Prof Elfindri

Prof Elfindri

Share

09/04/2026

Logika Busuk dan Munafik Barat

Elfindri, Unand

Sains tanpa agama akan jadi buta, Agama tanpa ilmu adalah lumpuh. Sehingga kedua-duanya mesti dipahami sejalan dan seiring, agar apa yang dikuasai, didukung tuntunan Alquran dan hadis Nabi kita. Baru itu pedoman hidup yang pas.

Mari kita lihat bagaimana Barat, yang mengklaim mereka berilmu tetapi buta. Begitu terjadinya pemblokiran bantuan apapun namanya ke negara Palestina oleh Israel, hampir semua negara yang mendukung Israel, Amerika dan sekutu sekutunya tidak berkutik, dan membiarkan masyarakat Palestina mati kelaparan, semua pintu masuk untuk membawa berbagai bantuan pangan, obat obatan, dan tenaga tertutup dan tidak mudah untuk dimasuki.

Sekarang hal yang sama diberlakukan oleh Iran, sepertinya selat Hormutz, yang begitu strategis, juga diblokir Iran, yang membuat lalu lintas kapal pasokan minyak dari negara-negara teluk yang berafiliasi ke Amerika, ke negara-negara yang membutuhkan di dunia menjadi lumpuh.

Amerika Serikat meminta agar pemblokiran itu segera dibuka. Terus Palestina (termasuk Iran, dan Cuba) mereka blokir seolah olah Amerika Serikat tidak bersalah.

Bagi saya ini ilmu tanpa agama memang buta, itulah banyak melanda negara maju Amerika Serikat dan sekutunya saat ini. Termasuk banyak yang menimba ilmu akibat penanaman nilai-nilai egoisme yang salah.

Mana mau Iran membuka pemblokiran itu, karena Iran merasa di atas angin, perang di selat Hormutz siapa saja yang mendekat melintasi, satu persatu akan hancur dibidik oleh pas**an bersenjatanya. Mereka siap dengan berbagai alternatif yang terjadi saat sekarang.

Tidak terkecuali Indonesia, ketika penahanan 2 kapal tanker yang membawa minyak, harus lama antri terlebih dahulu, apakah sudah dibebaskan? Tentu tidak semudah kapal yang berasal dari Malaysia, yang tegas-tegas pemerintahan mereka, di bawah Anwar Ibrahim, mendukung Iran.

Akibatnya, perang dengan "enclave strategy" sama-sama menghasilkan dampak negatif yang tidak kecil. Palestina yang merasakan begitu pahitnya isolasi dengan penutupan pintu masuk bantuan, sementara selat Hormutz juga dirasakan justru negara-negara yang pro Barat saat ini sedang "terkurung di luar". Harga BBM menaik, dan negara negara yang memerlukan BBM dari negara teluk sedang mengalami guncangan hebat ekonominya.

Kembalilah Ke Alquran

Ali Khamenei, presiden Iran sebelumnya beliau telah mengumpulkan anak muda yang masuk baligh, memasuki usia dewasa. Presiden yang sederhana, disegani, dan selalu membaca Alquran dan terbiasa jadi Imam.

Berbeda dengan pimpinan di negara yang mayoritas Islam, beliau memberikan nasihat kepada generasi muda agar dekat dengan Alquran dan Hadis, karena Alquran lah pegangan hidup, untuk bisa hidup selamat di dunia dan akhirat.

Nasihat nasihat yang beliau berikan yang membuat anak-anak muda Iran terkesan, selain mereka memang memiliki ketekunan dalam menguasai iptek mandiri, nampak bahwa kepercayaan diri mereka muncul, semangat membara dalam bernegara, jadi pantas kita mengacungkan jempol, negara seperti ini bisa lebih mudah untuk mensejahterakan rakyatnya, ketimbang negara kapitalis atau sosialis, yang sama-sama memburu kehidupan di dunia.

Negara negara yang menghandalkan logika, berdiri di atas demokrasi bayangan, itupun banyak dalam prakteknya berbeda dengan logika yang benar menurut ilmu dan Agama. Kenapa? Karena logikanya tidak sejalan dengan hati dan perasaan.

Perasaan yang sudah terkunci dengan sifat iblis, menjadikan banyak bangsa bangsa kaya tapi hampa. Itulah dunia, panggung sandiwara.

Menelusuri Jagoan Minang Yang Beraksi - Universitas Andalas 24/03/2026

Menelusuri Jagoan Minang Yang Beraksi

Elfindri, Unand

Bukan orang Minang di grup atau pada meeting seminar untuk tinggal diam. Mereka terbiasa untuk mengkritik siapapun saja, kendatipun itu pimpinan daerah, tokoh adat dan presiden sekalipun. Pokoknya apa saja masalah yang didiskusikan akan ramai, saling sahut menyahut.

