Fans KDM

Fans KDM

Share

Photos from Fans KDM's post 02/06/2026

Bapak Aing tertidur dilantai papan saat berkunjung ke kampung terapung Tobati. Dan beliau terbangun karena ada anak anak hebat Papua minta foto ❤️

02/06/2026

KDM: Jangan Coba-Coba Malak di Jawa Barat

Oleh Bang Enyoi | Save Jabar

Sebuah video pemalakan terhadap pengendara di kawasan D**o, Bandung, mendadak viral di media sosial.

Dalam video itu terlihat seorang pria menghentikan kendaraan yang melintas lalu meminta uang kepada pengemudi. Kejadian tersebut terjadi usai pertandingan Persib Bandung dan langsung memicu reaksi publik.

Tak butuh waktu lama, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi merespons. Ia mengaku sudah berkoordinasi dengan Kapolda Jawa Barat. Pelaku diamankan, dan proses hukum langsung berjalan.

Tetapi yang menarik bukan hanya penangkapannya.

Yang menarik adalah pesan yang disampaikan KDM setelahnya.

"Jangan coba-coba melakukan pemalakan dan premanisme kepada siapa pun, baik warga Jawa Barat maupun masyarakat dari luar daerah yang berkunjung ke Jawa Barat."

Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi sesungguhnya sedang mengirim sinyal yang cukup keras.

Karena selama bertahun-tahun, praktik premanisme sering dianggap hal biasa. Ada yang memalak parkir. Ada yang memalak pedagang. Ada yang memalak proyek. Bahkan tidak sedikit yang merasa memiliki wilayah tertentu dan menganggap itu sebagai hak mereka.

Padahal tidak ada satu pun warga yang berhak mengambil uang orang lain dengan ancaman, tekanan, atau intimidasi.

Yang lebih penting lagi, persoalan ini bukan hanya soal uang.

Premanisme membuat orang takut datang. Investor ragu berinvestasi. Wisatawan enggan berkunjung. Pedagang kecil tidak bisa berkembang. Pada akhirnya yang rugi bukan hanya korban pemalakan, tetapi seluruh daerah.

Karena itu, ketika KDM berbicara soal premanisme, yang sedang dibela bukan sekadar pengendara yang dipalak di D**o.

Yang sedang dibela adalah rasa aman warga Jawa Barat.

Tentu pekerjaan ini tidak mudah. Premanisme tidak hilang hanya dengan satu penangkapan. Ia tumbuh dari pembiaran yang berlangsung lama.

Tetapi setidaknya hari ini pesannya mulai jelas.

Jawa Barat ingin dikenal karena budaya, wisata, dan prestasinya.

Bukan karena orang takut melintas di jalanannya.

Dan bagi siapa pun yang masih menganggap memalak sebagai pekerjaan, pesan KDM tampaknya cukup tegas:

Cari rezeki yang halal.

Karena zaman ketika preman merasa kebal hukum, perlahan mulai berakhir.

02/06/2026

PIDATO KDM BIKIN INDONESIA TERDIAM!

Papua Disebut Surga Terakhir yang Terancam Dirusak Kapitalisme
Pidato Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), di hadapan tokoh adat dan masyarakat Papua menjadi perhatian luas publik.

Bukan karena janji politik atau proyek pembangunan yang fantastis, melainkan karena pesan mendalam yang menyentuh persoalan hubungan manusia dengan alam, budaya, dan identitas bangsa.

Dalam pidatonya, KDM menyampaikan kritik terhadap pola pembangunan yang menurutnya mulai kehilangan nilai-nilai kemanusiaan, kearifan budaya, dan penghormatan terhadap lingkungan hidup.

"Yang hilang dalam birokrasi Indonesia adalah rasa dan cinta."

Kalimat tersebut menjadi salah satu pernyataan yang paling banyak diperbincangkan. Menurut KDM, kerusakan terbesar yang dihadapi Indonesia bukan hanya hutan yang ditebang atau sungai yang tercemar, melainkan pudarnya hubungan manusia dengan budaya dan semesta yang selama ini menjadi sumber kehidupan.

Ia juga menyoroti kecenderungan sebagian kalangan yang begitu bangga dengan berbagai konsep pembangunan modern, tetapi justru gagal menjaga warisan alam dan budaya yang dimiliki bangsa sendiri.

