadar teori populer; ia pengingat keras bahwa sebagian kecil upaya sering menghasilkan sebagian besar dampak. Masalahnya, bagian kecil itu jarang terlihat menarik. Ia sepi, membutuhkan konsentrasi, dan tidak selalu memberi kepuasan instan.

Dalam dunia pendidikan, misalnya, seorang dosen bisa mengajar berjam-jam (aktivitas tinggi), tetapi jika mahasiswa tidak benar-benar memahami, maka dampaknya tipis. Sebaliknya, satu sesi yang dirancang tajam tujuan jelas, metode tepat, evaluasi terukur sering kali meninggalkan pemahaman yang lebih dalam. Dalam organisasi, rapat bisa berlangsung panjang, penuh kata-kata, namun keputusan tetap kabur. Satu rapat singkat yang terstruktur, dengan data yang tepat, justru bisa menggerakkan banyak hal.

Efektivitas bukan tentang bekerja lebih keras, melainkan bekerja lebih tepat. Ia meminta kita untuk bertanya sebelum bertindak: “Ini mendekatkan saya pada tujuan, atau hanya menambah daftar kesibukan?” Pertanyaan sederhana, tapi jujur dan seringkali menampar.

Ada keindahan tertentu dalam kerja yang efektif. Ia tidak gaduh, tidak pamer. Seperti anak panah yang dilepas dengan tenang, lalu menancap tepat di tengah sasaran. Tidak banyak gerak yang terbuang, tidak banyak energi yang sia-sia. Hasilnya jelas, dampaknya terasa.

Barangkali kita tidak perlu menambah jam kerja, tidak perlu menumpuk agenda. Yang perlu adalah keberanian untuk merapikan arah. Mengurangi yang tidak perlu, memperdalam yang penting. Karena pada akhirnya, hidup tidak diukur dari seberapa sibuk kita terlihat, tetapi seberapa bermakna yang kita capai.

Dan mungkin, di sela hiruk-pikuk itu, kita bisa berhenti sejenak bukan untuk malas, tapi untuk memastikan: langkah ini menuju ke mana.

berat semua orang

Photos from Sudirman Anwar's post 03/04/2026

Silaturahmi ke kediaman tokoh Riau, Bapak Rusli Zainal, Gubernur Riau periode 2003–2014, menjadi momen yang sarat makna dan kehangatan. Pertemuan ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan ruang berbagi hikmah, pengalaman, dan nilai-nilai kepemimpinan yang telah teruji oleh waktu.

Dalam suasana penuh keakraban, beliau menyampaikan pandangan yang tajam namun membumi tentang pentingnya integritas, kesabaran dalam menghadapi dinamika, serta komitmen untuk terus berbuat bagi masyarakat. Ada nuansa kebijaksanaan yang terasa: tenang, tidak tergesa, tapi menghunjam.

Kesan yang tertinggal sederhana namun dalam, bahwa kepemimpinan sejati tidak hanya diukur dari jabatan yang pernah diemban, melainkan dari jejak nilai yang ditanamkan. Dan di sana, di kediaman yang bersahaja itu, terasa bahwa waktu boleh berlalu, tetapi wibawa dan pelajaran hidup tetap abadi. Sehat selalu pak ucu..

Want your public figure to be the top-listed Public Figure in Tembilahan?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Telephone

Address

Tembilahan

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00