Masing-masing akan mengungkap pemahaman mereka dalam masalah Sumatra Barat sendiri. Yang sangat heboh dibicarakan di daerah sendiri berkaitan dengan rendahnya kinerja ekonomi Sumatra Barat, masalah tidak majunya sektor Parwisata, memudarnya peranan ninik mamak, LGBT, serta masalah sosial yang kompleks.

Sementara pembahasan yang juga menarik berkaitan dengan program nasional MBG, masalah energi sampai politik luar negeri.

Jadi jangan khawatir, bahwa sikap egaliter masyarakat yang berdiskusi tumbuh dan berkembang jadi ajang tukar fikiran.

Banyak yang ikut atas dasar "common sense" saja, alian asal berbicara, kelompok yang sering diistilahkan sebagai Kelompok "Tan Baro". Tidak sedikit juga ditemukan diskusi terkesan nilai akademiknya tinggi, lengkap dengan data dan argumentasi yang sulit dipatahkan.

Diskusi mirip rapat "mancik", sasarannya saling mengklaim "ambo labiah tau". Masing masing orang memperlihatkan eksistensi diri masing-masing.

Gagasan dan pandangan itu juga terlihat jika dalam adanya forum pertemuan. Tidak jarang kesempatan untuk bertanya atau memberikan pandangan bisa habis waktu, dan inti masalah tidak terbahas sampai tuntas.

Tipologi orang Minang juga setelah selesai, jarang yang menindaklanjutinya dengan aksi-aksi atau gerakan penerobos untuk atasi masalah.

Salah satu yang menonjol adalah membahas masalah ekonomi dan sosial kampung masing-masing.

Biasa semangatnya tinggi dan berapi-api, waktu pilang basamo, waktu rapat nagari, rapat pembahasan rencana kerja, kemudian ketika mengarah pada aksi nyata untuk menumbuhkan aktifitas ekonomi, kebanyakan lebih banyak ambil posisi diam, sulit menemukan mereka yang konsisten antara ucapan, pemikiran dan tindakan. Unsur tindakan ini menjadi lemah bagi kita kebanyakan orang Minang.

Betapa ridak, diskusi tentang memajukan Semen Padang sejak saya sebagai mahasiswa ekonomi sudah tamat rasanya, ternyata tak ketemu inovasi baru bagaimana memajukan Semen Padang itu sendiri sampai sekarang. Banyak yang mengipas sate orang lain, sate sendiri tidak dikipas sampai dagingnya siap untuk disantap.

Demikian juga masalah pengembangan pelabuhan Teluk Bayur. Tidak terkecuali masalah infrastruktur jalan, macetnya di ruas Padang Luar Bukittinggi dan Koto Baru menuju Padang Panjang, sudah 5 Gubernur tak jelas langkah yang akan diambil. Sehingga yang namanya macet selama lebaran berulang semenjak tahun 1980 lagi sampai sekarang.

Tidak terkecuali masalah pertanian, peternakan dan kelautan, hampir kita saksikan saban hari, kemajuan pertanian kita masih pada level dari mencangkul ke traktor mini. Belum secepat Thailand kemajuan pertaniannya.

Lemahnya di Tindakan

Kenapa banyak hasil diskusi yang bernas jarang yang berujung pada aksi untuk menindaklanjutinya?

Besar dugaan pada berbagai faktor. Pertama kebanyakan orang Minang proses tumbuh dan berkembangnya mengarah pada teknokrat. Bagi kelompok ini biasa ilmunya maju, namun miskin dari segi pengalaman lapangan, bisa jadi minim terlibat dalam dunia nyata selama sekolah, biasa kelompok begini idenya bagus-bagus, namun implementasinya tak jalan.

Kelompok kedua tidak teknokrat, namun lebih matang karena pengalaman, dan perjuangan hidup. Kelompok ini tidaklah terlalu tinggi akademiknya, bahkan banyak juga yang sekolah rendah. Mereka lebih banyak dari kalangan pengusaha. Namun mereka mereka ini justru lebih menukik segala saran dan inisiatifnya. Lebih nampak lekat tangannya.

Anehnya juga, kelompok teknokrat, baik yang aktif maupun yang pensiun cukup banyak perhatian ke kampung halaman, walau tidak sedikit p**a yang menjadi urang Sumando Kacang Miang. Boro-boro akan memberikan saran dan tindakan untuk kampung, justru memposisikan diri sebagai orang luar seolah olah benci dengan kampung halaman. Kita tidak tahu penyebabnya kenapa ditemukan fenomena begini.