Di sisi lain, masyarakat adat yang sering dianggap tertinggal justru terbukti mampu menjaga keseimbangan alam selama ratusan tahun.

Bagi KDM, Papua merupakan "surga terakhir Indonesia" yang masih menyimpan kekayaan yang semakin langka ditemukan di banyak wilayah lain:

Udara yang bersih
Air yang jernih
Budaya asli yang masih hidup
Hubungan sakral antara manusia dan alam
Karena itu, ia mengingatkan agar Papua tidak menjadi korban eksploitasi yang hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi semata.

Pernyataan yang paling menyita perhatian publik adalah ketika KDM mengatakan:
"Jaga keperawanan Papua. Jangan kaum hidung belang menidurinya."

Ungkapan tersebut dipahami sebagai metafora untuk menjaga Papua dari eksploitasi berlebihan yang berpotensi merusak lingkungan, budaya, dan masa depan masyarakat adat.

KDM juga membandingkan kondisi Papua dengan sejumlah wilayah di Pulau Jawa yang mengalami industrialisasi dan pembangunan masif. Menurutnya, kemajuan ekonomi tidak boleh dibayar dengan hilangnya tanah, budaya, dan identitas masyarakat.

"Jangan ulangi kegagalan Jawa di Papua."
Tidak hanya menyampaikan kritik, KDM juga menawarkan langkah konkret melalui program pendidikan. Ia menyatakan kesiapannya memberikan beasiswa kepada 40 anak Papua untuk menempuh pendidikan tinggi di Bandung hingga lulus.

Menurutnya, masa depan Papua harus dipersiapkan sejak sekarang. Ekonomi harus tumbuh, kesejahteraan masyarakat harus meningkat, tetapi akar budaya tetap harus dijaga agar generasi mendatang tidak kehilangan identitasnya.

KDM bahkan mengusulkan agar pembangunan di Papua tetap mengedepankan karakter lokal, termasuk penggunaan arsitektur khas Papua pada berbagai bangunan publik, sehingga masyarakat asli tetap merasa memiliki ruang hidup di tanah leluhurnya sendiri.

Pidato tersebut dinilai berbeda dari pidato politik pada umumnya. Tidak berfokus pada angka-angka pembangunan atau pencapaian birokrasi, melainkan berbicara tentang cinta terhadap manusia, budaya, alam, dan masa depan Indonesia.

Di akhir pidatonya, KDM menyampaikan pesan yang mengundang renungan mendalam:
"Suatu saat kita akan kehilangan Papua, ketika keindahannya sudah tidak ada lagi."

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan yang berkelanjutan bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang menjaga warisan alam dan budaya agar tetap hidup untuk generasi yang akan datang.

02/06/2026

Niat hati ingin menyerang Kang Dedi Mulyadi terkait pembongkaran bangunan liar di kawasan Puncak, Cianjur, justru berakhir gagal.

Video yang beredar mencoba menggiring opini seolah-olah pembongkaran dilakukan secara kejam dan tidak manusiawi. Narasinya bahkan dibuat seakan-akan para pemilik bangunan tidak diberi kesempatan menyelamatkan barang-barang mereka, serta menuntut adanya uang kompensasi.

Namun setelah Kang Dedi memberikan penjelasan secara utuh, publik justru bisa memahami duduk persoalannya. Fakta-fakta yang disampaikan membuat banyak orang mengerti alasan di balik penertiban tersebut, bahkan memberikan apresiasi atas langkah yang dilakukan.

Alih-alih memicu kemarahan, narasi yang semula ditujukan untuk menyudutkan justru berbalik arah. Masyarakat menilai penertiban bangunan liar di kawasan resapan dan aliran sungai merupakan langkah yang diperlukan demi kepentingan yang lebih besar, termasuk mencegah kerusakan lingkungan dan risiko bencana di masa depan.

Karena itulah, sebelum menilai sebuah peristiwa, penting untuk mendengar penjelasan secara lengkap dan melihat fakta secara utuh, bukan hanya potongan video yang beredar di media sosial.

Want your business to be the top-listed Media Company in Subang?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Telephone

Website

Address

Pusakanagara
Subang
41255