Demikian juga kalangan pengusaha, justru juga banyak yang membangun kampung tanpa pamrih, sebaliknya ogah membantu kampung. Bisa karena pengalaman buruk sering dikecewakan, atau pandangan mereka "beyond reached", adaptasi yang tidak mudah dengan kurenah orang kampung.

Dalam kaitan ini, maka upaya upaya yang sering kita dengar menautkan Ranah Rantau, tidaklah mudah. Karena begitu diajak membangun kampung, maka berakhir dengan gagasan. Tanpa tindakan.

Sebaiknya, melibatkan mereka yang teknokrat bersemangat, serta pengusaha yang mau berbuat untuk kampung dua perpaduan ini akan menjadi kelompok modal baru dalam memajukan kampung halaman. Selain mereka potensi, pengalaman dan tindakan akan menutup sebagian besar warga Minang yang gadang Ota namun minim tindakan.

Tidaklah perlu banyak jumlah orang-orang yang perlu dirangkul, namun tentu dengan segala upaya, agar mereka yang kembali mau mengabdikan diri ke Kampung halaman merasa nyaman, dan merasa dihargai, mirip dengan postulasi Teori Abraham Maslow, orang ingin berbuat karena masih ingin dihargai.

Menelusuri Jagoan Minang Yang Beraksi - Universitas Andalas Menelusuri Jagoan Minang Yang Beraksi

05/02/2026

Kejujuran Mutlak Dalam Sistem Bagi Hasil

Elfindri, Unand

Kali ini kami ingin menarasikan bahwa sistem bagi hasil dalam usaha yang disepakati memerlukan beberapa hal. Selain akad yang jelas, masing masing yang berakad mesti jujur melaksanakan amanah kerjasama.

Kenapa ini penting? Karena banyak dalam kenyataan sehari-hari dari sisi epistemologi empiris masalah di desa-desa, bertetangga, berkampung, berkeluarga, sering usaha kerjasama berujung pada pelanggaran norma agama, karena salah satu tidak jujur, salah satu pihak melanggar akad yang sudah disepakati.

Kenyataan demikian sangat sering terjadi pada usaha-usaha penggunaan lahan pertanian, semisal tanaman muda (padi, pisang, dan sejenisnya) atau tanaman tua (durian, manggis, dan sejenisnya). Termasuk usaha kerjasama peternakan sapi, kambing atau unggas seperti ayam dan itik.

Pelanggaran sering terjadi karena salah satu pihak, misalnya mereka yang tidak punya harta diizinkan untuk menggarap sebidang lahan. Sering tanpa diketahui pemilik lahan karena berbagai alasan lahan ditanami dengan tanaman tua yang menghasilkan.

Banyak fenomena yang terjadi, ketika menanam pisang di lahan orang lain, bukanlah menjadi milik yang menanam, untuk selamanya. Hasilnya mesti dibagi sesuai dengan akad atau norma yang berlaku di masing-masing daerah. Pisang yang ditanam, sebenarnya ketika berbuah penggarap mesti menyerahkan nilai sesuai dengan kesepakatan, misalnya separo.

Jika ini tidak dindahkan, ketika masa panen dan digunakan sendiri hasilnya, maka praktek ini mesti dikoreksi segera, karena penggarap akan terjebak memakan barang yang tidak menjadi haknya.

Demikian juga ketika lahan garapan ditanam dengan tanaman tua. Banyak kasus tanaman Durian dikuasai oleh penggarap, padahal tanaman ditanam pada tanah milik orang lain.

Sering panen hasilnya dimakan sendiri oleh penggarap, dan bagi hasil pemilik sering terabaikan.

Demikian juga praktek kerjasama pemeliharaan peternakan. Sistem pasaduoan, sebenarnya merupakan cara Islami, karena saling melakukan aqad dan sesuai kedua belah pihak.

Namun dalam perjalanan waktu sangat sedikit pihak pelaksana peternakan yang berakhir dengan bagi hasil sesuai dengan akad.

Sering Sapi yang sudah dikelola, dijual dengan berbagai alasan, Sapinya kurus, sakit, dan sebagainya. Sehingga nilai jual sering tidak dikeluarkan berapa yang menjadi hak masing-masing.

Kenyataan kasus pada pesaduoan Sapi, Kambing, Unggas, dan sejenisnya sering berakhir melanggar akad yang sah menurut hukum syar'i, atau norma yang biasa berlaku.

Kenapa? Karena yang menerima amanah tidak jujur, mencampur adukan antara hak dan batil , tidak menghiraukan bahwa dalam kerjasama beruntung sama dibagi, dan rugi sama ditanggung.

Mungkin kita perlu menelusuri, kenapa masalah kemiskinan selalu sulit untuk diselesaikan, karena sebagian besar masyarakat miskin tidak amanah dalam melaksanakan sistem kerjasama usaha. Mereka sering tidak jujur dan tidak memegang teguh akad yang diperbuat.

Selain dari itu besar pasak dari tiang, dimana pengelola memerlukan keperluan mendesak baik untuk konsumsi, investasi anak, atau untuk keperluan pesta, dan strategi yang sering diambil adalah memakai, amanah kerjasama pengelolaan usaha.

Kita perlu lebih intensif lagi membenahi masalah ini, khususnya lewat komunikasi pengajian di masjid masjid. Bahwa aqad dalam kerjasama usaha mesti jelas, mesti patuh memenuhi aqad ketika kerjasama sudah berakhir. Jika tidak, kita akan terjebak memakan uang yang tidak semestinya kita pakai.

Akhirnya upaya seperti ini akan memperbaiki anomali dalam kerjasama usaha, usahanya sudah banyak tapi hasilnya tidak jelas.

08/01/2026

TransTap Model China

Elfindri, Unand

Dari berbagai literatur yang kami baca, salah satu keberhasilan China dalam menurunkan kemiskinan melalui program TransTap, Transmigrasi Tetap.

Program Transmigrasi tetap ditawarkan pada rumah tangga yang kondisi geografis lingkungannya tidak layak dari berbagai perspektive, ekonomi, lingkungan, maupun sosial.

Tidak layaknya bisa karena lokasi tempat tinggal dimana aksesibilitas pemukiman ke pusat layanan publik terlalu jauh, jalan berbahaya untuk ditempuh, kondisi kemiringan tempat tinggal yang tidak layak, daerah risiko bencana (banjir, longsor, belakangan juga daerah merah akibat gempa bumi). Wilayah wilayah seperti ini masih banyak dihuni oleh penduduk tempatan, jauh hari dulu turun temurun dari nenek moyang mereka.

Keluarga seperti ini dinyatakan sebagai calon "forced transmigration" dalam dua dimensi perubahan. Pertama perubahan tempat tinggal berupa dipindahkannya keluarga ke daerah "bentukan baru" dan daerah baru dinyatakan sebagai hunian tetap, yang relatif tersedia segala fasilitas piblik, pasar, sekolah, sarana kesehatan.

Kedua keluarga juga mengalami mobilitas sosial, berupa pekerjaan baru "displacement job" yang dirancang sedemekian rupa sehingga mereka bisa hidup melalui pekerjaan yang mirip mirip berdekatan dengan sebelumnya atau disiapkan jenis pekerjaan lain di lokasi baru.

Di Malaysia, lewat Federal Land Administration Development Agencies (FELDA) prosesnya melalui program Perkebunan, dimana masyarakat tempatan dapat pindah ke daerah perkebunan yang mendekati siap panen, sementara pembentukan areal perkebunan disiapkan oleh FELDA, melalui skema pembiayaan hutang.

Ketika masyatakat telah tinggal di perkebunan, mereka bisa menyelesaikan pembayaran cicilan dari hasil Kebun yang sudah terbentuk.

Untuk wilayah Sumatra, saya fikir kedua konsep ini bisa dikerjakan melalui inisiatif rekonstruksi. Khusus pada rumah tangga terdampak banjir dan galodo, atau masyarakat yang tinggal di daerah yang secara ekonomis, lingkungan dan sosial tidak feasible untuk ditempati, maka mereka bisa ditawarkan program semacam ini.

Selain mengembangkan daerah baru, diharapkan keluarga miskin terdampak dari bencana November-Desember 2025 akan lebih besar kemungkinan berhasil di daerah baru. Jika tidak tentu mereka menjadi calon rumah tangga miskin baru yang sulit untuk keluar dari jeratan kemiskinan struktural.

Desain ini kita minta segera dibuatkan oleh pemerintah daerah masing-masing, sambil menyesuaikan dengan tetap melanjutkan pembangunan infrastruktur yang rusak. Kemudian konsolidasinya dibicarakan dengan kementrian terkait, kementrian transmigrasi, perumahan, bappenas, pendidikan dan kesehatan. Segera dilakukan mumpung bencana masih terasa dekat, jika tidak maka nanti lupa dan perhatian pindah pada masalah lain.

Want your public figure to be the top-listed Public Figure in Padang?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Website

Address

Padang
25139

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00